FITNESS & HEALTH
Clinical Research di Indonesia Masih Tertatih, Ini Tantangan Terbesarnya
A. Firdaus
Selasa 26 Mei 2026 / 19:05
- Hingga saat ini, kontribusi Indonesia dalam riset klinis di kawasan Asia Tenggara masih tergolong rendah dibanding negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.
- dr. Edy menyoroti besarnya potensi Indonesia untuk berkontribusi lebih besar dalam dunia riset klinis.
- Salah satu tantangan terbesar di Indonesia adalah keterbatasan jumlah dokter onkologi.
Jakarta: Perkembangan clinical research atau riset klinis di bidang kanker dinilai menjadi salah satu kunci penting dalam meningkatkan kualitas pengobatan pasien di Indonesia. Namun hingga saat ini, kontribusi Indonesia dalam riset klinis di kawasan Asia Tenggara masih tergolong rendah dibanding negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.
Hal tersebut menjadi sorotan dalam ajang The 6th Siloam Oncology Summit 2026 di Jakarta pada 22–24 Mei 2026, yang menghadirkan Executive Director MRCCC Siloam Semanggi Group, dr. Edy Gunawan, bersama Akhmal Yusof dari Clinical Research Malaysia.
Dalam diskusi tersebut, dr. Edy menyoroti besarnya potensi Indonesia untuk berkontribusi lebih besar dalam dunia riset klinis, terutama karena jumlah populasi yang jauh lebih besar dibanding negara-negara lain di Asia Tenggara.
Menurutnya, saat ini kontribusi riset klinis di Asia masih didominasi China. Sementara di kawasan Asia Tenggara, Singapura menjadi salah satu negara yang paling aktif mengembangkan clinical research.
“Bukan dalam konteks kompetisi atau saling mengalahkan, tetapi Indonesia dengan populasi 280 juta penduduk seharusnya bisa memberikan kontribusi yang lebih besar dibanding negara dengan populasi lebih kecil,” ujar dr. Edy.
Ia menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar di Indonesia adalah keterbatasan jumlah dokter onkologi. Jumlah pasien kanker yang terus meningkat membuat sebagian besar waktu dokter habis untuk praktik dan menangani pasien, sehingga ruang untuk melakukan penelitian menjadi sangat terbatas.
Padahal, menurut dr. Edy, clinical research membutuhkan fokus dan waktu yang tidak sedikit.
“Kalau belajar dari negara maju, mereka memiliki konsep protected time, yaitu waktu khusus yang diproteksi agar dokter bisa fokus melakukan research tanpa terganggu praktik klinis,” jelasnya.
Di negara maju, protected time untuk penelitian bahkan bisa mencapai 30 hingga 70 persen dari total waktu kerja dokter. Sistem tersebut membuat hampir seluruh dokter ikut aktif dalam penelitian klinis.
Selain keterbatasan tenaga medis, tantangan lain dalam pengembangan clinical trial di Indonesia adalah infrastruktur dan teknologi pendukung yang masih terbatas.
Clinical trial atau uji klinis umumnya membutuhkan pemeriksaan lanjutan dan teknologi diagnostik yang canggih. Namun di Indonesia, beberapa fasilitas tersebut masih belum tersedia secara merata atau memiliki biaya yang relatif tinggi.
“Kalau pun tersedia, karena resources-nya masih terbatas, biayanya lebih mahal dibanding negara lain. Dari sudut pandang perusahaan farmasi, mereka tentu akan memilih negara dengan biaya yang lebih affordable,” katanya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah sejak 2024 mulai membentuk Indonesian Clinical Research Community (INASIRC) guna mendorong penguatan unit riset klinis di berbagai rumah sakit.
Menurut dr. Edy, MRCCC Siloam Hospitals sendiri telah memulai pengembangan clinical research sejak 2021 dan terus memperkuat teknologi penunjang untuk mendukung penelitian kanker di Indonesia.
“Makanya kenapa MRCCC selalu menghadirkan teknologi baru. Ketika dibutuhkan pemeriksaan tertentu untuk clinical research, kita punya. Perlu testing tertentu, kita punya,” ujarnya.
Sementara itu, Clinical Research Malaysia dinilai menjadi salah satu contoh perkembangan riset klinis yang cukup pesat di Asia Tenggara dalam beberapa tahun terakhir.
Kolaborasi lintas negara dan penguatan fasilitas penelitian diharapkan dapat membuat Indonesia semakin siap menjadi bagian penting dalam pengembangan terapi kanker dan inovasi kesehatan global di masa depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Hal tersebut menjadi sorotan dalam ajang The 6th Siloam Oncology Summit 2026 di Jakarta pada 22–24 Mei 2026, yang menghadirkan Executive Director MRCCC Siloam Semanggi Group, dr. Edy Gunawan, bersama Akhmal Yusof dari Clinical Research Malaysia.
Dalam diskusi tersebut, dr. Edy menyoroti besarnya potensi Indonesia untuk berkontribusi lebih besar dalam dunia riset klinis, terutama karena jumlah populasi yang jauh lebih besar dibanding negara-negara lain di Asia Tenggara.
Menurutnya, saat ini kontribusi riset klinis di Asia masih didominasi China. Sementara di kawasan Asia Tenggara, Singapura menjadi salah satu negara yang paling aktif mengembangkan clinical research.
“Bukan dalam konteks kompetisi atau saling mengalahkan, tetapi Indonesia dengan populasi 280 juta penduduk seharusnya bisa memberikan kontribusi yang lebih besar dibanding negara dengan populasi lebih kecil,” ujar dr. Edy.
Ia menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar di Indonesia adalah keterbatasan jumlah dokter onkologi. Jumlah pasien kanker yang terus meningkat membuat sebagian besar waktu dokter habis untuk praktik dan menangani pasien, sehingga ruang untuk melakukan penelitian menjadi sangat terbatas.
Padahal, menurut dr. Edy, clinical research membutuhkan fokus dan waktu yang tidak sedikit.
“Kalau belajar dari negara maju, mereka memiliki konsep protected time, yaitu waktu khusus yang diproteksi agar dokter bisa fokus melakukan research tanpa terganggu praktik klinis,” jelasnya.
Di negara maju, protected time untuk penelitian bahkan bisa mencapai 30 hingga 70 persen dari total waktu kerja dokter. Sistem tersebut membuat hampir seluruh dokter ikut aktif dalam penelitian klinis.
Selain keterbatasan tenaga medis, tantangan lain dalam pengembangan clinical trial di Indonesia adalah infrastruktur dan teknologi pendukung yang masih terbatas.
Clinical trial atau uji klinis umumnya membutuhkan pemeriksaan lanjutan dan teknologi diagnostik yang canggih. Namun di Indonesia, beberapa fasilitas tersebut masih belum tersedia secara merata atau memiliki biaya yang relatif tinggi.
“Kalau pun tersedia, karena resources-nya masih terbatas, biayanya lebih mahal dibanding negara lain. Dari sudut pandang perusahaan farmasi, mereka tentu akan memilih negara dengan biaya yang lebih affordable,” katanya.
INASIRC demi penguatan unit riset klinis
Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah sejak 2024 mulai membentuk Indonesian Clinical Research Community (INASIRC) guna mendorong penguatan unit riset klinis di berbagai rumah sakit.
Menurut dr. Edy, MRCCC Siloam Hospitals sendiri telah memulai pengembangan clinical research sejak 2021 dan terus memperkuat teknologi penunjang untuk mendukung penelitian kanker di Indonesia.
“Makanya kenapa MRCCC selalu menghadirkan teknologi baru. Ketika dibutuhkan pemeriksaan tertentu untuk clinical research, kita punya. Perlu testing tertentu, kita punya,” ujarnya.
Sementara itu, Clinical Research Malaysia dinilai menjadi salah satu contoh perkembangan riset klinis yang cukup pesat di Asia Tenggara dalam beberapa tahun terakhir.
Kolaborasi lintas negara dan penguatan fasilitas penelitian diharapkan dapat membuat Indonesia semakin siap menjadi bagian penting dalam pengembangan terapi kanker dan inovasi kesehatan global di masa depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)