FITNESS & HEALTH

Kenapa Depresi Bisa Muncul setelah Operasi? Ini 8 Faktor yang Perlu Diketahui

A. Firdaus
Jumat 17 Juli 2026 / 12:12
Ringkasnya gini..
  • Sebagian pasien mengalami perubahan suasana hati, kecemasan, hingga depresi setelah menjalani tindakan bedah.
  • Seseorang yang telah memiliki gangguan depresi sebelum operasi berisiko lebih tinggi, mengalami depresi pascaoperasi.
  • Harapan yang tidak sesuai dengan hasil atau proses pemulihan setelah operasi, juga dapat meningkatkan risiko depresi.
Jakarta: Operasi tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan mental selama masa pemulihan. Sebagian pasien mengalami perubahan suasana hati, kecemasan, hingga depresi setelah menjalani tindakan bedah. 

Kondisi ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi kesehatan sebelum operasi, hingga proses pemulihan setelahnya. Oleh karena itu, memahami faktor-faktor yang meningkatkan risiko depresi pascaoperasi, menjadi langkah penting agar penanganan dapat dilakukan lebih dini.

Meski tergolong cukup umum, depresi pascaoperasi masih sering tidak dikenali. Dilansir dari Psychology Today, menurut Deborah Serani, Psy.D., psikolog dan psikoanalis yang hidup dengan depresi dan berspesialisasi dalam diagnosis serta pengobatannya.
 

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut:
 

1. Depresi yang sudah ada sebelumnya


Seseorang yang telah memiliki gangguan depresi sebelum operasi berisiko lebih tinggi, mengalami depresi pascaoperasi.

Selain itu, pasien dengan gangguan kesehatan mental umumnya merasakan nyeri pascaoperasi, yang lebih berat sehingga diperlukan pengelolaan nyeri, yang baik bersama tim bedah untuk membantu mengurangi risiko tersebut.
 

2. Depresi subklinis


Gejala depresi ringan atau depresi subklinis terkadang sudah muncul sebelum operasi, tetapi belum terdiagnosis. Trauma akibat tindakan bedah dapat memperburuk kondisi tersebut. 

Oleh karena itu, skrining menggunakan Skala Kecemasan dan Depresi Rumah Sakit (Hospital Anxiety and Depression Scale), dapat membantu mendeteksi perubahan kondisi mental sebelum dan sesudah operasi.
 

3. Trauma bedah dan infeksi


Operasi merupakan tekanan besar bagi tubuh dan pikiran, sehingga dapat memicu depresi situasional. Risiko ini dapat meningkat, apabila selama masa pemulihan terjadi infeksi atau komplikasi lain, yang memperlambat proses penyembuhan.
 

4. Merokok


Perokok memiliki risiko komplikasi pascaoperasi yang lebih tinggi, termasuk depresi. Penelitian menunjukkan bahwa berhenti merokok setidaknya 4 minggu, sebelum operasi dapat menurunkan risiko komplikasi dan memberikan hasil pemulihan, yang lebih baik hingga 6 bulan setelah operasi.
 

5. Reaksi merugikan obat


Efek samping obat, seperti antibiotik dan obat pereda nyeri, dapat memengaruhi kondisi emosional pasien. Oleh sebab itu, tenaga medis perlu mengevaluasi apakah gejala, yang muncul merupakan efek obat atau sudah mengarah pada depresi pascaoperasi.
 

6. Nyeri pascaoperasi


Nyeri setelah operasi, baik yang bersifat akut maupun kronis, menjadi salah satu faktor risiko terbesar depresi pascaoperasi. 

Penelitian menunjukkan bahwa nyeri dapat memengaruhi fungsi otak, termasuk perubahan pada korteks prefrontal, hipokampus, dan sinyal dopamin dari area tegmental ventral. Pengendalian nyeri yang optimal dapat membantu menurunkan risiko tersebut.
 

7. Reaksi terhadap anestesi


Anestesi umum dapat menyebabkan efek sementara seperti mengantuk, kebingungan, kabut kognitif, hingga perubahan suasana hati. Pada sebagian orang, kondisi ini dapat memicu gejala depresi selama masa pemulihan setelah operasi.
 

8. Kenyataan versus harapan


Harapan yang tidak sesuai dengan hasil atau proses pemulihan setelah operasi, juga dapat meningkatkan risiko depresi.

Memahami prosedur operasi, risiko, manfaat, serta menjalani seluruh rencana perawatan dengan disiplin, dapat membantu membangun ekspektasi yang lebih realistis, dan mendukung proses pemulihan secara menyeluruh.

Secillia Nur Hafifah

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)

MOST SEARCH