FAMILY

IDAI Ingatkan Bahaya Child Grooming, Anak Perlu Ruang Aman di Dunia Nyata dan Digital

A. Firdaus
Rabu 01 April 2026 / 12:15
Ringkasnya gini..
  • IDAI mengapresiasi kebijakan pemerintah.
  • Semakin banyak kasus kejahatan siber.
  • Orang tua tidak terburu-buru menghakimi saat anak bercerita.
Jakarta: Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Piprim Basarah Yanuarso, menekankan pentingnya memberikan ruang aman bagi anak, baik di dunia nyata maupun dunia digital, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi saat ini.

Menurut Piprim, orang tua perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai bentuk kejahatan siber, salah satunya child grooming, yakni manipulasi psikologis yang dilakukan secara terencana untuk membangun kedekatan emosional dengan anak, sebelum akhirnya berujung pada eksploitasi.

“Anak-anak sering kali tidak menyadari bahwa mereka sedang dimanipulasi. Apalagi jika kurang mendapat perhatian di rumah, ketika ada orang asing yang memberi perhatian, mereka bisa merasa senang dan akhirnya terjebak,” ujar Piprim melansir Antara.
 
Sebagai langkah perlindungan, IDAI mengapresiasi kebijakan pemerintah melalui Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Pelindungan Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas). Aturan ini membatasi kepemilikan akun media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun.

Piprim menilai kebijakan tersebut penting, mengingat semakin banyak kasus kejahatan siber, termasuk kekerasan dan eksploitasi seksual yang menyasar anak-anak melalui platform digital.

Untuk mencegah hal tersebut, ia menekankan peran keluarga dalam memberikan perhatian yang cukup kepada anak. Orang tua diharapkan dapat menjadi teman diskusi sekaligus sahabat, sehingga anak tidak merasa kekurangan kasih sayang yang dapat dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab.

Selain itu, aktivitas bersama keluarga seperti olahraga atau makan bersama juga dinilai penting untuk membangun komunikasi yang erat antara orang tua dan anak.

Piprim juga mengingatkan agar orang tua tidak terburu-buru menghakimi saat anak bercerita. Sikap terbuka dan kemampuan menjadi pendengar yang baik akan membuat anak lebih nyaman untuk berbagi, termasuk ketika menghadapi situasi mencurigakan di dunia maya.

“Jika anak lebih memilih lari ke dunia virtual, di situlah potensi bahaya bisa masuk. Karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami pola komunikasi dan hadir secara emosional,” tegasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH