FAMILY

Dari Snack ke Padel, Ini Cara Baru Orang Indonesia Belanja

A. Firdaus
Sabtu 25 April 2026 / 11:15
Ringkasnya gini..
  • Konsumen tak lagi hanya fokus pada kebutuhan pokok, tetapi juga mulai memperhatikan gaya hidup.
  • Kategori kebutuhan sehari-hari seperti sirup dan camilan memang masih mendominasi.
  • Fenomena ini terjadi di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang.
Jakarta: Lebih dari sebulan setelah Ramadan berlalu, pola belanja masyarakat Indonesia ternyata belum sepenuhnya kembali seperti semula. Data terbaru dari Blibli menunjukkan adanya pergeseran menarik, di mana konsumen tak lagi hanya fokus pada kebutuhan pokok, tetapi juga mulai memperhatikan gaya hidup.

Selama Ramadan 2026, kategori kebutuhan sehari-hari seperti sirup dan camilan memang masih mendominasi dengan lonjakan hingga hampir empat kali lipat dibandingkan hari biasa. Fashion Muslim pun meningkat signifikan, hampir tiga kali lipat.

Namun yang menarik, kategori non-esensial justru mencatat pertumbuhan yang cukup tajam. Peralatan olahraga seperti tenis dan padel melonjak lebih dari lima kali lipat, menjadi salah satu kategori dengan pertumbuhan tertinggi. Sementara itu, produk elektronik rumah tangga, mulai dari TV LED, mesin cuci, microwave, hingga kulkas, tumbuh hampir dua kali lipat. Produk perawatan diri juga mengalami tren serupa.

Head of Campaign Blibli, Indra Perdana, menyebut bahwa perubahan ini bukan sekadar soal peningkatan transaksi. “Konsumen mulai memanfaatkan momentum Ramadan untuk melakukan upgrade gaya hidup, bukan hanya memenuhi kebutuhan,” ujar Indra.

Fenomena ini terjadi di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang. Meski inflasi relatif terkendali dan tingkat kepercayaan konsumen tetap optimistis, daya beli belum sepenuhnya pulih. Hal ini membuat masyarakat semakin selektif dalam menentukan prioritas belanja.

Laporan 'Consumer Commerce Outlook 2026' dari Jakpat menyebutkan bahwa konsumen Indonesia kini cenderung menjadi rational shopper. Artinya, mereka lebih aktif membandingkan harga, mencari nilai terbaik, serta memilih kanal belanja dengan lebih cermat.
Perubahan ini juga terlihat dari pilihan produk. Kategori seperti olahraga dan elektronik dinilai memberikan manfaat jangka panjang, sehingga mulai menjadi prioritas baru dalam pengeluaran.

Dari sisi demografi, kelompok usia 25–44 tahun menjadi penyumbang terbesar transaksi selama Ramadan 2026, dengan komposisi yang cukup seimbang antara pria dan perempuan. Metode pembayaran pun didominasi oleh virtual account, diikuti kartu kredit dan dompet digital.

Menariknya, tren belanja ini tidak langsung mereda setelah Idulfitri. Aktivitas transaksi tetap berlangsung, didorong oleh promo lanjutan maupun rencana pembelian yang sebelumnya tertunda.

Temuan ini juga sejalan dengan analisis Mandiri Institute yang mencatat konsumsi masyarakat tetap kuat sepanjang Ramadan hingga Lebaran 2026, bahkan lebih tinggi dibanding dua tahun sebelumnya. Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menyebut kelompok menengah menjadi motor utama peningkatan tersebut.

Kini, pola konsumsi masyarakat terlihat semakin matang. Belanja bukan lagi sekadar impulsif, tetapi lebih terarah—memilih yang benar-benar dibutuhkan sekaligus memberi nilai lebih untuk gaya hidup sehari-hari.

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH