Ipsos Indonesia telah melakukan serangkaian survei terhadap 1.000 responden untuk mengetahui kebiasaan masyarakat Indonesia dalam bertransaksi digital (Foto:Medcom.id/Rosa Anggreati)
Ipsos Indonesia telah melakukan serangkaian survei terhadap 1.000 responden untuk mengetahui kebiasaan masyarakat Indonesia dalam bertransaksi digital (Foto:Medcom.id/Rosa Anggreati)

Masyarakat Indonesia Ternyata Tidak Takut Bertransaksi Digital, Apa Pemicunya?

Ekonomi Ipsos Indonesia
Rosa Anggreati • 15 Januari 2020 19:04
Jakarta: Industri digital di Indonesia turut memengaruhi perkembangan ekonomi. Salah satunya memunculkan sistem pembayaran digital (digital payment).
 
Meski baru dimulai dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia ternyata tidak takut bertransaksi digital. Terutama masyarakat urban seperti Jakarta.
 
Dijelaskan Direktur Riset Ipsos Indonesia Benny Wuryanto, ada tiga alasan yang melatarbelakanginya, yaitu assure (aman), encourage (pengalaman menyenangkan), dan inspire (mengikuti perkembangan zaman).
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebelumnya, Ipsos Indonesia telah melakukan serangkaian survei terhadap 1.000 responden yang tersebar di Jawa (66 persen), Sumatera (21 persen), Kalimantan (6 persen), Sulawesi (4 persen), Bali (4 persen), dan Nusa Tenggara (1 persen). Survei tersebut bertujuan melihat kebiasaan masyarakat Indonesia dalam menggunakan alat pembayaran digital.
 
Dikatakan Benny, masyarakat terdorong menggunakan alat pembayaran digital dengan berbagai alasan.
 
Dari survei Ipsos Indonesia terkuak setidaknya terdapat enam alasan yang melatarbelakangi masyarakat mau bertransaksi digital.
 
1. The assured (26 persen responden)
Meliputi keyakinan bahwa transaksi digital aman.
 
2. Joy seekers (25 persen responden)
Transaksi digital menyenangkan karena bisa belanja apapun tanpa bawa dompet dan mendapat cashback.
 
3. The careful (19 persen responden)
Dapat membantu mengontrol dan mengatur keuangan.
 
4. The unique (11 persen responden)
Menimbulkan perasaan tampil beda dan bisa berpartisipasi dalam teknologi sistem keuangan digital.
 
5. The expanders (10 persen responden)
Terpacu ingin menjadi yang terdepan dan terbaru dengan menggunakan pembayaran digital.
 
6. Relationship builders (9 persen responden)
Hanya ikut-ikutan, tidak mau tertinggal dari temannya untuk menjadi bagian dari pengguna transaksi digital.
 
Managing Director Ipsos Indonesia Soeprapto Tan yang ditemui di Hotel Pullman Central Park, Jakarta Barat, Rabu, 15 Januari 2020, menambahkan, penggunaan alat pembayaran digital pada 2019 berkembang pesat. Namun, Indonesia belum mampu menerapkan pembayaran digital secara menyeluruh.
 
"Masih separuh-separuh dan belum terasa saat ini. Tapi kondisi ini sangat menggembirakan buat Indonesia untuk go cashless," kata Soeprapto optimistis.
 

(ROS)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif