FAMILY

Menangani Sexting pada Remaja, Orang Tua Wajib Tahu Caranya

Mia Vale
Rabu 23 November 2022 / 11:00
Jakarta: Teknologi semakin canggih. Cukup dengan satu jentikan jari, semua informasi dari dunia maya akan terbuka. Untuk itu diperlukan pengawasan ekstra dari orang tua terhadap anak-anak, utamanya para remaja. Dan tentunya, sangat penting bagi orang tua untuk melewati emosi yang tidak nyaman demi melindungi dan membimbing anak-anak mereka.

Dalam hal sexting, misalnya. Di kalangan remaja, sexting bukanlah hal yang asing bagi mereka. Jika chatting adalah saling bertukar teks lewat ponsel, maka cakupan sexting biasa dilakukan dalam bentuk teks yang membicarakan adegan seksual tertentu dengan intens dan seringkali disertai dengan foto selfie dengan pose seksi. 

Nah, untuk berhasil menavigasi percakapan tentang perkembangan dan teknologi seksual yang sehat, orang tua harus terlebih dulu memahami mengapa anak-anak melakukan sexting dan potensi konsekuensinya.

Menurut sebuah studi oleh National Library of Medicine, yang melibatkan 656 siswa SMA pada tahun 2017 menemukan bahwa 40,5 persen remaja laki-laki dan 30,6 persen remaja perempuan pernah menerima foto telanjang. 


(Cakupan sexting biasa dilakukan dalam bentuk teks yang membicarakan adegan seksual tertentu. Foto: Ilustrasi. Dok. Freepik.com)

Ingat, jangan terlalu keras pada diri sendiri saat mengetahui anak kedapatan melakukan sexting. Hina Talib, Dokter Spesialis Anak dan Pengobatan Remaja, melalui laman Hindustan Times, menyarankan cara menangani sexting pada remaja, di antaranya:


1. Tarik nafas yang dalam. Sebagai orang tua tentu akan merasa marah, takut, malu, hingga merasa gagal mendidik anak. Namun kamu tak sendiri, di luar sana ada jutaan orang tua yang mengalami masalah yang sama.

2. Ajak anak bicara soal keamanan dan konsekuensi yang akan ia hadapi jika melakukan hal tersebut.

3. Bertanya padanya kepada siapa saja ia pernah mengirimkan teks maupun foto seksinya kepada orang lain.

4. Tanyakan apa materi pornografi yang ia kirimkan tersebut miliknya pribadi ataukah orang lain.

5. Ajak bicara tentang konsekuensi hukum yang harus ia hadapi jika memang yang mengajaknya sexting adalah orang dewasa. Ingatkan, bahwa anak di bawah umur mendapatkan perlindungan hukum negara dari orang dewasa dan dapat dihukumi sebagai tindakan pedofilia.

6. Berbicara dari hati ke hati tentang adanya hal yang sudah terjadi di luar sexting, apakah ada pertemuan langsung maupun lainnya.

7. Ingat, memarahinya hanya akan membuat anak makin rentan karena jika ia adalah tipe yang sering curhat di media sosial, seseorang yang belum tentu aman akan dengan mudah memanipulasinya agar mau bercerita dan ia akan jadi pihak yang rentan dimanfaatkan.

Sebagai orang tua di era milenial, hendaknya bekali diri dengan pengetahuan digital agar  bisa dipercaya anak sebagai orang yang dapat menjadi tempat bertanya mereka. Jangan sampai, perasaan merasa tua mencegahmu untuk mempelajari teknologi dan fenomena terkini seputar dunia internet. 

Memang bukanlah hal mudah. Namun, orang tua bisa menghadapinya dengan baik berbekal pengetahuan yang cukup. Buka pikiran dan jangan biarkan rasa marah dan takut mengendalikan dirimu sepenuhnya.
(yyy)

MOST SEARCH