FAMILY

Plot Twist! Penyebab Sulit Move On Ternyata soal Ikatan Emosional yang Belum Fading

A. Firdaus
Rabu 29 Juli 2026 / 09:10
Ringkasnya gini..
  • Masih banyak orang yang tanpa sadar terus mengingat mantan pasangan, atau berharap bisa kembali berbagi cerita dengannya.
  • Hubungan romantis bukan hanya didasarkan pada rasa cinta sesaat.
  • Ikatan emosional bahkan dapat bertahan lebih dari satu dekade.
Jakarta: Berakhirnya sebuah hubungan sering kali tidak hanya meninggalkan kesedihan, tetapi juga rasa kehilangan yang mendalam. 

Meski sudah tidak lagi bersama, masih banyak orang yang tanpa sadar terus mengingat mantan pasangan, atau berharap bisa kembali berbagi cerita dengannya. 

Kondisi ini kerap membuat proses move on terasa lebih berat. Ternyata, hal tersebut bukan sekadar karena belum bisa melupakan kenangan, melainkan berkaitan dengan ikatan emosional yang pernah terbentuk selama menjalani hubungan.

Mengakhiri hubungan memang berarti berpisah dengan pasangan, tetapi melepaskan ikatan emosional yang telah terbangun adalah proses yang berbeda.
Setelah putus, tidak sedikit orang yang masih memikirkan mantan, merindukan suaranya, ingin menceritakan kabar baik, mengeluhkan hari yang melelahkan, atau sekadar penasaran dengan keadaannya.

Bahkan, ada yang masih berharap bisa dipeluk atau merasa nyaman, seperti saat hubungan itu masih berlangsung.

Perasaan-perasaan tersebut merupakan pengalaman yang cukup umum. Dorongan untuk kembali menghubungi atau mengingat mantan, bukan selalu berarti lemah atau gagal move on, melainkan dapat menjadi tanda bahwa ikatan emosional yang pernah terbentuk masih belum sepenuhnya memudar.

Menurut teori keterikatan, hubungan romantis bukan hanya didasarkan pada rasa cinta sesaat. Hubungan juga membentuk ikatan psikologis melalui kepercayaan, rasa aman, serta berbagai pengalaman yang dijalani bersama.

Dilansir dari Psychology Today, menurut Gary W. Lewandowski Jr., Ph.D., penulis "Stronger Than You Think: The 10 Blind Spots That Undermine Your Relationship" karena terbentuk dalam waktu yang tidak singkat, ikatan tersebut tidak langsung menghilang ketika hubungan berakhir.

Sebaliknya, hubungan yang telah selesai dapat meninggalkan jejak emosional yang masih memengaruhi cara berpikir, merasakan sesuatu, hingga bersikap dalam kehidupan sehari-hari.

Meski demikian, proses penyembuhan emosional setiap orang tidak berjalan dengan kecepatan yang sama. Tidak ada batas waktu pasti untuk benar-benar pulih dari putus cinta. 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian orang membutuhkan waktu lebih lama, untuk melepaskan keterikatan emosional, terutama jika masih sering berkomunikasi dengan mantan pasangan atau bukan pihak, yang memutuskan hubungan. 

Dalam kondisi seperti ini, ikatan emosional bahkan dapat bertahan lebih dari satu dekade. Selain itu, cara seseorang membangun hubungan dengan orang lain, juga turut memengaruhi lamanya proses move on.

Dalam teori keterikatan, individu yang memiliki keterikatan cemas, umumnya lebih membutuhkan kedekatan dan kepastian dalam hubungan, sehingga lebih sulit melepaskan ikatan emosional setelah putus. 

Sementara itu, orang yang merasa nyaman dengan keintiman atau cenderung kurang menghindar, juga diketahui lebih lama mempertahankan keterikatan emosional terhadap mantan pasangan.

Temuan ini menunjukkan bahwa sulit melupakan mantan bukanlah hal yang aneh. Ikatan emosional yang terbentuk selama hubungan membutuhkan waktu untuk memudar. 

Seiring berjalannya waktu, pengalaman baru, serta proses penerimaan yang sehat, keterikatan tersebut umumnya akan semakin berkurang, hingga akhirnya tidak lagi memiliki pengaruh besar dalam kehidupan.

Secillia Nur Hafifah

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)

MOST SEARCH