FITNESS & HEALTH

Data Halodoc Ungkap Masalah Kesehatan Karyawan Indonesia, ISPA Masih Jadi Juara

A. Firdaus
Jumat 17 Juli 2026 / 10:15
Ringkasnya gini..
  • Laporan tercatat pada ekosistem Halodoc for Business selama kuartal pertama 2026.
  • Banyak pekerja menunda berobat karena proses yang dianggap rumit.
  • Data menunjukkan layanan Digital Cashless Outpatient (DCO) mampu menangani 24 persen dari seluruh kasus kesehatan hanya dengan 8 persen dari total biaya kesehatan.
Jakarta: Biaya layanan kesehatan di Indonesia diproyeksikan terus meningkat pada 2026. Di tengah kondisi tersebut, akses layanan kesehatan yang mudah dinilai menjadi salah satu faktor penting untuk mencegah penyakit berkembang menjadi lebih serius sekaligus menekan biaya pengobatan.

Hal itu terungkap dalam laporan Indonesia Employee Health & Benefit Insights 2026 yang dirilis Halodoc for Business. Laporan tersebut disusun berdasarkan lebih dari 1 juta transaksi layanan kesehatan dan lebih dari 3.000 diagnosis ICD-10 yang tercatat pada ekosistem Halodoc for Business selama kuartal pertama 2026, mencakup lebih dari 30 sektor industri.

Chief Marketing Officer Halodoc, Fibriyani Elastria, mengatakan banyak perusahaan masih mengelola kesehatan karyawan secara reaktif sehingga belum memiliki gambaran menyeluruh mengenai risiko kesehatan tenaga kerja.
 

"Aset paling berharga sebuah perusahaan adalah sumber daya manusianya. Banyak perusahaan di Indonesia masih mengelola kesehatan karyawan secara reaktif tanpa data yang memadai untuk memahami di mana risiko sesungguhnya berada," ujar Fibriyani.

Menurutnya, laporan tersebut diharapkan dapat menjadi dasar bagi perusahaan dalam menyusun program kesehatan yang lebih tepat sasaran sesuai kebutuhan karyawan.
 

Hambatan terbesar bukan kesadaran, tetapi akses


Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa tantangan utama kesehatan pekerja di Indonesia bukan sekadar rendahnya kesadaran menjaga kesehatan, melainkan keterbatasan akses terhadap layanan medis.

Banyak pekerja menunda berobat karena proses yang dianggap rumit. Akibatnya, keluhan ringan berisiko berkembang menjadi kondisi yang lebih serius sehingga membutuhkan biaya penanganan lebih besar.

Di sisi lain, Indonesia diproyeksikan mengalami inflasi biaya kesehatan sebesar 15,1 persen pada 2026, lebih tinggi dibanding rata-rata global yang berada di angka 14 persen.
 

Risiko penyakit berubah sesuai usia

Chief of Medical Halodoc, dr. Irwan Heriyanto, MARS, menjelaskan profil penyakit tenaga kerja Indonesia berubah seiring bertambahnya usia.

Pada kelompok usia muda, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi penyakit yang paling sering ditemukan. Memasuki usia produktif 30 hingga 49 tahun, gangguan muskuloskeletal akibat aktivitas kerja mulai mendominasi.

Sementara pada kelompok usia di atas 50 tahun, penyakit kardiovaskular dan kanker menjadi penyumbang biaya kesehatan terbesar.

Laporan tersebut juga menemukan adanya perbedaan risiko berdasarkan jenis kelamin. Sebanyak 81 persen pasien penyakit kardiovaskular merupakan laki-laki, sedangkan 72 persen pasien kanker adalah perempuan.

Selain itu, ISPA menjadi diagnosis terbanyak untuk layanan rawat jalan, sedangkan infeksi saluran pencernaan mendominasi kasus rawat inap. Kedua kondisi tersebut dinilai sebagian besar dapat dicegah melalui upaya promotif dan preventif.
 

Telemedicine dinilai lebih efisien


Laporan Halodoc juga menyoroti peran telemedicine dalam meningkatkan efisiensi layanan kesehatan.

Data menunjukkan layanan Digital Cashless Outpatient (DCO) mampu menangani 24 persen dari seluruh kasus kesehatan hanya dengan 8 persen dari total biaya kesehatan. Lebih dari 95 persen kasus juga dapat diselesaikan tanpa memerlukan kunjungan langsung ke fasilitas kesehatan dalam 30 hari.

Pada pasien dengan penyakit kronis, penggunaan layanan digital tersebut bahkan mampu menghemat biaya hingga 66,4 persen dalam 90 hari dibandingkan pasien yang tidak memanfaatkannya.

"Telemedicine bukan sekadar alternatif yang lebih murah. Jika dioptimalkan, layanan ini dapat membantu karyawan memperoleh penanganan lebih cepat sehingga bisa kembali produktif," kata Fibriyani.
 

Ekosistem layanan kesehatan terintegrasi


Untuk mendukung layanan kesehatan karyawan, Halodoc for Business juga menghadirkan ekosistem yang mengintegrasikan konsultasi dokter, administrasi klaim, hingga pendampingan saat pasien menjalani perawatan di rumah sakit.

Melalui teknologi kecerdasan buatan Halodoc Intelligent Digital Assistant (HILDA), proses verifikasi kepesertaan, validasi klaim, hingga pengelolaan tagihan dilakukan secara otomatis. Teknologi ini diklaim mampu membantu perusahaan menekan biaya pengelolaan klaim hingga 18 persen.

Sementara itu, layanan HaloAssist memberikan pendampingan bagi pasien yang membutuhkan perawatan langsung di rumah sakit, mulai dari pemesanan kunjungan, proses administrasi, hingga pengiriman obat setelah pasien pulang.

Saat ini, Halodoc for Business melayani lebih dari 1,5 juta peserta aktif, bekerja sama dengan lebih dari 3.000 perusahaan, 30 perusahaan asuransi, serta didukung jaringan lebih dari 4.700 fasilitas layanan kesehatan di seluruh Indonesia.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)

MOST SEARCH