Jakarta: Berhutang bukanlah hal yang salah ketika itu bekaitan dengan kebutuhan mendesak. Namun sayangnya, ada orang yang memang hobinya berhutang.
Kira-kira apa alasan seseorang bisa sering berhutang sementara yang lain tidak?
Menurut Psikolog Klinis Dewasa, Yulius Steven, M.Psi dari Sahabat Kariib, hal ini berkaitan dengan kontrol diri. Orang yang suka berhutang cenderung memiliki kontrol yang lebih lemah.
“Masalah perhutangan ini di psikologi sangat-sangat terkait dengan namanya self-control. Setiap orang punya kebutuhannya masing-masing, tujuan, dan keinginan. Namun, ada beberapa orang bisa menunda keinginannya, ada juga yang harus langsung terpenuhi. Yang ingin langsung terpenuhi menggunakan jalan dengan berhutang,” ungkapnya.
Berhutang wajar saja bila memang lebih digemari. Karena ini adalah cara yang cepat dan mudah untuk mendapatkan suatu kepuasan.
“Mereka punya kontrol diri kurang baik sehingga mereka harus mencari jalan cepat atau langsung untuk mendapat keinginanan.

(Delayed gratification bisa membuat kamu puas karena ternyata kamu bisa menahan diri, sabar, rasional, dan risiko menyesal rendah. Foto: Ilustrasi. Dok. Unsplash.com)
Yulius mengatakan biasanya hal tersebut terjadi pada orang yang self-control-nya lemah atau kurang terbentuk dengan baik.
Bila dipikir-pikir, sesungguhnya behutang tidak terlalu menguntungkan. Ada istilah dari psikologi yang disebut dengan delayed gratification yang perlu orang-orang coba.
“Delayed gratification adalah kepuasan yang didapat karena kita telah berhasil menunda keinginan kita. Misalnya, kita nabung uang beli mobil secara cash, itu adalah salah satu contoh delayed gratification. Kita kumpulin uang dulu lalu membeli keinginan kita,” jelasnya.
“Dengan ini, orang-orang itu akan dapat kepuasan yang lebih walaupun barangnya sama namun value kepuasannya akan lebih bagus ketika seseorang bisa menunda,” lanjutnya.
Delayed gratification bisa membuat kamu puas karena ternyata kamu bisa menahan diri, sabar, rasional, dan risiko menyesal rendah. Bahkan, kamu mendapatkan keuntungan secara finansial (bila dalam konteks menyicil yang ada bunganya).
“Sementara kalau langsung beli dengan sistem cicil, pasti kepuasannya tak akan sepuas yang orang menabung tadi karena kita tak tahu apakah itu adalah keinginan kita terdalam,” terang Yulius.
Pinjaman online ada di depan mata
Menurut Yulius internet membuat kita melihat segala hal seakan di depan mata. Segala kebutuhan seakan bisa terpenuhi dengan klik saja. Termasuk pinjaman uang dan ternyata pinjaman lewat internet ini banyak juga peminatnya.
Ia menuturkan bahwa smartphone sekarang bukan hal mewah lagi. Kuota bukan hal langka. Segala macam sudah online. Jadi semuanya sudah di depan mata. Kalau seperti itu, kita akan lebih tertarik. Fokusnya akan lebih terdorong ke sana.

(Internet membuat kita bisa menemukan segala hal termasuk pinjaman uang. Foto: Ilustrasi. Dok. Unsplash.com)
Bahkan, syarat dan ketentuan pinjaman online juga lebih sederhana dibandingkan pinjaman konvensional. Orang yang malas mengikuti yang rumit tentunya akan lebih tertarik dengan pinjaman online.
“Pinjaman online menawarkan kemudahan-kemudahan yang memang tidak bisa sepenuhnya ditawarkan dengan pinjaman konvensional. Misalnya, dokumen-dokumen di pinjaman konvensional lebih rumit. Sedangkan, di pinjaman online lebih gampang,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(yyy)