- Anak usia balita dan prasekolah memang dikenal sebagai fase dengan emosi yang besar.
- Perilaku seperti ini sering membuat khawatir.
- Mereka menjelajahi dunia di sekitar mereka dengan mulut.
Jakarta: Anak usia balita dan prasekolah memang dikenal sebagai fase dengan emosi yang besar, meskipun tubuh mereka masih kecil. Di usia ini, kemampuan untuk mengelola emosi, menyampaikan perasaan, memahami orang lain, hingga menyelesaikan konflik masih dalam tahap belajar.
Tidak heran jika kadang terlihat perilaku, seperti memukul saudara atau menggigit teman saat bermain, misalnya ketika tidak mau berbagi atau permainan tidak berjalan sesuai keinginan.
Perilaku seperti ini sering membuat khawatir, tetapi sebenarnya cukup umum terjadi. Tindakan agresif pada anak kecil biasanya bukan karena niat jahat, melainkan bagian dari proses perkembangan.
Banyak anak belum memiliki kemampuan bahasa yang cukup, kontrol emosi yang matang, maupun kemampuan mengendalikan impuls. Akibatnya, mereka mengekspresikan perasaan dengan cara fisik seperti memukul atau menggigit.
Balita dan anak prasekolah sering bertingkah, karena sedang belajar tentang aturan sosial sekaligus mencoba memahami batasan yang ada.
“Menggigit umum terjadi karena balita berada pada tahap oral, mereka menjelajahi dunia di sekitar mereka dengan mulut,” jelas Patricia Mikell, wakil direktur Graham Windham Manhattan Mental Health Center dan terapis anak di New York City.
Selain itu, terkadang kebiasaan menggigit bisa dipicu secara tidak sengaja oleh lingkungan, seperti candaan orang dewasa yang memberikan gigitan kecil, dan mungkin anak juga mulai menunjukkan kemandirian.
“Balita juga sedang mengekspresikan kemandirian mereka, dan beberapa anak mengekspresikan kemauan keras mereka dengan memukul orang lain,” tambahnya.
Banyak anak melakukan hal ini, karena sifat impulsif yang masih tinggi serta kesulitan dalam mengatur emosi.
Ada juga kemungkinan anak memukul atau menggigit, hanya karena ingin mencoba kemampuan baru tersebut. Ditambah lagi, setiap anak memiliki temperamen yang berbeda, ada yang lebih mudah marah dibanding yang lain.
Reaksi dari lingkungan juga berperan. Ketika anak memukul atau menggigit lalu mendapatkan perhatian, baik itu teguran, tawa, atau bahkan mendapatkan mainan yang diinginkan, perilaku tersebut bisa terus terulang. Hal ini karena anak merasa tindakannya memberikan hasil. Meski begitu, perilaku ini tetap bisa diperbaiki dengan menetapkan batasan yang jelas dan konsisten.
Perilaku agresif lebih sering muncul ketika anak berada di lingkungan kelompok, seperti tempat penitipan anak atau taman kanak-kanak. Hal ini karena interaksi sosial, yang intens membuat konflik lebih mudah terjadi.
Kurt Fischer, Ph.D., seorang profesor pengembangan manusia di Harvard Graduate School of Education, di Cambridge, Massachusetts, menjelaskan bahwa perselisihan sederhana, seperti berebut mainan, bisa dengan cepat berubah menjadi konflik fisik.
“Jika anak-anak kecil sering berinteraksi, seperti di day care atau taman kanak-kanak, memukul dan menggigit menjadi keterampilan sosial dan bagian dari insting bertahan hidup mereka,” jelasnya.
"Para peneliti mengatakan perundungan melibatkan kejahatan, yang disengaja yang secara berulang menargetkan anak tertentu seiring waktu, dan harus ada perbedaan kekuatan antara anak yang melakukan perundungan dan anak yang menjadi sasaran. Jika tidak ada perbedaan kekuasaan, maka itu kemungkinan besar hanya konflik, bukan perundungan," kata Eileen Kennedy-Moore, Ph.D., penulis buku Growing Friendships.
"Anak-anak kecil juga belum mampu memahami niat orang lain dengan baik. Selain itu, anak-anak kecil belum terlalu pandai membedakan apakah perilaku teman mereka disengaja atau tidak, dan mereka cenderung bersikeras bahwa setiap tindakan yang tidak mereka sukai dilakukan ‘dengan sengaja,’” jelas dr. Kennedy-Moore.
Cara berpikir seperti ini sering membuat anak merasa disakiti, meskipun sebenarnya hanya terjadi kesalahpahaman. Perasaan kesal yang bercampur dengan emosi yang belum stabil, akhirnya memicu reaksi berlebihan, seperti memukul atau menggigit.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Tidak heran jika kadang terlihat perilaku, seperti memukul saudara atau menggigit teman saat bermain, misalnya ketika tidak mau berbagi atau permainan tidak berjalan sesuai keinginan.
Perilaku seperti ini sering membuat khawatir, tetapi sebenarnya cukup umum terjadi. Tindakan agresif pada anak kecil biasanya bukan karena niat jahat, melainkan bagian dari proses perkembangan.
Banyak anak belum memiliki kemampuan bahasa yang cukup, kontrol emosi yang matang, maupun kemampuan mengendalikan impuls. Akibatnya, mereka mengekspresikan perasaan dengan cara fisik seperti memukul atau menggigit.
Mengapa anak kecil bisa bertingkah seperti itu?
Balita dan anak prasekolah sering bertingkah, karena sedang belajar tentang aturan sosial sekaligus mencoba memahami batasan yang ada.
“Menggigit umum terjadi karena balita berada pada tahap oral, mereka menjelajahi dunia di sekitar mereka dengan mulut,” jelas Patricia Mikell, wakil direktur Graham Windham Manhattan Mental Health Center dan terapis anak di New York City.
Selain itu, terkadang kebiasaan menggigit bisa dipicu secara tidak sengaja oleh lingkungan, seperti candaan orang dewasa yang memberikan gigitan kecil, dan mungkin anak juga mulai menunjukkan kemandirian.
“Balita juga sedang mengekspresikan kemandirian mereka, dan beberapa anak mengekspresikan kemauan keras mereka dengan memukul orang lain,” tambahnya.
Banyak anak melakukan hal ini, karena sifat impulsif yang masih tinggi serta kesulitan dalam mengatur emosi.
Ada juga kemungkinan anak memukul atau menggigit, hanya karena ingin mencoba kemampuan baru tersebut. Ditambah lagi, setiap anak memiliki temperamen yang berbeda, ada yang lebih mudah marah dibanding yang lain.
Reaksi dari lingkungan juga berperan. Ketika anak memukul atau menggigit lalu mendapatkan perhatian, baik itu teguran, tawa, atau bahkan mendapatkan mainan yang diinginkan, perilaku tersebut bisa terus terulang. Hal ini karena anak merasa tindakannya memberikan hasil. Meski begitu, perilaku ini tetap bisa diperbaiki dengan menetapkan batasan yang jelas dan konsisten.
Apakah ini termasuk perilaku bullying?
Perilaku agresif lebih sering muncul ketika anak berada di lingkungan kelompok, seperti tempat penitipan anak atau taman kanak-kanak. Hal ini karena interaksi sosial, yang intens membuat konflik lebih mudah terjadi.
Kurt Fischer, Ph.D., seorang profesor pengembangan manusia di Harvard Graduate School of Education, di Cambridge, Massachusetts, menjelaskan bahwa perselisihan sederhana, seperti berebut mainan, bisa dengan cepat berubah menjadi konflik fisik.
“Jika anak-anak kecil sering berinteraksi, seperti di day care atau taman kanak-kanak, memukul dan menggigit menjadi keterampilan sosial dan bagian dari insting bertahan hidup mereka,” jelasnya.
"Para peneliti mengatakan perundungan melibatkan kejahatan, yang disengaja yang secara berulang menargetkan anak tertentu seiring waktu, dan harus ada perbedaan kekuatan antara anak yang melakukan perundungan dan anak yang menjadi sasaran. Jika tidak ada perbedaan kekuasaan, maka itu kemungkinan besar hanya konflik, bukan perundungan," kata Eileen Kennedy-Moore, Ph.D., penulis buku Growing Friendships.
"Anak-anak kecil juga belum mampu memahami niat orang lain dengan baik. Selain itu, anak-anak kecil belum terlalu pandai membedakan apakah perilaku teman mereka disengaja atau tidak, dan mereka cenderung bersikeras bahwa setiap tindakan yang tidak mereka sukai dilakukan ‘dengan sengaja,’” jelas dr. Kennedy-Moore.
Cara berpikir seperti ini sering membuat anak merasa disakiti, meskipun sebenarnya hanya terjadi kesalahpahaman. Perasaan kesal yang bercampur dengan emosi yang belum stabil, akhirnya memicu reaksi berlebihan, seperti memukul atau menggigit.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)