FITNESS & HEALTH
Period Cycle 101: Rahasia Menstruasi & Fase Folikuler yang Bikin Mood Naik Turun
Yatin Suleha
Kamis 02 April 2026 / 13:00
- Siklus menstruasi bukan hanya tentang datangnya darah haid setiap bulan.
- Tetapi merupakan rangkaian proses kompleks yang melibatkan kerja sama antara otak, hormon, dan organ reproduksi.
- Memahami apa yang terjadi di fase menstruasi dan folikuler, membantu melihat bahwa perubahan fisik maupun emosional.
Jakarta: Siklus menstruasi bukan hanya tentang datangnya darah haid setiap bulan, tetapi merupakan rangkaian proses kompleks yang melibatkan kerja sama antara otak, hormon, dan organ reproduksi.
Setiap fase memiliki peran penting dalam mempersiapkan tubuh untuk kemungkinan kehamilan. Pada awal siklus, tubuh berada dalam kondisi hormon yang rendah, lalu perlahan membangun kembali sistemnya untuk mematangkan sel telur dan menyiapkan rahim.
Memahami apa yang terjadi di fase menstruasi dan folikuler, membantu melihat bahwa perubahan fisik maupun emosional, yang muncul setiap bulan adalah bagian alami dari ritme tubuh.
Dilansir dari BabyCenter, menstruasi adalah fase pertama dalam siklus dan biasanya berlangsung dari hari ke-1 hingga ke-5. Pada fase ini, kadar hormon estrogen dan progesteron berada pada tingkat rendah.
Hari pertama munculnya perdarahan disebut sebagai “hari siklus ke-1” atau sering disingkat CD1. Dari hari inilah perhitungan siklus baru dimulai kembali.
Sebagian perempuan memiliki siklus yang teratur, dengan jumlah hari yang hampir sama setiap bulan. Namun, ada juga yang mengalami variasi panjang siklus, dan hal tersebut masih tergolong normal.
.jpg)
(Fase folikuler adalah tahap pertama siklus menstruasi yang dimulai dari hari pertama haid hingga ovulasi, umumnya berlangsung sekitar 1-13 hari atau lebih. Foto: Ilustrasi/Unsplash.com)
Meski demikian, jika perbedaan panjang siklus lebih dari satu minggu selama beberapa bulan berturut-turut, atau terjadi keterlambatan menstruasi yang tidak biasa, pemeriksaan ke dokter sebaiknya dilakukan untuk memastikan kondisi tetap aman.
Selama menstruasi, tubuh meluruhkan lapisan rahim yang telah menebal pada siklus sebelumnya. Proses ini menyebabkan keluarnya darah, jaringan, dan lendir melalui vagina.
Selain perdarahan, sebagian orang mengalami kram perut, nyeri punggung, rasa lelah, atau perubahan suasana hati. Gejala tersebut terjadi akibat kontraksi rahim dan perubahan hormon, yang cukup drastis di awal siklus.
Hari pertama menstruasi juga menandai dimulainya fase folikuler. Pada fase ini, tubuh mulai mempersiapkan sel telur baru sekaligus menebalkan kembali lapisan rahim. Proses ini dikendalikan oleh sistem hormon yang saling terhubung antara otak dan ovarium.
Hipotalamus di otak memproduksi hormon pelepas gonadotropin (GnRH). Hormon ini memberi sinyal ke kelenjar pituitari, untuk melepaskan hormon perangsang folikel (FSH).
FSH kemudian merangsang beberapa folikel di ovarium untuk mulai berkembang. Setiap folikel berisi satu sel telur yang belum matang.
Dari beberapa folikel yang berkembang, biasanya hanya satu yang tumbuh lebih cepat dan menjadi folikel dominan. Folikel inilah yang nantinya akan melepaskan sel telur saat ovulasi.
Pada siklus rata-rata 28 hari, fase folikuler berlangsung hingga sekitar hari ke-13, tetapi panjang fase ini bisa berbeda-beda pada setiap orang.
Fase folikuler yang lebih pendek biasanya membuat siklus menjadi lebih singkat, sedangkan fase yang lebih panjang menyebabkan siklus lebih lama.
FSH juga merangsang ovarium untuk memproduksi estrogen. Peningkatan estrogen berperan penting dalam menebalkan endometrium, yaitu lapisan dalam rahim.
Sel-sel endometrium tumbuh dan pembuluh darah di dalamnya membesar, sehingga rahim menjadi lebih siap jika terjadi kehamilan. Jika tidak terjadi pembuahan, lapisan ini nantinya akan kembali luruh pada fase menstruasi berikutnya.
Selain memengaruhi rahim, estrogen juga mengubah karakter lendir serviks. Lendir menjadi lebih tipis, jernih, dan licin. Perubahan ini memudahkan pergerakan sperma menuju rahim dan tuba falopi.
Dengan kata lain, tubuh secara alami menciptakan kondisi yang mendukung kemungkinan terjadinya pembuahan.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Setiap fase memiliki peran penting dalam mempersiapkan tubuh untuk kemungkinan kehamilan. Pada awal siklus, tubuh berada dalam kondisi hormon yang rendah, lalu perlahan membangun kembali sistemnya untuk mematangkan sel telur dan menyiapkan rahim.
Memahami apa yang terjadi di fase menstruasi dan folikuler, membantu melihat bahwa perubahan fisik maupun emosional, yang muncul setiap bulan adalah bagian alami dari ritme tubuh.
Menstruasi
Dilansir dari BabyCenter, menstruasi adalah fase pertama dalam siklus dan biasanya berlangsung dari hari ke-1 hingga ke-5. Pada fase ini, kadar hormon estrogen dan progesteron berada pada tingkat rendah.
Hari pertama munculnya perdarahan disebut sebagai “hari siklus ke-1” atau sering disingkat CD1. Dari hari inilah perhitungan siklus baru dimulai kembali.
Sebagian perempuan memiliki siklus yang teratur, dengan jumlah hari yang hampir sama setiap bulan. Namun, ada juga yang mengalami variasi panjang siklus, dan hal tersebut masih tergolong normal.
.jpg)
(Fase folikuler adalah tahap pertama siklus menstruasi yang dimulai dari hari pertama haid hingga ovulasi, umumnya berlangsung sekitar 1-13 hari atau lebih. Foto: Ilustrasi/Unsplash.com)
Meski demikian, jika perbedaan panjang siklus lebih dari satu minggu selama beberapa bulan berturut-turut, atau terjadi keterlambatan menstruasi yang tidak biasa, pemeriksaan ke dokter sebaiknya dilakukan untuk memastikan kondisi tetap aman.
Selama menstruasi, tubuh meluruhkan lapisan rahim yang telah menebal pada siklus sebelumnya. Proses ini menyebabkan keluarnya darah, jaringan, dan lendir melalui vagina.
Selain perdarahan, sebagian orang mengalami kram perut, nyeri punggung, rasa lelah, atau perubahan suasana hati. Gejala tersebut terjadi akibat kontraksi rahim dan perubahan hormon, yang cukup drastis di awal siklus.
Fase folikuler, sekitar hari 1 hingga 13
Hari pertama menstruasi juga menandai dimulainya fase folikuler. Pada fase ini, tubuh mulai mempersiapkan sel telur baru sekaligus menebalkan kembali lapisan rahim. Proses ini dikendalikan oleh sistem hormon yang saling terhubung antara otak dan ovarium.
Hipotalamus di otak memproduksi hormon pelepas gonadotropin (GnRH). Hormon ini memberi sinyal ke kelenjar pituitari, untuk melepaskan hormon perangsang folikel (FSH).
FSH kemudian merangsang beberapa folikel di ovarium untuk mulai berkembang. Setiap folikel berisi satu sel telur yang belum matang.
Dari beberapa folikel yang berkembang, biasanya hanya satu yang tumbuh lebih cepat dan menjadi folikel dominan. Folikel inilah yang nantinya akan melepaskan sel telur saat ovulasi.
Pada siklus rata-rata 28 hari, fase folikuler berlangsung hingga sekitar hari ke-13, tetapi panjang fase ini bisa berbeda-beda pada setiap orang.
Fase folikuler yang lebih pendek biasanya membuat siklus menjadi lebih singkat, sedangkan fase yang lebih panjang menyebabkan siklus lebih lama.
FSH juga merangsang ovarium untuk memproduksi estrogen. Peningkatan estrogen berperan penting dalam menebalkan endometrium, yaitu lapisan dalam rahim.
Sel-sel endometrium tumbuh dan pembuluh darah di dalamnya membesar, sehingga rahim menjadi lebih siap jika terjadi kehamilan. Jika tidak terjadi pembuahan, lapisan ini nantinya akan kembali luruh pada fase menstruasi berikutnya.
Selain memengaruhi rahim, estrogen juga mengubah karakter lendir serviks. Lendir menjadi lebih tipis, jernih, dan licin. Perubahan ini memudahkan pergerakan sperma menuju rahim dan tuba falopi.
Dengan kata lain, tubuh secara alami menciptakan kondisi yang mendukung kemungkinan terjadinya pembuahan.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)