FAMILY

Overthinking karena Cemburu? Kenali 12 Pola Pikir yang Sering Bikin Hubungan Makin Rumit

A. Firdaus
Rabu 17 Juni 2026 / 13:50
Ringkasnya gini..
  • Ketika perasaan ini dipenuhi berbagai asumsi negatif dan ketakutan yang berlebihan, cemburu dapat berkembang menjadi overthinking.
  • Memahami pola pikir yang muncul saat cemburu menjadi langkah penting untuk mengelola emosi dengan lebih sehat
  • Pendekatan Emotional Schema Therapy (EST) yang sejalan dengan prinsip Cognitive Behavioral Therapy (CBT).
Jakarta: Cemburu merupakan emosi, yang normal dan hampir pernah dirasakan oleh setiap orang dalam sebuah hubungan. Dalam kadar yang wajar, rasa cemburu bisa menjadi tanda adanya kepedulian dan keterikatan emosional terhadap pasangan. 

Namun, ketika perasaan ini dipenuhi berbagai asumsi negatif dan ketakutan yang berlebihan, cemburu dapat berkembang menjadi overthinking, yang mengganggu hubungan maupun kesehatan mental.

Menurut para ahli, rasa cemburu sering kali bukan hanya dipicu oleh situasi yang terjadi, tetapi juga oleh cara seseorang menafsirkan situasi tersebut. Oleh karena itu, memahami pola pikir yang muncul saat cemburu menjadi langkah penting untuk mengelola emosi dengan lebih sehat.
 

12 pola pikir yang sering memicu rasa cemburu


Dilansir dari Psychology Today, dalam pendekatan Emotional Schema Therapy (EST) yang sejalan dengan prinsip Cognitive Behavioral Therapy (CBT), terdapat sejumlah pola pikir irasional yang sering memperkuat rasa cemburu.

1. Membaca pikiran, yaitu menganggap tahu apa yang sedang dipikirkan orang lain tanpa bukti yang jelas.

2. Meramal masa depan, seperti langsung berasumsi bahwa hal buruk akan terjadi dalam hubungan.

3. Merasa tidak mampu menghadapi kemungkinan buruk, misalnya meyakini bahwa diri sendiri tidak akan sanggup jika hubungan mengalami masalah.

4. Memberi label negatif pada diri sendiri, seperti menganggap diri tidak menarik atau tidak cukup baik.

5. Mengabaikan hal-hal positif, meski hubungan sebenarnya berjalan dengan baik.

6. Fokus hanya pada hal negatif, sehingga berbagai momen positif menjadi terabaikan.

7. Generalisasi berlebihan, yaitu menarik kesimpulan besar dari satu kejadian kecil.

8. Pemikiran hitam-putih, yang melihat hubungan hanya dalam dua kemungkinan, yaitu sempurna atau gagal.

9. Terlalu banyak aturan 'harus', seperti keyakinan bahwa pasangan tidak boleh tertarik pada siapa pun selain dirinya.

10. Memersonalisasi, dengan menganggap semua tindakan pasangan berkaitan dengan kekurangan diri sendiri.

11. Menyalahkan, yaitu menganggap orang lain sebagai penyebab utama emosi negatif yang dirasakan.

12. Penalaran emosional, yakni mempercayai bahwa perasaan negatif yang muncul pasti mencerminkan kenyataan.
 

Belajar mengenali dan mengelola pikiran negatif


Para ahli menjelaskan bahwa langkah pertama untuk mengurangi kecemburuan berlebihan, yaitu mengenali pola pikir yang muncul saat emosi tersebut datang. Dengan menyadari adanya bias dalam cara berpikir, seseorang dapat lebih mudah membedakan antara fakta dan asumsi.

Salah satu metode yang sering digunakan adalah mencatat pikiran-pikiran negatif, yang muncul sepanjang hari, kemudian meninjaunya kembali secara lebih objektif. Cara ini membantu melihat apakah kekhawatiran, yang dirasakan benar-benar didukung oleh bukti atau hanya berasal dari ketakutan semata.

Secillia Nur Hafifah

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH