FAMILY
Ruam Popok pada Bayi Masih Umum Terjadi, Ini Cara Mencegahnya
A. Firdaus
Kamis 23 April 2026 / 20:58
- Dalam 1.000 hari pertama, kulit bayi masih mengalami proses pematangan.
- Area popok menjadi bagian yang paling rentan karena minim sirkulasi udara.
- Berbagai pengujian menunjukkan bahwa produk popok dengan standar dermatologis dapat meminimalkan risiko iritasi.
Jakarta: Ruam popok masih menjadi salah satu masalah kulit yang umum dialami bayi. Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai diaper dermatitis, yang biasanya dipicu oleh kombinasi kelembapan, kontak berkepanjangan dengan urine dan feses, serta gesekan pada kulit bayi yang masih sensitif.
Head of Marketing MAKUKU Indonesia, Sulistyowati, menjelaskan bahwa ruam popok tidak hanya berkaitan dengan faktor kebersihan, tetapi juga kondisi kulit bayi yang masih dalam tahap perkembangan.
“Diperlukan pendekatan menyeluruh, mulai dari kebiasaan perawatan hingga pemilihan produk yang tepat,” ujar Sulistyowati.
Pada masa awal kehidupan, terutama dalam 1.000 hari pertama, kulit bayi masih mengalami proses pematangan. Lapisan pelindung kulit belum berfungsi optimal, sehingga lebih mudah terpapar iritasi dari berbagai faktor eksternal seperti kelembapan, suhu, dan gesekan.
Area popok menjadi bagian yang paling rentan karena minim sirkulasi udara dan cenderung lembap. Kondisi ini dapat memicu perubahan pH kulit, yang pada akhirnya meningkatkan risiko iritasi dan kemerahan.
Kontak terlalu lama dengan urine dan feses juga memperparah kondisi tersebut, sehingga menjaga area popok tetap bersih dan kering menjadi langkah utama pencegahan.
Dalam praktik sehari-hari, orang tua disarankan mengganti popok secara rutin, idealnya setiap 2–4 jam. Selain itu, penting memastikan kulit bayi benar-benar bersih dan kering sebelum menggunakan popok baru.
Memberikan waktu bagi kulit untuk “bernapas” atau mendapatkan sirkulasi udara yang cukup juga dapat membantu menjaga keseimbangan kondisi kulit bayi.
Seiring meningkatnya kesadaran akan kesehatan kulit bayi, inovasi pada produk popok juga terus berkembang. Salah satunya melalui teknologi Super Absorbent Polymer (SAP), yang mampu menyerap dan mengunci cairan lebih optimal dibandingkan bahan konvensional.
Teknologi ini membantu mengurangi kontak langsung antara cairan dan kulit bayi, sehingga permukaan kulit tetap lebih kering selama penggunaan.
Selain daya serap, aspek keamanan dan toleransi kulit juga menjadi perhatian. Produk popok yang telah melalui uji dermatologis dinilai lebih aman untuk kulit bayi yang sensitif.
Berbagai pengujian menunjukkan bahwa produk popok dengan standar dermatologis dapat meminimalkan risiko iritasi. Namun, perawatan harian tetap menjadi faktor utama dalam menjaga kesehatan kulit bayi.
Karena itu, edukasi kepada orang tua menjadi hal penting, tidak hanya dalam memilih produk, tetapi juga dalam memahami cara perawatan kulit bayi secara menyeluruh.
“Melalui inovasi produk dan edukasi berkelanjutan, kami ingin membantu orang tua lebih tenang dalam merawat kesehatan kulit bayi sehari-hari,” tutup Sulistyowati.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Head of Marketing MAKUKU Indonesia, Sulistyowati, menjelaskan bahwa ruam popok tidak hanya berkaitan dengan faktor kebersihan, tetapi juga kondisi kulit bayi yang masih dalam tahap perkembangan.
“Diperlukan pendekatan menyeluruh, mulai dari kebiasaan perawatan hingga pemilihan produk yang tepat,” ujar Sulistyowati.
Kulit Bayi Masih Rentan Iritasi
Pada masa awal kehidupan, terutama dalam 1.000 hari pertama, kulit bayi masih mengalami proses pematangan. Lapisan pelindung kulit belum berfungsi optimal, sehingga lebih mudah terpapar iritasi dari berbagai faktor eksternal seperti kelembapan, suhu, dan gesekan.
Area popok menjadi bagian yang paling rentan karena minim sirkulasi udara dan cenderung lembap. Kondisi ini dapat memicu perubahan pH kulit, yang pada akhirnya meningkatkan risiko iritasi dan kemerahan.
Kontak terlalu lama dengan urine dan feses juga memperparah kondisi tersebut, sehingga menjaga area popok tetap bersih dan kering menjadi langkah utama pencegahan.
Perawatan sederhana yang penting
Dalam praktik sehari-hari, orang tua disarankan mengganti popok secara rutin, idealnya setiap 2–4 jam. Selain itu, penting memastikan kulit bayi benar-benar bersih dan kering sebelum menggunakan popok baru.
Memberikan waktu bagi kulit untuk “bernapas” atau mendapatkan sirkulasi udara yang cukup juga dapat membantu menjaga keseimbangan kondisi kulit bayi.
Peran inovasi produk popok
Seiring meningkatnya kesadaran akan kesehatan kulit bayi, inovasi pada produk popok juga terus berkembang. Salah satunya melalui teknologi Super Absorbent Polymer (SAP), yang mampu menyerap dan mengunci cairan lebih optimal dibandingkan bahan konvensional.
Teknologi ini membantu mengurangi kontak langsung antara cairan dan kulit bayi, sehingga permukaan kulit tetap lebih kering selama penggunaan.
Selain daya serap, aspek keamanan dan toleransi kulit juga menjadi perhatian. Produk popok yang telah melalui uji dermatologis dinilai lebih aman untuk kulit bayi yang sensitif.
Pentingnya edukasi orang tua
Berbagai pengujian menunjukkan bahwa produk popok dengan standar dermatologis dapat meminimalkan risiko iritasi. Namun, perawatan harian tetap menjadi faktor utama dalam menjaga kesehatan kulit bayi.
Karena itu, edukasi kepada orang tua menjadi hal penting, tidak hanya dalam memilih produk, tetapi juga dalam memahami cara perawatan kulit bayi secara menyeluruh.
“Melalui inovasi produk dan edukasi berkelanjutan, kami ingin membantu orang tua lebih tenang dalam merawat kesehatan kulit bayi sehari-hari,” tutup Sulistyowati.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)