COMMUNITY
Kembangkan Smart Farming untuk Budidaya Jamur dan Tanaman Obat
Aulia Putriningtias
Selasa 29 September 2026 / 11:39
- Budidaya jamur dan tanaman obat keluarga (TOGA) telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari Kelompok Wanita Tani (KWT Cempaka Batan Indah.
- Selain membudidayakan jamur dan tanaman TOGA kelompok ini juga mengolah bunga telang menjadi minuman teh.
- Teknologi smart farming berbasis Internet of Things (loT) untuk mengotomatisasi penyiraman sesuai kondisi tanaman dan lingkungan.
Tangerang Selatan: Budidaya jamur dan tanaman obat keluarga (TOGA) telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari Kelompok Wanita Tani (KWT Cempaka Batan Indah di Kelurahan Kademangan, Tangerang Selatan.
Selain membudidayakan jamur dan tanaman TOGA kelompok ini juga mengolah bunga telang menjadi minuman teh. Namun, penyiraman tanaman dan perawatan kumbung atau tempat budidaya jamur masih dilakukan secara manual.
Kondisi tersebut membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit, terutama karena mayoritas anggota KWT berusia 58-70 tahun. Untuk itu, Himpunan Mahasiswa S1 Farmasi Universitas Pelita Harapan (UPH) menghadirkan pendekatan smart farming.
Melalui teknologi berbasis sensor, mahasiswa membantu KWT meningkatkan efisiensi proses budidaya. Menurut Djona Nababan, salah satu mahasiswa, pada area budidaya jamur atau kumbung, suhu dan kelembapannya perlu dijaga agar jamur dapat tumbuh dengan baik.
"Selama ini, penyiramannya juga masih dilakukan secara manual, begitu juga di area TOGA. Selain itu, banyak daun dari pepohonan di sekitar KWT yang tidak dimanfaatkan dan akhirnya menjadi limbah," jelasnya.
Tim menerapkan smart farming berbasis Internet of Things (loT) untuk mengotomatisasi penyiraman sesuai kondisi tanaman dan lingkungan. Teknologi ini membantu mengurangi pekerjaan manual sekaligus memudahkan anggota KWT memantau kondisi budidaya.
Pada area TOGA, tim menggunakan sistem drip irrigation yang menyalurkan air langsung ke sekitar tanaman berdasarkar pembacaan sensor kelembapan tanah. Sementara itu, kumbung jamur dilengkapi sistem misting berupa semprotan air berbentuk kabut halus.
Selain itu, juga sensor suhu dan kelembapan untuk membantu menjaga kondisi lingkungan sesuai kebutuhan jamur. Sistem tersebut didukung sejumlah perangkat, seperti mikrokontroler ESP32, sensor kelembapan tanah, sensor suhu dan kelembapan udara, pompa air, katup otomatis, nozzle mist, selang drip, filter air, serta tandon air berkapasitas 520 liter.
Data sensor dapat dipantau melalui aplikasi pada smartphone. Hal ini pun berindikasi pada kondisi tanaman dan kumbung yang tidak harus selalu diperiksa secara langsung.
Inovasi mahasiswa tidak berhenti pada otomatisasi penyiraman. Tim juga memanfaatkan daun kering yang sebelumnya menjadi limbah di sekitar area KWT untuk mendukung kegiatan budidaya.
Daun dari area pertanian, lahan TOGA, dan sekitar kumbung dikumpulkan lalu dicacah menggunakan alat yang dikembangkan mahasiswa Teknik Industri. Selanjutnya, daun tersebut diolah menjadi pupuk organik cair (POC) dan kompos padat yang dapat dimanfaatkan kembali untuk tanaman.
"Daun yang sebelumnya hanya menjadi limbah sekarang bisa dimanfaatkan kembali menjadi pupuk organik cair dan kompos. Cairan hasil pengolahannya juga dapat digunakan untuk penyiraman, sehingga hasil olahan daun tetap bisa dimanfaatkan untuk tanaman," ujar Djona.
Melalui penerapan smart farming, tim menargetkan waktu penyiraman dan pemeliharaan berkurang dari sekitar satu hingga dua jam menjadi 15 menit per hari. Sistem juga ditargetkan membantu menjaga kondisi kumbung pada suhu 25-28 °C dan kelembapan 70-80 persen.
Selain itu, turut mengolah lebih dari 70 persen limbah daun menjadi POC dan kompos. Dari sisi usaha, program diharapkan dapat menurunkan biaya operasional, meningkatkan kualitas hasil pertanian, dan mendorong peningkatan laba bersih minimal 15 persen.
"Selain penggunaan teknologi, program ini juga menargetkan sedikitnya 20 anggota KWT mampu mengoperasikan sistem smart farming secara mandiri agar dapat terus berjalan setelah pendampingan mahasiswa selesai," katanya.
"Untuk mendukung keberlanjutan tersebut, mahasiswa memberikan pelatihan dan evaluasi kepada anggota KWT serta melakukan audiensi dengan Kelurahan Kademangan," lanjutnya.
Penerapan smart farming mulai memberikan dampak bagi KWT Cempaka Batan Indah, terutama dalam budidava iamur. Candrawati, Ketua KWT Cempaka Batan Indah, mengatakan sistem misting membantu menjaga kondisi kumbung lebih terkontrol sehingga area ang sebelumnya belum optimal juga mulai menghasilkan jamur.
