Managing Director Ipsos Indonesia Soeprapto Tan (tengah) pada jumpa pers Ipsos Marketing Summit 2020: Indonesia The Next Cashless Society, di Grandballroom, Hotel Pulman Central Park, Jakarta, Rabu, 15 Januari 2020 (Foto:Medcom.id/Gervin Nathaniel Purba)
Managing Director Ipsos Indonesia Soeprapto Tan (tengah) pada jumpa pers Ipsos Marketing Summit 2020: Indonesia The Next Cashless Society, di Grandballroom, Hotel Pulman Central Park, Jakarta, Rabu, 15 Januari 2020 (Foto:Medcom.id/Gervin Nathaniel Purba)

Sistem Pembayaran Digital Diprediksi Merata ke Luar Jawa 3 Tahun Lagi

Ekonomi Ipsos Indonesia
Gervin Nathaniel Purba • 15 Januari 2020 19:16
Jakarta: Sistem pembayaran digital (digital payment) di Indonesia saat ini masih terpusat di Jawa. Hal ini disebabkan pembangunan infrastruktur dan penetrasi penggunaan ponsel masih terkonsentrasi di Jawa.
 
Managing Director Ipsos Indonesia Soeprapto Tan menilai Indonesia butuh sekitar tiga atau empat tahun lagi agar tren pembayaran digital dapat merata hingga ke luar Jawa. Dia optimistis pembangunan infrastruktur merata dalam kurun waktu tersebut seiring meningkatnya penetrasi penggunaan ponsel.
 
"Dengan sekarang ada terkoneksi jaringan Palapa, saya kira tiga atau empat tahun lagi sudah mulai. Saya juga melihat operator telekomunikasi juga sudah berinvestasi di luar Jawa," kata Soeprapto Tan, ditemui di Hotel Pullman Central Park, Jakara Barat, Rabu, 15 Januari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ipsos Indonesia mencatat penetrasi digital payment di Indonesia baru mencapai 60-70 persen. Indonesia tertinggal dengan Tiongkok, di mana penetrasi digital payment telah mencapai 95 persen.
 
Namun, Ipsos Indonesia menilai penetrasi digital payment di Indonesia sudah berada di level yang bagus.
 
"Saya melihat konsep cashless di Indonesia masih early stage. Tetapi indikatornya sudah bagus untuk ke depan," katanya.
 
Soeprapto menjelaskan lebih lanjut mengenai early stage tersebut. Dia mencontohkan, saat ini transaksi di Tiongkok sudah hampir sepenuhnya menggunakan ponsel. Bahkan, untuk transaksi barang dengan nilai yang besar juga sudah bisa menggunakan ponsel.
 
Sementara, di Indonesia belum bisa. Menurut penelitian Ipsos Indonesia, rata-rata transaksi setiap bulannya menggunakan digital payment sebesar Rp500 ribuan. "Masih jauh (dibandingkan Tiongkok)," katanya.
 
Pembangunan infrastruktur menjadi kunci untuk meningkatkan penetrasi digital payment. Selain itu, diperlukan regulasi yang jelas dari sisi pengawasan.
 
"Regulasi memang perlu dibuat lebih bagus. Walaupun ada regulasi dasar untuk proteksi, regulasi cashless masih early stage. Evolusi regulasi dan jaringan masih akan berkembang," ujar Soeprapto.

 

(ROS)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif