Baca: Kemenperin Ingin Harga Gas Industri Lebih Cepat Turun
Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto menjelaskan, mahalnya harga gas membuat produk industri kaca bersih tidak kompetitif. Tentu kondisi semacam ini perlu diperhatikan secara seksama karena geliat perindustrian di dalam negeri sangat diperlukan guna mengakselerasi perekonomian Indonesia di masa yang akan datang.
"Industri (kaca dan gelas) ini diminta pindah ke Malaysia karena ditawari harga gas sebesar USD2,5 per MMBTU,"ucap Airlangga, ditemui dalam acara 'Rakernas Kadin Indonesia Bidang Energi dan Migas' di Fairmont Hotel, Jakarta, Selasa 1 November.
Baca: Harga Gas belum Turun, Industri Mulai Kolaps
Airlangga mengakui, apabla harga gas tidak kunjung menurun dan terjangkau bagi industri Tanah Air maka ditakutkan industri kaca dan gelas ini akan benar-benar pindah ke Malaysia. Kondisi itu bisa segera terjadi lantaran jika dipertahankan seperti itu maka akan berpengaruh terhadap kelangsungan tenaga kerja di industri dimaksud.

Seorang petugas sedang memeriksa pipa gas (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
"Kalau gas turun ya tidak apa-apa. Persoalanya itu kalau industrinya pindah maka bagaimana dengan tenaga kerja dan lapangan kerjanya," tegas Airlangga.
Lebih lanjut, Airlangga mengatakan, pengaruh harga gas bagi industri sangat besar karena bisa membuat industri tumbuh secara maksimal dan meningkatkan daya saingnya. Peningkatan daya saing menjadi diperlukan mengingat sekarang ini persaingan semakin sengit, utamanya ketika memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
Baca: Investor Menanti Penurunan Harga Gas Industri
"Bagi industri petrokimia, jika rata-rata harga gas sekitar USD11,8 per MMBTU maka harga produk sekitar USD476 per ton. Dengan harga produksi tersebut, industri ini terancam berhenti. Tapi kalau harga gas dapat USD4 per MMBTU maka harga produk menjadi USD219 per ton atau lebih rendah dibandingkan dengan produk impor sekitar USD265 per ton," pungkas Airlangga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News