FAMILY

Kulit Bayi Sensitif Banget, Ini Cara Biar Nggak Gampang Iritasi

A. Firdaus
Sabtu 25 April 2026 / 10:12
Ringkasnya gini..
  • Area lipatan dan popok menjadi bagian yang perlu mendapat perhatian ekstra.
  • Pentingnya memilih popok dengan material yang tepat.
  • Mengusung teknologi SAP Thin Core.
Jakarta: Jakarta: Perawatan kulit bayi tidak bisa disamakan dengan orang dewasa. Struktur kulit yang masih berkembang, membuat bayi jauh lebih rentan mengalami iritasi hingga infeksi, jika tidak dirawat dengan tepat sejak awal.

Secara fisiologis, kulit bayi memang memiliki karakteristik yang berbeda, dibandingkan kulit orang dewasa. Perbedaan ini bukan karena perubahan zaman atau cuaca, melainkan karena proses perkembangan alami, yang masih berlangsung pada masa awal kehidupan.

“Secara struktur, kulit bayi itu sekitar 30 persen lebih tipis, dibandingkan kulit orang dewasa. Ikatan antar selnya juga masih longgar, sehingga fungsi perlindungannya belum optimal,” jelas dr. July Iriani Rahardja, SpDVE, MM, FINSDV, Board Certified Dermatologist dalam acara Konferensi Pers Peluncuran MAKUKU Slim Luxury Silky di Lippo Mall Puri Jakarta Barat, Jum'at (24/04/26).



Konferensi Pers Peluncuran MAKUKU Slim Luxury Silky di Lippo Mall Puri Jakarta Barat, Jum'at (24/04/26). Dok. Ist

Kondisi tersebut, membuat lapisan pelindung kulit atau skin barrier pada bayi belum bekerja dengan sempurna. Akibatnya, kulit bayi lebih mudah kehilangan cairan, sehingga cenderung lebih kering. Selain itu, zat asing seperti alergen, bakteri, maupun virus juga lebih mudah masuk ke dalam kulit.

“Karena skin barrier belum matang, kulit bayi jadi lebih mudah mengalami iritasi, kemerahan, bahkan infeksi. Gesekan ringan saja bisa berdampak karena kulitnya masih sangat sensitif,” lanjutnya.

Proses pematangan kulit bayi sendiri berlangsung secara bertahap, terutama selama beberapa bulan hingga satu tahun pertama kehidupan. Dalam periode ini, perlindungan terhadap kulit, menjadi sangat penting untuk mencegah gangguan, yang bisa berdampak jangka panjang.

Salah satu faktor yang sering luput dari perhatian adalah penggunaan popok. Popok menjadi benda yang paling lama bersentuhan langsung dengan kulit bayi, sehingga berpotensi menimbulkan masalah jika tidak digunakan dengan tepat.

“Bayi belum bisa menyampaikan rasa tidak nyaman. Biasanya ditunjukkan dengan rewel atau sulit tidur. Padahal, bisa saja itu tanda awal iritasi, yang belum terlihat secara kasat mata,” ujar dr. July.

Ketidaknyamanan yang terus berlangsung dapat memengaruhi kualitas tidur bayi. Jika dibiarkan, kondisi ini bahkan bisa berdampak pada tumbuh kembang, termasuk nafsu makan dan kestabilan emosi.

Menurut dr. July, banyak kasus di mana iritasi kulit sebenarnya sudah mulai terjadi, tetapi belum terlihat jelas. Namun, bayi sudah lebih dulu merasakan sensasi tidak nyaman, seperti panas atau perih.

Untuk mencegah kondisi tersebut, langkah preventif dinilai jauh lebih penting dibandingkan pengobatan. Pemilihan popok dengan bahan yang lembut, daya serap baik, serta rutin mengganti popok, menjadi kunci utama menjaga kesehatan kulit bayi.

“Kalau skin barrier sudah rusak, proses pemulihannya tidak mudah. Oleh karena itu, pencegahan sejak awal, jauh lebih penting daripada menunggu sampai iritasi terjadi,” tegasnya.

Jika iritasi masih ringan, perawatan sederhana, seperti penggunaan pelembap atau krim pelindung kulit dapat membantu meredakan keluhan. Namun, jika kondisi sudah parah atau muncul ruam yang luas, pemeriksaan ke tenaga medis diperlukan agar mendapatkan penanganan yang tepat.

Selain faktor perawatan, kondisi kulit bayi juga dipengaruhi oleh faktor genetik. Setiap bayi memiliki tingkat sensitivitas kulit yang berbeda, sehingga respons terhadap produk atau lingkungan juga bisa beragam.

Dalam kesempatan yang sama, dr. July juga mengingatkan bahwa setiap anak, memiliki proses tumbuh kembang yang berbeda. Oleh karena itu, pendekatan perawatan harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing, tanpa membandingkan dengan anak lain.

“Setiap anak itu unik, termasuk kondisi kulitnya. Yang penting adalah memahami kebutuhan masing-masing, dan tidak memaksakan standar yang sama,” tutup dr. July.

Secillia Nur Hafifah

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH