Pandemi covid-19 mengubah aktivitas masyarakat sehari-hari, termasuk dunia pendidikan. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan surat edaran untuk belajar di rumah atau kelas online (daring).
Pandemi covid-19 mengubah aktivitas masyarakat sehari-hari, termasuk dunia pendidikan. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan surat edaran untuk belajar di rumah atau kelas online (daring).
Pembelajaran secara daring memunculkan masalah tersendiri bagi anak-anak yang tinggal di wilayah pelosok yang tidak bisa mengakses jaringan internet. Seperti yang dialami anak-anak di Desa Marmoyo dan Dusun Ngapus, Desa Sumberaji, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Desa Marmoyo serta Dusun Ngapus merupakan desa pelosok di wilayah utara Kabupaten Jombang. Sebagian wilayahnya berupa hutan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Lamongan dan Bojonegoro.
Pembelajaran secara daring memunculkan masalah tersendiri bagi anak-anak yang tinggal di wilayah pelosok yang tidak bisa mengakses jaringan internet. Seperti yang dialami anak-anak di Desa Marmoyo dan Dusun Ngapus, Desa Sumberaji, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Desa Marmoyo serta Dusun Ngapus merupakan desa pelosok di wilayah utara Kabupaten Jombang. Sebagian wilayahnya berupa hutan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Lamongan dan Bojonegoro.
Di Desa Marmoyo, keberadaan jaringan internet merupakan sesuatu yang sangat sulit didapatkan. Lokasi yang menyediakan akses internet melalui WiFi juga sangat terbatas. Di antaranya ada di Kantor Desa Marmoyo, SDN Marmoyo, serta 10 rumah penduduk.
Di Desa Marmoyo, keberadaan jaringan internet merupakan sesuatu yang sangat sulit didapatkan. Lokasi yang menyediakan akses internet melalui WiFi juga sangat terbatas. Di antaranya ada di Kantor Desa Marmoyo, SDN Marmoyo, serta 10 rumah penduduk.
Kondisi ini memaksa anak-anak yang tinggal di wilayah terpencil untuk berkumpul di rumah-rumah warga yang menyediakan akses internet melalui WiFi agar dapat mengakses pelajaran. Beberapa siswa ada yang bergantian memakai ponsel karena orang tua mereka tidak mampu membelikan gawai untuk belajar.
Kondisi ini memaksa anak-anak yang tinggal di wilayah terpencil untuk berkumpul di rumah-rumah warga yang menyediakan akses internet melalui WiFi agar dapat mengakses pelajaran. Beberapa siswa ada yang bergantian memakai ponsel karena orang tua mereka tidak mampu membelikan gawai untuk belajar.
Melihat kondisi tersebut, pemerintah desa bersama polisi berinisiatif membuat rumah pintar dengan fasilitas WiFi gratis, yang bisa digunakan pelajar yang ada di Dusun Randurejo, Desa Marmoyo.
Melihat kondisi tersebut, pemerintah desa bersama polisi berinisiatif membuat rumah pintar dengan fasilitas WiFi gratis, yang bisa digunakan pelajar yang ada di Dusun Randurejo, Desa Marmoyo.
Sementara itu, anak-anak sekolah yang ada di dusun Ngapus, desa Sumberaji, Kecamatan Kabuh, juga mengalami persoalan yang sama.  Sejumlah pelajar kelas VI SDN Sumberaji 2 terpaksa belajar daring di kawasan makam. Lantaran hanya di makam umum inilah, sinyal seluler terbaik bisa ditemukan.
Sementara itu, anak-anak sekolah yang ada di dusun Ngapus, desa Sumberaji, Kecamatan Kabuh, juga mengalami persoalan yang sama. Sejumlah pelajar kelas VI SDN Sumberaji 2 terpaksa belajar daring di kawasan makam. Lantaran hanya di makam umum inilah, sinyal seluler terbaik bisa ditemukan.
Lokasi makam umum tersebut memang berada lebih tinggi dibandingkan pemukiman penduduk, dan menjadi tempat favorit para siswa belajar sejak diberlakukannya pembelajaran jarak jauh akibat pandemi covid-19.
Lokasi makam umum tersebut memang berada lebih tinggi dibandingkan pemukiman penduduk, dan menjadi tempat favorit para siswa belajar sejak diberlakukannya pembelajaran jarak jauh akibat pandemi covid-19.

Balada Belajar Daring di Pelosok Jombang

News akses internet
24 September 2020 10:57
Jombang: Pandemi covid-19 mengubah aktivitas masyarakat sehari-hari, termasuk dunia pendidikan. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan surat edaran untuk belajar di rumah atau kelas online (daring). 

Pembelajaran secara daring memunculkan masalah tersendiri bagi anak-anak yang tinggal di wilayah pelosok yang tidak bisa mengakses jaringan internet. Seperti yang dialami anak-anak di Desa Marmoyo dan Dusun Ngapus, Desa Sumberaji, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Desa Marmoyo serta Dusun Ngapus merupakan desa pelosok di wilayah utara Kabupaten Jombang. Sebagian wilayahnya berupa hutan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Lamongan dan Bojonegoro. 

Di Desa Marmoyo, keberadaan jaringan internet merupakan sesuatu yang sangat sulit didapatkan. Lokasi yang menyediakan akses internet melalui WiFi juga sangat terbatas. Di antaranya ada di Kantor Desa Marmoyo, SDN Marmoyo, serta 10 rumah penduduk. 

Kondisi ini memaksa anak-anak yang tinggal di wilayah terpencil untuk berkumpul di rumah-rumah warga yang menyediakan akses internet melalui WiFi agar dapat mengakses pelajaran. Beberapa siswa ada yang bergantian memakai ponsel karena orang tua mereka tidak mampu membelikan gawai untuk belajar. 

Melihat kondisi tersebut, pemerintah desa bersama polisi berinisiatif membuat rumah pintar dengan fasilitas WiFi gratis, yang bisa digunakan pelajar yang ada di Dusun Randurejo, Desa Marmoyo. 

Sementara itu, anak-anak sekolah yang ada di dusun Ngapus, desa Sumberaji, Kecamatan Kabuh, juga mengalami persoalan yang sama.  Sejumlah pelajar kelas VI SDN Sumberaji 2 terpaksa belajar daring di kawasan makam. Lantaran hanya di makam umum inilah, sinyal seluler terbaik bisa ditemukan. 

"Kalau di rumah tidak ada sinyal, terpaksa kalau belajar daring di makam. Karena disini sinyal jaringan internetnya bagus, bisa 4G," kata salah satu siswa, Salsabila Dwi Azizah (12). 

Lokasi makam umum tersebut memang berada lebih tinggi dibandingkan pemukiman penduduk, dan menjadi tempat favorit para siswa belajar sejak diberlakukannya pembelajaran jarak jauh akibat pandemi covid-19. 

Jika tidak ke makam, para pelajar ini kesulitan untuk belajar daring di rumah. Terkadang tugas yang diberikan guru mereka telat dikerjakan dan dikumpulkan karena terkendala sinyal. 

Surati, Kepala SDN Sumberaji 2 mengakui adanya kendala sinyal saat kegiatan belajar secara daring. Kondisi itu, membuat pihak sekolah memberi kelonggaran kepada anak-anak didiknya dalam mengerjakan tugas. Semisal tugas yang diberikan guru pada hari ini bisa dikumpulkan keesokan harinya. 

Selain itu, pihak sekolah memfasilitasi guru mendatangi siswa ke rumah khusus kelas 1 dan kelas 2, untuk memberikan tugas dengan protokol kesehatan. Setelah itu, anak-anak diberikan waktu untuk mengerjakan tugas yang telah diberikan bersama orang tuanya di rumah. ANTARA FOTO/Syaiful Arif

(WWD)

Bagaimana tanggapan anda mengenai foto ini?

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif