Kenapa Seseorang Bisa Tega Membunuh Orang Terdekat? Ini Penjelasan Psikolog Efnie
- Kekerasan ekstrem nggak selalu dipicu ledakan emosi atau kehilangan kendali.
- Rendahnya empati dan keinginan mengendalikan orang lain bisa menjadi faktor risiko kekerasan.
- Sikap posesif, ancaman, dan intimidasi merupakan tanda bahaya dalam hubungan.
Jakarta: Kasus pembunuhan disertai mutilasi terhadap seorang ibu dan anak di Madiun, Jawa Timur, menggemparkan publik.
Terlebih, tersangka dalam kasus ini merupakan orang terdekat korban, yakni Dwi Bagus Martono (40), suami siri Dini Hardiyanti (30).
Dini dan anaknya yang berusia 4 tahun diduga dibunuh pada September 2026.
Kasus ini terungkap setelah keluarga melaporkan hilangnya kedua korban pada 5 Oktober 2026. Polisi kemudian menangkap Dwi di Jombang pada 25 Oktober 2026.
Peristiwa ini kembali memunculkan pertanyaan besar: bagaimana seseorang bisa tega melakukan kekerasan ekstrem terhadap orang terdekatnya sendiri?
Psikolog Efnie Indrianie, S.Psi., M.Psi. menjelaskan bahwa tindakan tersebut gak bisa disederhanakan sebagai akibat marah atau kehilangan kesabaran.
Bukan sekadar kehilangan kendali emosi
Menurut Psikolog Efnie, ada sejumlah faktor psikologis yang mungkin berperan, seperti rendahnya empati, kebutuhan mengendalikan orang lain, rasa kepemilikan berlebihan terhadap pasangan, hingga pola pikir yang membenarkan kekerasan.
Risiko kekerasan bisa meningkat ketika seseorang nggak lagi memandang pasangan sebagai individu yang punya hak dan perasaan, melainkan sosok yang harus selalu tunduk pada keinginannya.
Dari perspektif bio-neuropsikologi, sistem limbik, termasuk amigdala, berperan dalam pemrosesan emosi.
Sementara itu, korteks prefrontal membantu mengendalikan impuls dan mempertimbangkan konsekuensi tindakan.
Namun, kekerasan ekstrem tak otomatis disebabkan gangguan mental atau kerusakan otak.
Psikolog Efnie menegaskan, penjelasan tersebut merupakan gambaran faktor psikologis secara umum dan belum bisa digunakan untuk menyimpulkan kondisi maupun motif tersangka dalam kasus Madiun.
Untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dalam pikiran tersangka, diperlukan pemeriksaan psikologis forensik secara langsung.
Kenali tanda bahaya dalam hubungan
Psikolog Efnie mengingatkan, ada sejumlah perilaku yang perlu diwaspadai, terutama jika muncul berulang dan semakin meningkat.
Beberapa di antaranya adalah:
- sikap posesif berlebihan
- mengontrol pergaulan
- membatasi hubungan dengan keluarga
- sering mengancam
- menggunakan intimidasi
- ancaman pembunuhan
- perilaku membuntuti, dan
- tindakan mencekik juga merupakan sinyal bahaya serius.
Jika menghadapi situasi tersebut, jangan menormalisasi kekerasan sebagai bentuk cinta atau perhatian.
Bangun dukungan dari orang tepercaya dan cari bantuan profesional maupun perlindungan ketika muncul ancaman.
"Hubungan yang sehat dibangun atas dasar rasa aman, bukan rasa takut. Cinta tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan kebebasan, martabat, apalagi keselamatan hidupnya," tutup Psikolog Efnie.
Desi I.
(TIN)