Jakarta: Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum (Polpum) Kementerian Dalam Negeri melalui Direktorat Kewaspadaan Nasional menggelar diskusi bertajuk Penguatan Ekosistem Pendidikan dan Pencegahan Ekstremisme Berbasis Kekerasan di Aula Sekretariat Daerah Kota Cirebon, Kamis, 5 Maret 2026.
Kegiatan ini diikuti aparatur Pemerintah Kota Cirebon, serta 150 pelajar dan guru bimbingan konseling dari 25 SMA di Kota Cirebon.
Melalui kegiatan tersebut, pemerintah mendorong penguatan pemahaman aparatur, pelajar, dan ekosistem pendidikan mengenai bahaya ekstremisme berbasis kekerasan yang dapat mengancam stabilitas sosial, persatuan bangsa, serta nilai-nilai kebangsaan.
Berdasarkan data Densus 88 Antiteror Mabes Polri, kelompok usia sekolah kini menjadi salah satu target penyebaran ideologi berbahaya. Banyak remaja yang terpapar bukan karena niat buruk, melainkan karena merasa kesepian, terluka, atau sedang mencari pengakuan di lingkungan yang salah.
Direktur Kewaspadaan Nasional, Aang Witarsa, mengatakan ada empat pilar utama yang perlu dibangun di lingkungan sekolah untuk menekan potensi ekstremisme.
Empat pilar tersebut meliputi lingkungan belajar yang ramah dan bebas perundungan, sikap inklusif yang menghargai perbedaan tanpa diskriminasi, sistem responsif melalui mekanisme pelaporan yang aman, serta kolaborasi yang membuka ruang dialog bagi siswa.
"Menghadapi tantangan ini, pendekatan hukum (penindakan) saja tidak cukup. Sekolah memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan untuk melakukan pencegahan dini melalui konsep Sekolah Ramah dan Inklusif." lanjut Aang Witarsa, Kamis, 5 Maret 2026.
Selain itu Aang juga menyampaikan penting dan bijaknya dalam penggunaan media sosial dengan menyaring setiap informasi yang masuk.
"Dalam penggunaan media sosial, kita harus pandai dan bijak menyaring setiap informasi yang ada. Karena di era kini, media sosial sebagai pintu masuk setiap informasi, termasuk potensi masuknya konten yang mengandung bahaya ekstrimisme" imbuhnya.
Adapun hadir juga sebagai narasumber dari kegiatan ini perwakilan dari Densus 88 AT Mabes Polri, Kesbangpol Kota Cirebon dan Akademisi. Para narasumber berbagi strategi dan langkah konkret dalam penguatan dan pencegahan ekatrimisme yang mengarah kepada tindakan kekerasan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan tercipta sinergi yang lebih kuat antara pemerintah, aparat keamanan dan ekosistem pendidikan dalam membangun lingkungan pendidikan yang aman, damai, serta terbebas dari pengaruh ekstremisme berbasis kekerasan.
Ditjen Polpum berkomitmen untuk terus mendorong upaya pencegahan melalui pendekatan edukatif, kolaboratif, dan berkelanjutan guna memperkuat daya tangkal terhadap pencegahan ekstrimisme yang mengarah kepada tindakan kekerasan dalam menjaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa. Dok. Ditjen Polpum