FAMILY

Gelar Akademik Enggak Menjamin Karier? Cek Pergeseran Mindset Orang Tua Zaman Sekarang

Yatin Suleha
Selasa 07 April 2026 / 19:03
Ringkasnya gini..
  • Pasca pengumuman SNBP 2026 kemarin, media sosial kita enggak cuma penuh sama euforia mereka yang lolos,.
  • Tapi juga mulai diramaikan sama curhatan para orang tua.
  • Kalau kita intip Threads atau X, makin kelihatan nih ada pergeseran cara pandang soal pendidikan tinggi.
Jakarta: Pasca pengumuman SNBP 2026 kemarin, media sosial kita enggak cuma penuh sama euforia mereka yang lolos, tapi juga mulai diramaikan sama curhatan para orang tua. Dalam sepekan terakhir, kalau kita intip Threads atau X, makin kelihatan nih ada pergeseran cara pandang soal pendidikan tinggi.

Bukan tanpa alasan, faktanya dari 800 ribuan siswa yang daftar, cuma sekitar 178 ribuan saja yang berhasil lolos. Angka ini bikin ratusan ribu calon mahasiswa lainnya harus putar otak buat cari jalan alternatif demi masa depan mereka.

Tapi sekarang, perhatian orang-orang enggak cuma soal siapa yang lolos atau gagal masuk kampus impian saja. Obrolan mulai bergeser ke hal yang lebih mendasar: sebenarnya seberapa relevan sih kuliah di zaman sekarang buat menjawab tantangan dunia kerja?
 
Banyak orang tua yang mulai mempertanyakan, "Worth it enggak ya investasi besar buat pendidikan kalau nanti ujung-ujungnya anak enggak siap kerja?" Isu soal lulusan sarjana yang masih menganggur atau kerjanya jauh banget dari bidang studinya pun ramai lagi. Ini benar-benar jadi bahan refleksi kita bareng.

Keresahan ini juga dipicu oleh realitas bahwa bahkan profesi yang selama ini dianggap stabil dan menjanjikan pun tidak sepenuhnya bebas dari risiko pengangguran. 

Hal ini mendorong orang tua untuk mulai berpikir ulang tidak hanya tentang jurusan atau kampus yang dipilih, tetapi juga tentang arah karier jangka panjang anak.

Jika sebelumnya fokus utama adalah memastikan anak masuk ke jurusan atau profesi “impian”, kini mulai muncul kesadaran baru. 


(Faktor lain yang juga kini menjadi perhatian utama dalam hal pendidikan anak salah satunya apakah mampu menjawab kebutuhan industri ke depan.  Foto: Dok. Istimewa)

Orang tua semakin menyadari bahwa realitas industri, kebutuhan pasar kerja, serta dinamika ekonomi harus menjadi pertimbangan utama sejak awal.

Perubahan ini melahirkan pendekatan baru dalam melihat pendidikan tinggi. Orang tua kini tidak lagi hanya mengejar nama besar kampus, tetapi mulai mencari institusi yang mampu membekali mahasiswa menjadi sumber daya manusia yang siap menghadapi dunia kerja.
 

Beberapa faktor yang kini menjadi perhatian utama antara lain:


1. Relevansi kurikulum, yaitu sejauh mana materi pembelajaran mampu menjawab kebutuhan industri ke depan 
2. Ekosistem praktis, seperti program magang terintegrasi dan koneksi dengan dunia kerja 
3. Pengembangan soft skills, termasuk kemampuan komunikasi, adaptasi, dan kepemimpinan 

Fenomena ini menandai bahwa pendidikan tinggi kini semakin diposisikan sebagai investasi strategis jangka panjang, bukan sekadar pencapaian akademik.

Buat banyak keluarga, pertanyaannya sekarang sudah jauh lebih kompleks. Bukan lagi sekadar "anak saya nanti kuliah di mana?" tapi lebih ke "apakah pendidikan yang dipilih benar-benar bisa bikin anak siap menghadapi kerasnya dunia profesional nanti?"
 
Ke depan, tantangan bagi institusi pendidikan di Indonesia tidak hanya terletak pada menerima mahasiswa baru, tetapi juga pada kemampuan untuk membuktikan bahwa mereka dapat menjadi jembatan nyata antara dunia akademik dan dunia kerja.

Di tengah lanskap yang semakin kompetitif dan tidak pasti, institusi yang mampu memberikan arah, relevansi, dan kesiapan karier sejak dini diprediksi akan menjadi pilihan utama bagi orang tua dalam menentukan masa depan pendidikan anak.

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH