FAMILY

Tetap Waras Saat Bayi Rewel, Ini 4 Tips untuk Moms Menghadapi Tangisan Tanpa Kehilangan Kendali

A. Firdaus
Jumat 06 Maret 2026 / 13:10
Ringkasnya gini..
  • Tangisan bukan tanda kegagalan.
  • Tidak semua tangisan bisa dihentikan dengan cepat.
  • Tubuh yang lelah dan kurang istirahat lebih mudah tersulut emosi.
Jakarta: Tangisan bayi yang tak kunjung reda bisa terasa sangat menguras emosi. Apalagi bagi orang tua baru yang masih beradaptasi dengan rutinitas dan tanggung jawab baru.

Rasa lelah, kurang tidur, hingga kebingungan sering bercampur menjadi satu. Kadang muncul perasaan gagal karena berbagai cara sudah dicoba tetapi si kecil tetap menangis. Situasi seperti ini memang tidak mudah.

Namun penting untuk dipahami bahwa fase ini adalah bagian dari proses tumbuh kembang bayi. Tangisan bukan tanda kegagalan, melainkan bentuk komunikasi satu-satunya yang dimiliki bayi.

Dengan pemahaman yang tepat dan pengelolaan emosi yang sehat, momen sulit ini bisa dilalui dengan lebih tenang dan terkendali.
Dilansir dari BabyCenter, berikut empat hal penting yang perlu diingat, saat menghadapi bayi yang sulit ditenangkan.
 

1. Ini bukan kesalahan siapa pun


Saat bayi menolak ditenangkan atau terus menangis, meski sudah digendong dan dipeluk, membuat Moms mudah sekali muncul rasa bersalah. Namun, bayi masih terlalu kecil untuk memahami konsep marah, kecewa, atau menyalahkan.

Kolik dan tangisan berkepanjangan tidak ada hubungannya dengan kemampuan mengasuh. Banyak bayi mengalami fase ini, bahkan dalam keluarga yang penuh perhatian dan kasih sayang. Jadi, kondisi ini bukan cerminan kualitas parenting.
 

2. Tidak perlu menjalani semuanya sendirian


Mengurus bayi adalah tanggung jawab bersama. Jika memiliki pasangan, pembagian tugas sangat membantu, agar tidak ada satu pihak yang kelelahan. Bergantian menenangkan bayi, mengganti popok, atau berjaga di malam hari bisa membuat tubuh dan pikiran lebih seimbang.

Jika memungkinkan, mintalah bantuan keluarga atau teman dekat untuk menjaga bayi sebentar. Waktu singkat untuk berjalan santai, mandi air hangat, atau tidur sejenak bisa mengembalikan energi dan kestabilan emosi.

Jika rasa marah atau frustrasi mulai muncul, tarik napas dalam-dalam. Letakkan bayi dengan lembut dalam posisi telentang di tempat tidur bayi atau keranjang yang aman, lalu menjauh sejenak ke ruangan lain untuk menenangkan diri.

Menenangkan diri bukan berarti menyerah, tetapi bentuk perlindungan bagi bayi dan diri sendiri. Mengguncang bayi dalam kondisi emosi tidak stabil sangat berbahaya dan harus dihindari sepenuhnya.
 

3. Merawat diri sendiri sama pentingnya dengan merawat bayi


Tubuh yang lelah dan kurang istirahat lebih mudah tersulut emosi. Oleh karena itu, penting untuk mencukupi waktu tidur, mengonsumsi makanan bergizi, dan tetap bergerak ringan sangat membantu menjaga kesehatan mental dan fisik.

Perawatan diri bukan bentuk egois, melainkan fondasi agar bisa tetap sabar dan hadir sepenuhnya untuk si kecil.
 

4. Tetap mendampingi meski tangisan belum berhenti


Tidak semua tangisan bisa dihentikan dengan cepat. Ada kalanya bayi memang perlu menangis, untuk melepaskan ketegangan atau rasa tidak nyaman. Dalam situasi seperti itu, kehadiran yang hangat jauh lebih penting daripada keberhasilan menghentikan tangisan.

Terus memeluk, menggendong, mengayun perlahan, atau berbisik lembut memberi rasa aman meski tangisan masih terdengar.

Tangisan tidak menghapus kasih sayang. Justru di tengah tangisan itulah ikatan emosional sedang dibangun. Kesabaran dan konsistensi akan membantu bayi merasa dicintai dan dilindungi, bahkan saat dunia terasa tidak nyaman bagi mereka.

Secillia Nur Hafifah

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH