Jakarta: Pada era modern seperti sekarang ini, berpacaran di usia remaja menjadi hal yang cukup biasa. Meski begitu, orang tua sebaiknya tetap harus mengawasi para remaja yang berpacaran agar gaya pacaran mereka tidak berlebihan atau sampai merugikan diri sendiri dan orang lain.
Roslina Verauli, M.Psi., Psi, seorang psikolog klinis anak, remaja, dan keluarga mengungkapkan fakta-fakta mengenai berpacaran pada remaja, diantaranya:
Riwayat berpacaran
Pada era 1700 – 1800, berpacaran diatur oleh orang tua. Pihak laki-laki secara formal berkunjung ke rumah keluarga perempuan ditemani oleh teman atau kerabatnya. Tujuannya, hanya sekedar saling mengenal satu sama lain. Laki-laki dan perempuan tak diizinkan berduaan, meski setelah perkenalan resmi sekalipun. Selain itu juga tidak dianjurkan mengenal satu orang saja karena khawatir menutup kesempatan bagi yang lain untuk berkenalan juga.
Pola kencan mulai mengalami perubahan di penghujung abad ke-19 hingga awal abad ke-10. Dating atau berkencan tidak seformal sebelumnya, di mana pasangan muda lebih bebas bertemu tanpa pengawasan orang tua meski orang tua masih punya kendali dalam memilih pasangan hidup.
Namun, setelah Perang Dunia I, pola pacaran berubah menjadi lebih bebas tanpa kontrol orang tua bahkan pasangan muda bisa pergi sesering yang mereka suka. Perempuan bahkan tidak segan-segan untuk bertemu dengan satu lelaki saja terus menerus tanpa komitmen pernikahan.
(Dating atau berkencan tidak seformal sebelumnya, di mana pasangan muda lebih bebas bertemu tanpa pengawasan orang tua. Foto: Ilustrasi. Dok. Freepik.com)
Pacaran di usia remaja
Remaja memiliki sejumlah tujuan saat pacaran, antara lain sekedar bersenang-senang, mengenal lawan jenis, memiliki teman dekat, atau mengembangkan pertemanan, hingga untuk mencoba-coba melakukan aktivitas seksual.
Padahal, di usia remaja cinta masih bersifat sementara. Beda situasi dan lingkungan, beda pula cintanya. Itulah mengapa disebut sebagai puppy love. Persis seperti anak anjing (puppy) yang jatuh cinta pada tuan rumah di tempat ia tinggal. Pindah rumah, pindah juga tuan yang dicinta. Di Indonesia sendiri ini disebut cinta monyet.
Black dating
Berdasarkan buku karangan Vera, yang berjudul Teenager 911, dari sejumlah data disebutkan bahwa setengah dari remaja usia 13 – 19 tahun pernah mengalami kekerasan dalam hubungan berpacaran. Laporan dari Komnas Perempuan (2017) menyebutkan bahwa ada 2.100 kasus kekerasan dalam berpacaran.
Kekerasan dalam berpacaran yang paling sering terjadi pada remaja adalah date rape. Kekerasan date rape ini pula yang paling sering ditutupi bahkan dirahasiakan karena dianggap memalukan dan atau demi cinta pada pacar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(yyy)