FAMILY
Survei: November 2026 Jadi Bulan Paling Populer untuk Gelar Pernikahan
A. Firdaus
Jumat 23 Januari 2026 / 11:14
Jakarta: Bridestory kembali membagikan potret perilaku calon pengantin Indonesia melalui Wedding Survey Report. Survei ini dilakukan pada akhir 2025 terhadap 5.000 calon pengantin, yang terdiri dari 58,7% perempuan dan 41,3% laki-laki, dengan mayoritas responden berusia 25–30 tahun.
Hasil survei menunjukkan, sebagian besar responden merencanakan pernikahan pada kuartal IV 2026 (40,9%), dengan November menjadi bulan paling populer. Sementara itu, 21,8% responden lainnya memilih kuartal III 2026 sebagai waktu pelaksanaan pernikahan.
Dalam proses perencanaan, peran tenaga profesional masih menjadi andalan. Sebanyak 92,5% responden mengaku menggunakan jasa wedding planner atau wedding organizer. Kehadiran profesional dinilai membantu pasangan dalam berbagai aspek, mulai dari konsultasi konsep, koordinasi vendor, pengelolaan anggaran, hingga penyusunan jadwal acara.
Transformasi digital juga semakin terasa dalam dunia pernikahan. Sebanyak 56% responden membuat website pernikahan, sementara 91% menggunakan undangan digital dan buku tamu digital untuk mempermudah pengelolaan daftar tamu. Data ini menunjukkan bahwa solusi digital kini telah menjadi kebutuhan esensial bagi calon pengantin masa kini.
Menjawab kebutuhan tersebut, Bridestory menghadirkan SayYes RSVP, sebuah platform digital komprehensif yang memungkinkan calon pengantin merancang narasi pernikahan secara personal sejak awal. Melalui kurasi template beragam hingga layanan desain custom yang dapat disesuaikan dengan berbagai konsep, termasuk tema Petal Dreamscapes, platform ini menghadirkan galeri foto dan video terintegrasi, sistem RSVP real-time, pengaturan tempat duduk (seating management), hingga QR check-in pada hari pernikahan.
Dengan satu tautan eksklusif, SayYes RSVP dirancang untuk membantu calon pengantin mengelola setiap detail perayaan secara praktis dan profesional dalam satu genggaman.
Dari sisi pemilihan lokasi, ballroom hotel masih menjadi favorit utama dengan persentase 48,6%. Lokasi ini dinilai menawarkan kesan mewah dengan kapasitas tamu yang besar. Disusul oleh gedung atau aula serbaguna (30%) sebagai alternatif yang lebih terjangkau namun tetap formal. Sementara itu, area outdoor seperti taman dan pantai dipilih oleh 10% responden, mencerminkan minat yang terus tumbuh terhadap pernikahan bernuansa santai dan intim.
Durasi persiapan juga menjadi faktor penting. Sebanyak 44,1% responden membutuhkan waktu lebih dari 12 bulan untuk mempersiapkan pernikahan.
Proses ini melibatkan pemilihan vendor, diskusi konsep, pengelolaan anggaran, hingga implementasi tema. Sementara itu, 30,3% responden mempersiapkan pernikahan dalam kurun waktu 9–12 bulan yang dianggap cukup ideal. Ada pula pasangan yang mempersiapkan pernikahan dalam waktu singkat, yakni 3–6 bulan (7,5%) atau bahkan kurang.
Dari sisi jumlah tamu, mayoritas responden (42%) memilih mengundang 101–300 tamu, menciptakan pernikahan berskala menengah yang tetap terasa intim namun meriah. Pilihan lainnya mencakup 301–500 tamu (31,2%), 501–1.000 tamu (12,7%), hingga lebih dari 1.000 tamu (3,3%). Sementara itu, 3,5% responden memilih konsep micro wedding dengan jumlah tamu di bawah 50 orang.
Soal anggaran, sebagian besar responden menyiapkan dana Rp250–500 juta (39,9%). Disusul oleh anggaran Rp500 juta–Rp1 miliar (24,7%), serta 22,3% responden yang membatasi biaya pernikahan hingga maksimal Rp250 juta.
Dalam memilih vendor pernikahan, portofolio dan harga menjadi faktor penentu utama. Portofolio yang terbarui, variasi konsep yang jelas, serta informasi harga yang transparan di platform digital dan media sosial dinilai penting untuk menarik perhatian calon pengantin. Tak heran, platform Bridestory masih menjadi rujukan utama dalam pencarian vendor, selain pameran pernikahan dan media sosial.
“Melalui Wedding Survey Report ini, kami ingin membantu vendor dan pelaku industri pernikahan memahami perilaku, preferensi, serta ekspektasi calon pengantin masa kini secara lebih mendalam,” ujar Natasza Kurniawan, Head of Marketing Bridestory.
Ia menambahkan, data ini tidak hanya memetakan tren visual seperti tema dan warna, tetapi juga menggambarkan bagaimana pasangan merencanakan pernikahan dan mengambil keputusan penting.
“Dengan insight ini, kami berharap dapat menghadirkan strategi, layanan, serta inovasi yang lebih relevan dan personal bagi generasi pengantin saat ini,” katanya.
Selain menghadirkan data dan inovasi produk, Bridestory juga melanjutkan komitmennya untuk mempertemukan calon pengantin dengan vendor pernikahan melalui rangkaian pameran tahunan.
Pada 2026, Bridestory akan menggelar Bridestory Market pada 12–15 Februari dan 3–6 September 2026 di ICE BSD, serta Bridestory Fair pada 5–7 Juni 2026 di JICC Senayan. Melalui ajang ini, calon pengantin dapat menemukan inspirasi, vendor pilihan, hingga berbagai promo dalam satu tempat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Hasil survei menunjukkan, sebagian besar responden merencanakan pernikahan pada kuartal IV 2026 (40,9%), dengan November menjadi bulan paling populer. Sementara itu, 21,8% responden lainnya memilih kuartal III 2026 sebagai waktu pelaksanaan pernikahan.
Dalam proses perencanaan, peran tenaga profesional masih menjadi andalan. Sebanyak 92,5% responden mengaku menggunakan jasa wedding planner atau wedding organizer. Kehadiran profesional dinilai membantu pasangan dalam berbagai aspek, mulai dari konsultasi konsep, koordinasi vendor, pengelolaan anggaran, hingga penyusunan jadwal acara.
Transformasi digital juga semakin terasa dalam dunia pernikahan. Sebanyak 56% responden membuat website pernikahan, sementara 91% menggunakan undangan digital dan buku tamu digital untuk mempermudah pengelolaan daftar tamu. Data ini menunjukkan bahwa solusi digital kini telah menjadi kebutuhan esensial bagi calon pengantin masa kini.
Menjawab kebutuhan tersebut, Bridestory menghadirkan SayYes RSVP, sebuah platform digital komprehensif yang memungkinkan calon pengantin merancang narasi pernikahan secara personal sejak awal. Melalui kurasi template beragam hingga layanan desain custom yang dapat disesuaikan dengan berbagai konsep, termasuk tema Petal Dreamscapes, platform ini menghadirkan galeri foto dan video terintegrasi, sistem RSVP real-time, pengaturan tempat duduk (seating management), hingga QR check-in pada hari pernikahan.
Dengan satu tautan eksklusif, SayYes RSVP dirancang untuk membantu calon pengantin mengelola setiap detail perayaan secara praktis dan profesional dalam satu genggaman.
Ballrooom hotel jadi venue favorit
Dari sisi pemilihan lokasi, ballroom hotel masih menjadi favorit utama dengan persentase 48,6%. Lokasi ini dinilai menawarkan kesan mewah dengan kapasitas tamu yang besar. Disusul oleh gedung atau aula serbaguna (30%) sebagai alternatif yang lebih terjangkau namun tetap formal. Sementara itu, area outdoor seperti taman dan pantai dipilih oleh 10% responden, mencerminkan minat yang terus tumbuh terhadap pernikahan bernuansa santai dan intim.
Durasi persiapan juga menjadi faktor penting. Sebanyak 44,1% responden membutuhkan waktu lebih dari 12 bulan untuk mempersiapkan pernikahan.
Proses ini melibatkan pemilihan vendor, diskusi konsep, pengelolaan anggaran, hingga implementasi tema. Sementara itu, 30,3% responden mempersiapkan pernikahan dalam kurun waktu 9–12 bulan yang dianggap cukup ideal. Ada pula pasangan yang mempersiapkan pernikahan dalam waktu singkat, yakni 3–6 bulan (7,5%) atau bahkan kurang.
Dari sisi jumlah tamu, mayoritas responden (42%) memilih mengundang 101–300 tamu, menciptakan pernikahan berskala menengah yang tetap terasa intim namun meriah. Pilihan lainnya mencakup 301–500 tamu (31,2%), 501–1.000 tamu (12,7%), hingga lebih dari 1.000 tamu (3,3%). Sementara itu, 3,5% responden memilih konsep micro wedding dengan jumlah tamu di bawah 50 orang.
Soal anggaran, sebagian besar responden menyiapkan dana Rp250–500 juta (39,9%). Disusul oleh anggaran Rp500 juta–Rp1 miliar (24,7%), serta 22,3% responden yang membatasi biaya pernikahan hingga maksimal Rp250 juta.
Dalam memilih vendor pernikahan, portofolio dan harga menjadi faktor penentu utama. Portofolio yang terbarui, variasi konsep yang jelas, serta informasi harga yang transparan di platform digital dan media sosial dinilai penting untuk menarik perhatian calon pengantin. Tak heran, platform Bridestory masih menjadi rujukan utama dalam pencarian vendor, selain pameran pernikahan dan media sosial.
“Melalui Wedding Survey Report ini, kami ingin membantu vendor dan pelaku industri pernikahan memahami perilaku, preferensi, serta ekspektasi calon pengantin masa kini secara lebih mendalam,” ujar Natasza Kurniawan, Head of Marketing Bridestory.
Ia menambahkan, data ini tidak hanya memetakan tren visual seperti tema dan warna, tetapi juga menggambarkan bagaimana pasangan merencanakan pernikahan dan mengambil keputusan penting.
“Dengan insight ini, kami berharap dapat menghadirkan strategi, layanan, serta inovasi yang lebih relevan dan personal bagi generasi pengantin saat ini,” katanya.
Selain menghadirkan data dan inovasi produk, Bridestory juga melanjutkan komitmennya untuk mempertemukan calon pengantin dengan vendor pernikahan melalui rangkaian pameran tahunan.
Pada 2026, Bridestory akan menggelar Bridestory Market pada 12–15 Februari dan 3–6 September 2026 di ICE BSD, serta Bridestory Fair pada 5–7 Juni 2026 di JICC Senayan. Melalui ajang ini, calon pengantin dapat menemukan inspirasi, vendor pilihan, hingga berbagai promo dalam satu tempat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)