Menurutnya, masa panen yang sebelumnya sekitar empat bulan kini dapat berlangsung hingga enam bulan. Area ujung kumbung yang sebelumnya belum optimal untuk pertumbuhan jamur juga mulai menghasilkan jamur.
"Selain membantu proses budidaya, program ini juga menambah pengetahuan kami tentang penggunaan teknolog smart farming melalui pelatihan dan evaluasi dari tim mahasiswa," imbuh Candrawati.
(FIR)
Selain membudidayakan jamur dan tanaman TOGA kelompok ini juga mengolah bunga telang menjadi minuman teh. Namun, penyiraman tanaman dan perawatan kumbung atau tempat budidaya jamur masih dilakukan secara manual.
Kondisi tersebut membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit, terutama karena mayoritas anggota KWT berusia 58-70 tahun. Untuk itu, Himpunan Mahasiswa S1 Farmasi Universitas Pelita Harapan (UPH) menghadirkan pendekatan smart farming.
Melalui teknologi berbasis sensor, mahasiswa membantu KWT meningkatkan efisiensi proses budidaya. Menurut Djona Nababan, salah satu mahasiswa, pada area budidaya jamur atau kumbung, suhu dan kelembapannya perlu dijaga agar jamur dapat tumbuh dengan baik.
"Selama ini, penyiramannya juga masih dilakukan secara manual, begitu juga di area TOGA. Selain itu, banyak daun dari pepohonan di sekitar KWT yang tidak dimanfaatkan dan akhirnya menjadi limbah," jelasnya.
Tim menerapkan smart farming berbasis Internet of Things (loT) untuk mengotomatisasi penyiraman sesuai kondisi tanaman dan lingkungan. Teknologi ini membantu mengurangi pekerjaan manual sekaligus memudahkan anggota KWT memantau kondisi budidaya.
Pada area TOGA, tim menggunakan sistem drip irrigation yang menyalurkan air langsung ke sekitar tanaman berdasarkar pembacaan sensor kelembapan tanah. Sementara itu, kumbung jamur dilengkapi sistem misting berupa semprotan air berbentuk kabut halus.
Selain itu, juga sensor suhu dan kelembapan untuk membantu menjaga kondisi lingkungan sesuai kebutuhan jamur. Sistem tersebut didukung sejumlah perangkat, seperti mikrokontroler ESP32, sensor kelembapan tanah, sensor suhu dan kelembapan udara, pompa air, katup otomatis, nozzle mist, selang drip, filter air, serta tandon air berkapasitas 520 liter.
Data sensor dapat dipantau melalui aplikasi pada smartphone. Hal ini pun berindikasi pada kondisi tanaman dan kumbung yang tidak harus selalu diperiksa secara langsung.
Daun yang terbuang menjadi pupuk
Inovasi mahasiswa tidak berhenti pada otomatisasi penyiraman. Tim juga memanfaatkan daun kering yang sebelumnya menjadi limbah di sekitar area KWT untuk mendukung kegiatan budidaya.

Daun dari area pertanian, lahan TOGA, dan sekitar kumbung dikumpulkan lalu dicacah menggunakan alat yang dikembangkan mahasiswa Teknik Industri. Selanjutnya, daun tersebut diolah menjadi pupuk organik cair (POC) dan kompos padat yang dapat dimanfaatkan kembali untuk tanaman.
"Daun yang sebelumnya hanya menjadi limbah sekarang bisa dimanfaatkan kembali menjadi pupuk organik cair dan kompos. Cairan hasil pengolahannya juga dapat digunakan untuk penyiraman, sehingga hasil olahan daun tetap bisa dimanfaatkan untuk tanaman," ujar Djona.
Terdorongnya efisiensi dan keberlanjutan budaya
Melalui penerapan smart farming, tim menargetkan waktu penyiraman dan pemeliharaan berkurang dari sekitar satu hingga dua jam menjadi 15 menit per hari. Sistem juga ditargetkan membantu menjaga kondisi kumbung pada suhu 25-28 °C dan kelembapan 70-80 persen.
Selain itu, turut mengolah lebih dari 70 persen limbah daun menjadi POC dan kompos. Dari sisi usaha, program diharapkan dapat menurunkan biaya operasional, meningkatkan kualitas hasil pertanian, dan mendorong peningkatan laba bersih minimal 15 persen.
"Selain penggunaan teknologi, program ini juga menargetkan sedikitnya 20 anggota KWT mampu mengoperasikan sistem smart farming secara mandiri agar dapat terus berjalan setelah pendampingan mahasiswa selesai," katanya.
"Untuk mendukung keberlanjutan tersebut, mahasiswa memberikan pelatihan dan evaluasi kepada anggota KWT serta melakukan audiensi dengan Kelurahan Kademangan," lanjutnya.
Penerapan smart farming mulai memberikan dampak bagi KWT Cempaka Batan Indah, terutama dalam budidava iamur. Candrawati, Ketua KWT Cempaka Batan Indah, mengatakan sistem misting membantu menjaga kondisi kumbung lebih terkontrol sehingga area ang sebelumnya belum optimal juga mulai menghasilkan jamur.
Menurutnya, masa panen yang sebelumnya sekitar empat bulan kini dapat berlangsung hingga enam bulan. Area ujung kumbung yang sebelumnya belum optimal untuk pertumbuhan jamur juga mulai menghasilkan jamur.
"Selain membantu proses budidaya, program ini juga menambah pengetahuan kami tentang penggunaan teknolog smart farming melalui pelatihan dan evaluasi dari tim mahasiswa," imbuh Candrawati.
(FIR)