FITNESS & HEALTH
Transformasi MBG 2.0: Sudaryono Fokus Atasi 3 Masalah Utama
Aulia Putriningtias
Kamis 29 Oktober 2026 / 14:12
- Sudaryono mulai melihat masalah-masalah utama yang terjadi pada kepemimpinan sebelumnya.
- Sudaryono sendiri berkomitmen menjalankan program MBG secara transparan dan akuntabel.
- Transformasi 2.0 MBG kali ini, Sudaryono mengedepankan kolaborasi dan komunikasi yang transparan, serta kolaboratif.
Jakarta: Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dr. Sudaryono menjelaskan transformasi yang dilakukan olehnya untuk Makan Bergizi Gratis (MBG) selama 100 hari masa kerjanya.
Sejak dilantik pada 22 Juli 2026 lalu oleh Presiden RI Prabowo Subianto, Sudaryono mulai melihat masalah-masalah utama yang terjadi pada kepemimpinan sebelumnya. Setidaknya, ada tiga masalah utama yang terjadi dan fokus dibenarkan.
"Jadi, saya datang, hal pertama yang saya kaget adalah bahwa BGN kira-kira mempowerkan sekitar 700 orang, langsung mengendalikan dapur kira-kira 27 ribu dengan infrastruktur pengawasan yang sangat minim," jelas Sudaryono dalam menjelaskan Transformasi MBG 2.0 di Jakarta, Kamis, 29 Oktober 2026.
Sudaryono sendiri berkomitmen menjalankan program MBG secara transparan dan akuntabel. Ia turut menegaskan tidak akan menoleransi praktik korupsi maupun penyelewengan dalam pelaksanaan program tersebut.
Adapun beberapa masalah utama yang diatasi oleh Sudaryono dalam 100 hari kepemimpinannya:
Sudaryono menjelaskan bahwa praktik korupsi terjadi pada masa kepemimpinan MBG sebelumnya. Mulai dari titik dapur diperjualbelikan, pendanaan yang digelembungkan, hingga harga bahan baku yang dimonopoli.
Melalui transformasi kali ini, Sudaryono fokus untuk meleburkan praktik tersebut. Mulai dari penutupan dapur yang tidak sesuai hingga pembaruan kerja sama terhadap yayasan dan SPPG. Melalui transformasi ini, MBG sudah berhasil mengefisiensi dana Rp44 triliun.
Permasalahan lainnya datang dari dapur yang memiliki kelayakan rendah. Mulai dari minimnya pengawasan, hingga lokasi tata kelola dapur yang tidak layak.
Pada kesempatan ini, Sudaryono menjelaskan bahwa pada Transformasi MBG 2.0, mereka akan fokus untuk perkuat tata kelola dan pengawasan. Mulai dari soal titik lokasi dapur, hingga kewajiban kepemilikan SLHS dan juru masak berpengalaman.
Sudaryono menjelaskan bahwa masalah utama lainnya adalah minimnya komunikasi terhadap berbagai pihak.
"Kementerian yang lain mungkin sulit diajak bicara, kemudian kepala daerah tahunya kalau ada keracunan, kemudian ribut, sibuk-sibuk, tapi dari awal tidak diajak di mana ditentukan titik sekolahnya di mana, seperti apa, tidak. Karena semua top down dan semua mau dikerjakan sendiri," jelas Sudaryono.
Transformasi 2.0 MBG kali ini, Sudaryono mengedepankan kolaborasi dan komunikasi yang transparan, serta kolaboratif. Selain itu, ia juga mengutamakan tindak lanjut aduan publik terhadap program MBG.
Saat ini, MBG sudah menghadirkan "Radar MBG" yang dapat diakses oleh masyarakat luas. Sudaryono juga akan tindak tegas bagi pegawai dan dapur yang melanggar.
(FIR)
Sejak dilantik pada 22 Juli 2026 lalu oleh Presiden RI Prabowo Subianto, Sudaryono mulai melihat masalah-masalah utama yang terjadi pada kepemimpinan sebelumnya. Setidaknya, ada tiga masalah utama yang terjadi dan fokus dibenarkan.
"Jadi, saya datang, hal pertama yang saya kaget adalah bahwa BGN kira-kira mempowerkan sekitar 700 orang, langsung mengendalikan dapur kira-kira 27 ribu dengan infrastruktur pengawasan yang sangat minim," jelas Sudaryono dalam menjelaskan Transformasi MBG 2.0 di Jakarta, Kamis, 29 Oktober 2026.
Sudaryono sendiri berkomitmen menjalankan program MBG secara transparan dan akuntabel. Ia turut menegaskan tidak akan menoleransi praktik korupsi maupun penyelewengan dalam pelaksanaan program tersebut.
Adapun beberapa masalah utama yang diatasi oleh Sudaryono dalam 100 hari kepemimpinannya:
1. Praktik korupsi merajalela
Sudaryono menjelaskan bahwa praktik korupsi terjadi pada masa kepemimpinan MBG sebelumnya. Mulai dari titik dapur diperjualbelikan, pendanaan yang digelembungkan, hingga harga bahan baku yang dimonopoli.
Melalui transformasi kali ini, Sudaryono fokus untuk meleburkan praktik tersebut. Mulai dari penutupan dapur yang tidak sesuai hingga pembaruan kerja sama terhadap yayasan dan SPPG. Melalui transformasi ini, MBG sudah berhasil mengefisiensi dana Rp44 triliun.
2. Kelayakan dan tata kelola dapur rendah
Permasalahan lainnya datang dari dapur yang memiliki kelayakan rendah. Mulai dari minimnya pengawasan, hingga lokasi tata kelola dapur yang tidak layak.
Sudaryono sendiri berkomitmen menjalankan program MBG secara transparan dan akuntabel. Dok. Aulia/Medcom
Pada kesempatan ini, Sudaryono menjelaskan bahwa pada Transformasi MBG 2.0, mereka akan fokus untuk perkuat tata kelola dan pengawasan. Mulai dari soal titik lokasi dapur, hingga kewajiban kepemilikan SLHS dan juru masak berpengalaman.
3. Minim komunikasi dan kolaborasi lintas pihak
Sudaryono menjelaskan bahwa masalah utama lainnya adalah minimnya komunikasi terhadap berbagai pihak.
"Kementerian yang lain mungkin sulit diajak bicara, kemudian kepala daerah tahunya kalau ada keracunan, kemudian ribut, sibuk-sibuk, tapi dari awal tidak diajak di mana ditentukan titik sekolahnya di mana, seperti apa, tidak. Karena semua top down dan semua mau dikerjakan sendiri," jelas Sudaryono.
Transformasi 2.0 MBG kali ini, Sudaryono mengedepankan kolaborasi dan komunikasi yang transparan, serta kolaboratif. Selain itu, ia juga mengutamakan tindak lanjut aduan publik terhadap program MBG.
Saat ini, MBG sudah menghadirkan "Radar MBG" yang dapat diakses oleh masyarakat luas. Sudaryono juga akan tindak tegas bagi pegawai dan dapur yang melanggar.
(FIR)