FITNESS & HEALTH
Apakah Perasaan Sabar Punya Manfaat Secara Psikologi dan Kesehatan?
Yatin Suleha
Kamis 15 Desember 2022 / 16:05
Jakarta: Mendengar orang berkata "sabar" membuat kita jadi berpikir, bahwa arti dari kata sabar tersebut punya arti yang sangat luas.
Dilansir dari Indopositive bahwa secara etimologi berasa dari bahasa Arab yang memiliki makna tidak tergesa-gesa, tidak membalas, menunggu dengan tenang.
Nyatanya rasa sabar ini juga berpengaruh pada psikologi dan kesehatan kita lho! Seperti dipaparkan dalam Reader's Digest bahwa melakukan aksi sabar punya beberapa manfaat baik bagi psikologi maupun tubuh kita.
Jadi, apa saja manfaat dari rasa sabar tersebut?

(Sifat kurang sabar akan menyebabkan tegangan otot lebih besar, napas lebih cepat, serta mudah sekali marah. Untuk itu coba lakukan beberapa hal sederhana agar kamu merasa lebih tenang, salah satunya menarik napas dalam-dalam lalu buang. Foto: Ilustrasi/Dok. Freepik.com)
Christopher Lootens, PhD, yang merupakan pengajar psikologis klinis di High Point University di North Carolina, Amerika mengatakan bahwa kamu akan merasa tenang saat kamu sabar.
Ia mengatakan bahwa efek dari ketidaksabaran bisa menyebabkan kesulitan bernapas, meningkan tensi otot, kekesalan baik secara verbal serta nonverbal, dan lainnya.
Ia menyarankan untuk menjalankan metode sikap "terbalik" saat kamu sedang kesal. "Ini termasuk teknik relaksasi seperti menarik napas dalam, relaksasi otot, atau dengan cara yang sedikit aneh yaitu membayangkan hal-hal yang menyenangkan saja," ujar Dr Lootens.
"Secara umum, orang dengan kepribadian dan tipe orang yang mudah marah serta mendendam merupakan kalangan orang dengan tipe yang diindikasikan secara signifikan mudah terkena risiko penyakit jantung," ujar Dr Christopher Lootens.
"Ada baiknya kamu mulai belajar meningkatkan rasa sabar dalam diri untuk menurunkan risiko tersebut. Dan itu baik bagi jantungmu," tambah Dr Lootens.
Ketika kamu bersabar, ini menaikkan empatimu. "Kamu belajar toleransi, dan bisa mengerti lebih baik tentang perasaan orang lain. Dan tentu saja ini merupakan hal yang baik," ucap Kimberly Hershenson, terapis perilaku kognitif yang bertempat tinggal di New York, Amerika.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Dilansir dari Indopositive bahwa secara etimologi berasa dari bahasa Arab yang memiliki makna tidak tergesa-gesa, tidak membalas, menunggu dengan tenang.
Nyatanya rasa sabar ini juga berpengaruh pada psikologi dan kesehatan kita lho! Seperti dipaparkan dalam Reader's Digest bahwa melakukan aksi sabar punya beberapa manfaat baik bagi psikologi maupun tubuh kita.
Jadi, apa saja manfaat dari rasa sabar tersebut?

(Sifat kurang sabar akan menyebabkan tegangan otot lebih besar, napas lebih cepat, serta mudah sekali marah. Untuk itu coba lakukan beberapa hal sederhana agar kamu merasa lebih tenang, salah satunya menarik napas dalam-dalam lalu buang. Foto: Ilustrasi/Dok. Freepik.com)
1. Tubuh merasa tenang
Christopher Lootens, PhD, yang merupakan pengajar psikologis klinis di High Point University di North Carolina, Amerika mengatakan bahwa kamu akan merasa tenang saat kamu sabar.
Ia mengatakan bahwa efek dari ketidaksabaran bisa menyebabkan kesulitan bernapas, meningkan tensi otot, kekesalan baik secara verbal serta nonverbal, dan lainnya.
Ia menyarankan untuk menjalankan metode sikap "terbalik" saat kamu sedang kesal. "Ini termasuk teknik relaksasi seperti menarik napas dalam, relaksasi otot, atau dengan cara yang sedikit aneh yaitu membayangkan hal-hal yang menyenangkan saja," ujar Dr Lootens.
2. Baik untuk jantung
"Secara umum, orang dengan kepribadian dan tipe orang yang mudah marah serta mendendam merupakan kalangan orang dengan tipe yang diindikasikan secara signifikan mudah terkena risiko penyakit jantung," ujar Dr Christopher Lootens.
"Ada baiknya kamu mulai belajar meningkatkan rasa sabar dalam diri untuk menurunkan risiko tersebut. Dan itu baik bagi jantungmu," tambah Dr Lootens.
3. Meningkatkan empati
Ketika kamu bersabar, ini menaikkan empatimu. "Kamu belajar toleransi, dan bisa mengerti lebih baik tentang perasaan orang lain. Dan tentu saja ini merupakan hal yang baik," ucap Kimberly Hershenson, terapis perilaku kognitif yang bertempat tinggal di New York, Amerika.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)