FAMILY

Bocil Lagi Fase ‘Gak Mau!’ Terus? Ternyata Ini Alasan di Baliknya, Gak Usah Emosi Dulu!

Yatin Suleha
Jumat 20 Maret 2026 / 20:05
Ringkasnya gini..
  • Memasuki usia prasekolah, banyak anak mulai menunjukkan perubahan sikap yang cukup mengejutkan.
  • Salah satunya adalah kebiasaan membantah atau menjawab dengan nada tidak menyenangkan.
  • Emosi yang dirasakan anak sebenarnya wajar, tetapi cara penyampaiannya masih perlu dibimbing.
Jakarta: Memasuki usia prasekolah, banyak anak mulai menunjukkan perubahan sikap yang cukup mengejutkan. Salah satunya adalah kebiasaan membantah atau menjawab dengan nada tidak menyenangkan. 

Hal ini sering membuat orang tua merasa khawatir, bahkan bertanya-tanya apakah ini tanda anak akan tumbuh menjadi pribadi yang sulit diatur. Padahal, fase ini sebenarnya bagian dari perkembangan emosional anak

Di usia 3 hingga 4 tahun, anak mulai belajar mengenali perasaan dan mencoba mengekspresikannya, meskipun caranya belum tepat. Memahami alasan di balik perilaku ini, dapat membantu menghadapi situasi dengan lebih tenang dan bijak.
 
Ketika seorang anak diminta membereskan mainannya lalu menjawab, “Tidak mau!”, hal ini tidak selalu berarti anak akan terus bersikap membantah di masa depan.

Menurut Jane Nelsen, penulis buku Positive Discipline for Preschoolers dalam BabyCenter, “Ketika seorang anak membantah, yang sebenarnya dia ungkapkan adalah kemarahan, frustrasi, ketakutan, atau rasa sakit hati.”


(Emosi yang dirasakan anak sebenarnya wajar, tetapi cara penyampaiannya masih perlu dibimbing. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)

Artinya, perilaku membantah sering kali bukan masalah utama. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana anak mengekspresikan perasaannya. Emosi yang dirasakan anak sebenarnya wajar, tetapi cara penyampaiannya masih perlu dibimbing.

Anak usia prasekolah juga sangat mudah meniru apa yang dilihat dan didengar. Sikap membantah bisa saja muncul, karena meniru dari tontonan atau lingkungan sekitar. 

Misalnya, karakter dalam acara TV yang berbicara kasar sering dianggap lucu, sehingga anak ikut menirunya tanpa memahami maknanya.

Selain itu, kondisi fisik juga berpengaruh. Anak yang lelah, terlalu banyak aktivitas, atau terlalu banyak stimulasi cenderung lebih mudah membantah. 

Dalam kondisi seperti ini, anak mungkin hanya butuh waktu untuk beristirahat dan menenangkan diri.
 
Penting juga untuk memahami bahwa anak belum bisa mengontrol semua pikiran yang muncul di kepalanya. Oleh karena itu, mereka bisa saja mengatakan sesuatu, tanpa mempertimbangkan dampaknya. Misalnya, mengomentari makanan atau orang lain secara spontan tanpa maksud menyakiti.

Dengan memahami bahwa membantah adalah bagian dari proses belajar emosi, pendekatan yang lebih tenang dan penuh pengertian, akan membantu anak berkembang menjadi pribadi yang lebih baik dalam mengekspresikan perasaan.


Secillia Nur Hafifah


Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH