FAMILY
Terlalu Sayang Bisa Jadi Bumerang? Ini 3 Hal Baik dalam Cinta yang Perlu Dibatasi
A. Firdaus
Jumat 21 Agustus 2026 / 10:12
- Beberapa hal yang dianggap sebagai "kebaikan" dalam hubungan justru bisa berubah jadi masalah kalau dilakukan tanpa batas.
- Ben-Zeév menyebut hubungan yang berkembang dengan baik membutuhkan keseimbangan.
- Dalam cinta, terlalu sedikit memang bisa jadi masalah, tapi terlalu banyak juga belum tentu lebih baik.
Jakarta: Dalam hubungan, kita mungkin sering berpikir kalau semakin sayang, semakin banyak berkorban, dan semakin sabar, berarti semakin baik juga hubungan tersebut.
Ternyata, nggak selalu begitu.
Menurut profesor filsafat Aaron Ben-Zeév dalam Psychology Today, beberapa hal yang dianggap sebagai "kebaikan" dalam hubungan justru bisa berubah jadi masalah kalau dilakukan tanpa batas. Dalam artikelnya, ia membahas tiga hal, yaitu hasrat seksual, pengorbanan, dan kesabaran.
Ketiganya memang bisa memperkuat hubungan, tetapi juga bisa berdampak buruk kalau sudah berlebihan:
Punya ketertarikan dan hasrat yang kuat kepada pasangan tentu bukan hal buruk. Justru, ketika menjadi bagian dari hubungan emosional yang sehat, hasrat bisa membuat hubungan terasa lebih dekat dan intim.
Masalahnya muncul ketika hasrat tersebut mulai sulit dikendalikan atau berubah menjadi sesuatu yang obsesif.
Ben-Zeév menjelaskan, hasrat seksual bisa memperkuat hubungan ketika berjalan bersama komitmen, kemampuan mengontrol diri, dan perhatian terhadap pasangan. Sebaliknya, kalau hasrat sampai mendominasi hubungan, dampaknya justru bisa merusak kedekatan yang sudah dibangun.
Jadi, bukan berarti harus menghilangkan hasrat dalam hubungan. Intinya adalah tahu kapan harus menikmati rasa tertarik tersebut dan kapan perlu mengontrolnya.
"Kalau sayang, harus berkorban."
Kalimat seperti ini mungkin sering kita dengar. Padahal, berkorban dalam hubungan juga ada batasnya.
Menurut Ben-Zeév, pengorbanan bisa menjadi tanda kepedulian, kepercayaan, rasa hormat, dan kesetiaan. Bahkan, pengorbanan yang dilakukan secara sukarela bisa membantu memperkuat kepuasan dan kestabilan hubungan.
Tapi, ceritanya jadi berbeda kalau cuma satu orang yang terus berkorban.
Misalnya, kamu berkali-kali mengesampingkan pekerjaan, tujuan hidup, keinginan, atau nilai pribadi demi pasangan, sementara pasangan nggak melakukan hal yang sama. Kalau terus terjadi, hubungan bisa menjadi nggak seimbang.
Bedanya bisa sesederhana ini: pengorbanan yang sehat berarti "aku rela memberikan sesuatu demi kita."
Sementara pengorbanan yang nggak sehat berubah menjadi "aku harus kehilangan diriku demi kamu."
Nah, kalau sudah sampai kehilangan diri sendiri, itu bukan lagi soal seberapa besar rasa cinta. Itu tanda bahwa batas dalam hubungan mulai perlu diperhatikan.
Sabar memang penting dalam hubungan. Nggak semua masalah harus langsung dibalas dengan emosi atau berujung putus. Ada masalah yang memang butuh waktu untuk diselesaikan.
Tapi, sabar bukan berarti harus menerima semuanya.
Ben-Zeév menjelaskan, kesabaran terhadap masalah yang sifatnya sementara bisa membantu hubungan bertahan. Namun, terus bersabar menghadapi sikap yang merendahkan, perselingkuhan, atau kekerasan justru bisa merusak hubungan.
Bahkan, toleransi yang terlalu berlebihan kadang bukan muncul karena kita bijaksana, tetapi karena takut, terlalu bergantung pada pasangan, atau nggak punya batas yang jelas.
Jadi, kalau kamu terus berkata, "Nggak apa-apa, dia kan lagi susah," padahal perlakuan yang menyakitkan itu terus berulang, mungkin sudah waktunya mengevaluasi lagi arti "sabar" dalam hubungan tersebut.
Dari tiga hal tersebut, ada satu poin yang cukup penting: sesuatu yang baik belum tentu tetap baik kalau porsinya berlebihan.
Kita bisa mencintai pasangan dengan penuh gairah, tapi tetap punya kontrol diri. Kita juga bisa berkorban demi hubungan tanpa harus kehilangan diri sendiri. Begitu pula dengan kesabaran, yang tetap perlu berjalan bersama batasan yang sehat.
Ben-Zeév menyebut hubungan yang berkembang dengan baik membutuhkan keseimbangan. Hasrat perlu berjalan bersama pengendalian diri, pengorbanan perlu tetap menjaga individualitas, dan kesabaran perlu dibarengi batas yang jelas.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan cuma "Apakah ini baik untuk hubungan?", tetapi juga "Seberapa banyak yang masih baik?"
Karena dalam cinta, terlalu sedikit memang bisa jadi masalah. Tapi terlalu banyak juga belum tentu lebih baik.
Desi Indasari
(FIR)
Ternyata, nggak selalu begitu.
Menurut profesor filsafat Aaron Ben-Zeév dalam Psychology Today, beberapa hal yang dianggap sebagai "kebaikan" dalam hubungan justru bisa berubah jadi masalah kalau dilakukan tanpa batas. Dalam artikelnya, ia membahas tiga hal, yaitu hasrat seksual, pengorbanan, dan kesabaran.
Ketiganya memang bisa memperkuat hubungan, tetapi juga bisa berdampak buruk kalau sudah berlebihan:
1. Hasrat yang terlalu kuat
Punya ketertarikan dan hasrat yang kuat kepada pasangan tentu bukan hal buruk. Justru, ketika menjadi bagian dari hubungan emosional yang sehat, hasrat bisa membuat hubungan terasa lebih dekat dan intim.
Masalahnya muncul ketika hasrat tersebut mulai sulit dikendalikan atau berubah menjadi sesuatu yang obsesif.
Ben-Zeév menjelaskan, hasrat seksual bisa memperkuat hubungan ketika berjalan bersama komitmen, kemampuan mengontrol diri, dan perhatian terhadap pasangan. Sebaliknya, kalau hasrat sampai mendominasi hubungan, dampaknya justru bisa merusak kedekatan yang sudah dibangun.
Jadi, bukan berarti harus menghilangkan hasrat dalam hubungan. Intinya adalah tahu kapan harus menikmati rasa tertarik tersebut dan kapan perlu mengontrolnya.
2. Terlalu sering mengorbankan diri
"Kalau sayang, harus berkorban."
Kalimat seperti ini mungkin sering kita dengar. Padahal, berkorban dalam hubungan juga ada batasnya.
Menurut Ben-Zeév, pengorbanan bisa menjadi tanda kepedulian, kepercayaan, rasa hormat, dan kesetiaan. Bahkan, pengorbanan yang dilakukan secara sukarela bisa membantu memperkuat kepuasan dan kestabilan hubungan.
Tapi, ceritanya jadi berbeda kalau cuma satu orang yang terus berkorban.
Misalnya, kamu berkali-kali mengesampingkan pekerjaan, tujuan hidup, keinginan, atau nilai pribadi demi pasangan, sementara pasangan nggak melakukan hal yang sama. Kalau terus terjadi, hubungan bisa menjadi nggak seimbang.
Bedanya bisa sesederhana ini: pengorbanan yang sehat berarti "aku rela memberikan sesuatu demi kita."
Sementara pengorbanan yang nggak sehat berubah menjadi "aku harus kehilangan diriku demi kamu."
Nah, kalau sudah sampai kehilangan diri sendiri, itu bukan lagi soal seberapa besar rasa cinta. Itu tanda bahwa batas dalam hubungan mulai perlu diperhatikan.
3. Terlalu sabar menghadapi pasangan
Sabar memang penting dalam hubungan. Nggak semua masalah harus langsung dibalas dengan emosi atau berujung putus. Ada masalah yang memang butuh waktu untuk diselesaikan.
Tapi, sabar bukan berarti harus menerima semuanya.
Ben-Zeév menjelaskan, kesabaran terhadap masalah yang sifatnya sementara bisa membantu hubungan bertahan. Namun, terus bersabar menghadapi sikap yang merendahkan, perselingkuhan, atau kekerasan justru bisa merusak hubungan.
Bahkan, toleransi yang terlalu berlebihan kadang bukan muncul karena kita bijaksana, tetapi karena takut, terlalu bergantung pada pasangan, atau nggak punya batas yang jelas.
Jadi, kalau kamu terus berkata, "Nggak apa-apa, dia kan lagi susah," padahal perlakuan yang menyakitkan itu terus berulang, mungkin sudah waktunya mengevaluasi lagi arti "sabar" dalam hubungan tersebut.
Cinta bukan soal melakukan semuanya tanpa batas
Dari tiga hal tersebut, ada satu poin yang cukup penting: sesuatu yang baik belum tentu tetap baik kalau porsinya berlebihan.
Kita bisa mencintai pasangan dengan penuh gairah, tapi tetap punya kontrol diri. Kita juga bisa berkorban demi hubungan tanpa harus kehilangan diri sendiri. Begitu pula dengan kesabaran, yang tetap perlu berjalan bersama batasan yang sehat.
Ben-Zeév menyebut hubungan yang berkembang dengan baik membutuhkan keseimbangan. Hasrat perlu berjalan bersama pengendalian diri, pengorbanan perlu tetap menjaga individualitas, dan kesabaran perlu dibarengi batas yang jelas.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan cuma "Apakah ini baik untuk hubungan?", tetapi juga "Seberapa banyak yang masih baik?"
Karena dalam cinta, terlalu sedikit memang bisa jadi masalah. Tapi terlalu banyak juga belum tentu lebih baik.
Desi Indasari
(FIR)