FAMILY
Anak Suka Mukul dan Bilang 'Ngak Kok'? Jangan Panik, Ini Rahasia Ngadepinnya
Yatin Suleha
Sabtu 21 Maret 2026 / 10:05
- Perilaku seperti mengamuk, memukul, menggigit, atau berteriak sering terjadi pada anak balita.
- Fase seperti “terrible twos” atau masa ketika anak berusia tiga tahun sering membuat orang tua kewalahan.
- Balita mulai menyadari bahwa mereka memiliki keinginan sendiri, dan ingin mencoba berbagai hal.
Jakarta: Perilaku seperti mengamuk, memukul, menggigit, atau berteriak sering terjadi pada anak balita. Pada usia ini, anak memang sedang belajar memahami emosi dan cara mengekspresikannya.
Fase seperti “terrible twos” atau masa ketika anak berusia tiga tahun sering membuat orang tua kewalahan, karena perubahan sikap yang tiba-tiba. Meski terlihat sulit dihadapi, perilaku tersebut sebenarnya merupakan bagian dari proses perkembangan yang normal.
Balita mulai menyadari bahwa mereka memiliki keinginan sendiri, dan ingin mencoba berbagai hal. Pada saat yang sama, kemampuan berbahasa dan mengendalikan emosi masih berkembang. Hal inilah yang sering memicu ledakan emosi atau perilaku yang kurang menyenangkan.
Dilansir dari BabyCenter, para ahli menyebutkan bahwa balita sebenarnya sudah bisa mulai belajar mengikuti aturan di rumah. Oleh karena itu, masa ini menjadi waktu yang tepat untuk mengenalkan batasan dan kebiasaan yang baik.
Penting juga untuk tidak merespons perilaku anak dengan memukul atau berteriak. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa hukuman fisik, maupun teriakan berulang tidak efektif memperbaiki perilaku anak, bahkan dapat berdampak buruk pada kesehatan fisik serta mental mereka.
.jpg)
(Saat ia tidak mengaku, anak mulai memahami bahwa mereka memiliki kemandirian, dan ingin menunjukkan pilihan sendiri. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Banyak balita mulai sering mengucapkan kata “tidak” dalam berbagai situasi. Meski terdengar menantang, sikap ini sebenarnya merupakan bagian dari perkembangan yang normal. Anak mulai memahami bahwa mereka memiliki kemandirian, dan ingin menunjukkan pilihan sendiri.
Mengatakan “tidak” juga menjadi cara bagi balita, untuk mencoba memahami batasan yang ada di sekitarnya. Anak sedang belajar mana hal yang boleh dilakukan dan mana yang tidak.
Untuk mengurangi penolakan, coba berikan pilihan sederhana. Misalnya, memilih baju yang ingin dipakai atau menentukan mainan yang ingin dimainkan. Cara ini membantu anak merasa memiliki kendali tanpa harus menolak semuanya.
Namun, tetap perlu tegas pada hal yang menyangkut keselamatan, seperti duduk di kursi mobil atau aturan penting lainnya.
Perilaku agresif seperti memukul atau menggigit juga cukup sering terjadi pada balita. Hal ini biasanya muncul, karena anak belum mampu menyampaikan perasaan dengan kata-kata. Ketika merasa marah, frustrasi, atau kesal, emosi tersebut bisa muncul dalam bentuk tindakan fisik.
Saat perilaku ini terjadi, hal paling penting adalah tetap tenang. Reaksi yang terlalu emosional justru bisa membuat situasi semakin sulit.
Segera hentikan perilaku tersebut dengan memisahkan anak dari situasi yang memicu kemarahan. Ajak anak menenangkan diri sejenak.
Jelaskan secara singkat bahwa memukul, menggigit, menendang, atau mendorong tidak diperbolehkan karena dapat menyakiti orang lain.
Anak juga perlu diberi pemahaman bahwa merasa marah atau sedih adalah hal yang wajar, tetapi menyakiti orang lain bukanlah cara yang tepat.
Setelah itu, berikan alternatif untuk menyalurkan emosi. Misalnya menggigit mainan khusus, merobek kertas, atau memukul adonan mainan seperti Play-Doh. Cara-cara ini membantu anak belajar mengekspresikan emosi dengan lebih aman.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Fase seperti “terrible twos” atau masa ketika anak berusia tiga tahun sering membuat orang tua kewalahan, karena perubahan sikap yang tiba-tiba. Meski terlihat sulit dihadapi, perilaku tersebut sebenarnya merupakan bagian dari proses perkembangan yang normal.
Balita mulai menyadari bahwa mereka memiliki keinginan sendiri, dan ingin mencoba berbagai hal. Pada saat yang sama, kemampuan berbahasa dan mengendalikan emosi masih berkembang. Hal inilah yang sering memicu ledakan emosi atau perilaku yang kurang menyenangkan.
Dilansir dari BabyCenter, para ahli menyebutkan bahwa balita sebenarnya sudah bisa mulai belajar mengikuti aturan di rumah. Oleh karena itu, masa ini menjadi waktu yang tepat untuk mengenalkan batasan dan kebiasaan yang baik.
Penting juga untuk tidak merespons perilaku anak dengan memukul atau berteriak. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa hukuman fisik, maupun teriakan berulang tidak efektif memperbaiki perilaku anak, bahkan dapat berdampak buruk pada kesehatan fisik serta mental mereka.
Sering mengatakan “tidak”
.jpg)
(Saat ia tidak mengaku, anak mulai memahami bahwa mereka memiliki kemandirian, dan ingin menunjukkan pilihan sendiri. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Banyak balita mulai sering mengucapkan kata “tidak” dalam berbagai situasi. Meski terdengar menantang, sikap ini sebenarnya merupakan bagian dari perkembangan yang normal. Anak mulai memahami bahwa mereka memiliki kemandirian, dan ingin menunjukkan pilihan sendiri.
Mengatakan “tidak” juga menjadi cara bagi balita, untuk mencoba memahami batasan yang ada di sekitarnya. Anak sedang belajar mana hal yang boleh dilakukan dan mana yang tidak.
Untuk mengurangi penolakan, coba berikan pilihan sederhana. Misalnya, memilih baju yang ingin dipakai atau menentukan mainan yang ingin dimainkan. Cara ini membantu anak merasa memiliki kendali tanpa harus menolak semuanya.
Namun, tetap perlu tegas pada hal yang menyangkut keselamatan, seperti duduk di kursi mobil atau aturan penting lainnya.
Memukul dan menggigit
Perilaku agresif seperti memukul atau menggigit juga cukup sering terjadi pada balita. Hal ini biasanya muncul, karena anak belum mampu menyampaikan perasaan dengan kata-kata. Ketika merasa marah, frustrasi, atau kesal, emosi tersebut bisa muncul dalam bentuk tindakan fisik.
Saat perilaku ini terjadi, hal paling penting adalah tetap tenang. Reaksi yang terlalu emosional justru bisa membuat situasi semakin sulit.
Segera hentikan perilaku tersebut dengan memisahkan anak dari situasi yang memicu kemarahan. Ajak anak menenangkan diri sejenak.
Jelaskan secara singkat bahwa memukul, menggigit, menendang, atau mendorong tidak diperbolehkan karena dapat menyakiti orang lain.
Baca Juga :
7 Cara Toilet Training untuk Anak Laki-laki
Anak juga perlu diberi pemahaman bahwa merasa marah atau sedih adalah hal yang wajar, tetapi menyakiti orang lain bukanlah cara yang tepat.
Setelah itu, berikan alternatif untuk menyalurkan emosi. Misalnya menggigit mainan khusus, merobek kertas, atau memukul adonan mainan seperti Play-Doh. Cara-cara ini membantu anak belajar mengekspresikan emosi dengan lebih aman.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)