Jakarta: Dalam dunia psikiatri modern, salah satu sumber utama kecemasan dan stres adalah ketidakmampuan manusia dalam mengelola ego atau nafsu. Menariknya, 700 tahun yang lalu, Jalaluddin Rumi telah merancang sebuah sistem manajemen emosi yang luar biasa melalui simbolisme tarian berputar (Whirling Dervishes).
Dalam public talk bersama Prof. Dr. Nevzat Tarhan bertajuk “Between Brain and Soul: A Psychiatrist’s Perspective on Tasawuf and Mental Health”, terungkap bahwa setiap atribut yang dikenakan oleh para penari Rumi bukan sekadar hiasan, melainkan alat bantu psikologis untuk mencapai "kematian ego" demi kesehatan mental yang lebih stabil.
"Setiap atribut yang dikenakan oleh para penari Rumi bukan sekadar hiasan, melainkan alat bantu psikologis untuk mencapai 'kematian ego' demi kesehatan mental yang lebih stabil,” ujar Prof. Dr. Nevzat Tarhan.
Sikke: "Batu Nisan" bagi Kesombongan
Atribut yang paling mencolok dalam tarian ini adalah Sikke, topi tinggi berwarna cokelat yang dikenakan para darwis. Secara simbolis, Sikke merepresentasikan batu nisan.
Dalam perspektif psikologi, mengenakan "batu nisan" di kepala adalah pengingat konstan akan kefanaan. Prof. Tarhan menjelaskan bahwa dengan menyadari kematian, manusia secara otomatis akan menekan sifat narsisme dan kesombongannya. Ketika ego (aku) mengecil, beban mental akibat ekspektasi duniawi pun ikut berkurang.
Prosesi Melepaskan Jubah: Katarsis Jiwa
Sebelum memulai tarian, para penari mengenakan jubah hitam besar. Jubah ini melambangkan alam kubur atau kegelapan nafsu duniawi. Saat tarian akan dimulai, jubah hitam dilepaskan. Ini adalah simbol penyucian jiwa dan kesiapan untuk meninggalkan keterikatan materi.
Di balik jubah hitam, terdapat jubah putih yang melambangkan kain kafan. Ini menandakan bahwa sang penari telah "mati" sebelum mati yang artinya, ia telah mematikan keinginan pribadinya demi kehendak Tuhan.
Baca Juga :
Sains di Balik Tarian Rumi: Bagaimana Ritual Sufi Mempengaruhi Otak dan Kebahagiaan
Ikat Pinggang Hitam: Kendali Atas Nafsu
Simbol lain yang tak kalah penting adalah ikat pinggang hitam yang melingkar kuat di pinggang penari. Dalam konteks psikiatri, ini adalah bentuk manajemen emosi. Ikat pinggang ini melambangkan komitmen untuk "mengikat" atau mengendalikan nafsu agar tidak liar dan merusak diri sendiri.
Prof. Tarhan menekankan bahwa manusia yang sehat mentalnya adalah mereka yang mampu mendidik nafsunya, bukan mereka yang diperbudak oleh keinginannya.
Empat Tahap Menuju "Nihilnya Ego"
Untuk mencapai kesehatan mental yang paripurna melalui jalan Tasawuf ini, terdapat empat tahapan transformasi yang dilalui:
Menuntut Ilmu: Berusaha memahami hakikat kebenaran.
Cinta kepada Allah: Mengarahkan kasih sayang pada sumber yang abadi.
Cinta Hakiki: Merasakan kehadiran Tuhan dalam segala hal.
Meleburkan Diri: Tahap di mana ego benar-benar nihil, sehingga yang tersisa hanyalah pengabdian dan kedamaian.
Simbolisme Rumi mengajarkan kita bahwa kesehatan mental dimulai dari keberanian untuk mengakui bahwa ego seringkali menjadi penjara bagi diri sendiri. Dengan mengenakan "Sikke" di pikiran kita yakni kerendahhatian dan kesadaran akan keterbatasan kita justru akan menemukan kebebasan dan kebahagiaan yang autentik.
(Fany Wirda Putri)
Jakarta: Dalam dunia psikiatri modern, salah satu sumber utama kecemasan dan stres adalah ketidakmampuan manusia dalam mengelola ego atau nafsu. Menariknya, 700 tahun yang lalu, Jalaluddin Rumi telah merancang sebuah sistem
manajemen emosi yang luar biasa melalui simbolisme tarian berputar (Whirling Dervishes).
Dalam public talk bersama Prof. Dr. Nevzat Tarhan bertajuk “Between Brain and Soul: A Psychiatrist’s Perspective on Tasawuf and Mental Health”, terungkap bahwa setiap atribut yang dikenakan oleh para penari Rumi bukan sekadar hiasan, melainkan alat bantu psikologis untuk mencapai "kematian ego" demi kesehatan mental yang lebih stabil.
"Setiap atribut yang dikenakan oleh para penari Rumi bukan sekadar hiasan, melainkan alat bantu psikologis untuk mencapai 'kematian ego' demi kesehatan mental yang lebih stabil,” ujar Prof. Dr. Nevzat Tarhan.
Sikke: "Batu Nisan" bagi Kesombongan
Atribut yang paling mencolok dalam tarian ini adalah Sikke, topi tinggi berwarna cokelat yang dikenakan para darwis. Secara simbolis, Sikke merepresentasikan batu nisan.
Dalam perspektif psikologi, mengenakan "batu nisan" di kepala adalah pengingat konstan akan kefanaan. Prof. Tarhan menjelaskan bahwa dengan menyadari kematian, manusia secara otomatis akan menekan sifat narsisme dan kesombongannya. Ketika ego (aku) mengecil, beban mental akibat ekspektasi duniawi pun ikut berkurang.
Prosesi Melepaskan Jubah: Katarsis Jiwa
Sebelum memulai tarian, para penari mengenakan jubah hitam besar. Jubah ini melambangkan alam kubur atau kegelapan nafsu duniawi. Saat tarian akan dimulai, jubah hitam dilepaskan. Ini adalah simbol penyucian jiwa dan kesiapan untuk meninggalkan keterikatan materi.
Di balik jubah hitam, terdapat jubah putih yang melambangkan kain kafan. Ini menandakan bahwa sang penari telah "mati" sebelum mati yang artinya, ia telah mematikan keinginan pribadinya demi kehendak Tuhan.
Ikat Pinggang Hitam: Kendali Atas Nafsu
Simbol lain yang tak kalah penting adalah ikat pinggang hitam yang melingkar kuat di pinggang penari. Dalam konteks psikiatri, ini adalah bentuk manajemen emosi. Ikat pinggang ini melambangkan komitmen untuk "mengikat" atau mengendalikan nafsu agar tidak liar dan merusak diri sendiri.
Prof. Tarhan menekankan bahwa manusia yang sehat mentalnya adalah mereka yang mampu mendidik nafsunya, bukan mereka yang diperbudak oleh keinginannya.
Empat Tahap Menuju "Nihilnya Ego"
Untuk mencapai kesehatan mental yang paripurna melalui jalan Tasawuf ini, terdapat empat tahapan transformasi yang dilalui:
Menuntut Ilmu: Berusaha memahami hakikat kebenaran.
Cinta kepada Allah: Mengarahkan kasih sayang pada sumber yang abadi.
Cinta Hakiki: Merasakan kehadiran Tuhan dalam segala hal.
Meleburkan Diri: Tahap di mana ego benar-benar nihil, sehingga yang tersisa hanyalah pengabdian dan kedamaian.
Simbolisme Rumi mengajarkan kita bahwa kesehatan mental dimulai dari keberanian untuk mengakui bahwa ego seringkali menjadi penjara bagi diri sendiri. Dengan mengenakan "Sikke" di pikiran kita yakni kerendahhatian dan kesadaran akan keterbatasan kita justru akan menemukan kebebasan dan kebahagiaan yang autentik.
(
Fany Wirda Putri)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RUL)