Managing Director Ipsos Indonesia Soeprapto Tan menyampaikan materi pada acara Ipsos Marketing Summit 2020: Indonesia The Next Cashless Society, di Grandballroom, Hotel Pulman Central Park, Jakarta, Rabu, 15 Januari 2020 (Foto:Medcom.id/Rosa Anggreati)
Managing Director Ipsos Indonesia Soeprapto Tan menyampaikan materi pada acara Ipsos Marketing Summit 2020: Indonesia The Next Cashless Society, di Grandballroom, Hotel Pulman Central Park, Jakarta, Rabu, 15 Januari 2020 (Foto:Medcom.id/Rosa Anggreati)

Ipsos Indonesia Sebut Strategi Bakar Uang Merugikan

Ekonomi Ipsos Indonesia
Gervin Nathaniel Purba • 16 Januari 2020 13:05
Jakarta: Strategi bakar uang kerap digunakan oleh perusahaan rintisan maupun penyedia dompet elektronik (e-wallet). Upaya ini dilakukan dengan tujuan mengikat konsumen agar loyal. Namun, nyatanya strategi tersebut bagai bumerang karena membuat perusaahan rugi.
 
Strategi bakar uang dilakukan melalui beragam promo, diskon, dan cashback untuk memikat konsumen. Sebab, konsumen cenderung memilih produk yang lebih menguntungkan.
 
Ipsos Indonesia menilai strategi bakar uang sebenarnya tidak baik bagi kelangsungan perusahaan pembayaran digital dompet elektronik. Ipsos Indonesia mengimbau agar strategi bakar uang sebaiknya dihindari karena merugikan.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kalau bakar uang brand naik, tapi enggak profitable (menguntungkan). Mereka harus sadar healthy marketing selayaknya menjalankan bisnis," ujar Managing Director Ipsos Indonesia Soeprapto Tan, ditemui di Hotel Pullman Central Park, Jakarta Barat, Rabu, 15 Januari 2019.
 
Strategi bakar uang dilakukan oleh penyedia dompet elektronik OVO, GoPay, dan DANA.
 
Menurut studi yang dilakukan Ipsos Indonesia, OVO paling banyak digunakan masyarakat Indonesia dalam bertransaksi. Berikutnya ada GoPay, DANA, Link Aja, t-Cash, Sakuku, dan Doku. Supaya pemain kecil bisa survive dalam berbisnis, Ipsos Indonesia mengimbau agar merger dengan para pemain besar.
 
"Perlu sih (merger). Soalnya balik lagi, sedang berkompetisi di kolam besar. Kalau bisa merger akan lebih bagus," ucap Soeprapto.
 

(ROS)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif