Gedung Asuransi Jiwasraya. Foto: dok MI/Ramdani.
Gedung Asuransi Jiwasraya. Foto: dok MI/Ramdani.

Jalan Keluar Restrukturisasi Jiwasraya Diumumkan 1 November

Ekonomi Kementerian BUMN Jiwasraya
Annisa ayu artanti • 01 Oktober 2020 21:48
Jakarta: Pemerintah segera mengumumkan jalan keluar bagi para pemegang polis PT Asuransi Jiwasraya (Persero) pada 1 November 2020.
 
Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo mengatakan pemerintah telah mendapat restu dari Komisi VI dan Panja Komisi VI DPR-RI mengenai usulan restrukturisasi pemegang polis perusahaan asuransi pelat merah tersebut.
 
"Jadi setelah kami mendapat persetujuan dari Panja Komisi VI maupun Komisi VI, kami berencana mengumumkan kepada publik 1 November mengenai usulan restrukturisasi pemegang polis Jiwasraya," kata Kartika di Jakarta, Kamis, 1 Oktober 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menjelaskan untuk pemegang polis tradisional pihaknya akan melakukan penyesuaian manfaat dari suku bunga dan akan menghitung kebutuhan top up klaim.
 
"Apabila memang manfaat itu akan diteruskan di IFG Life (anak usaha BPUI) dan itu akan skema yang akan kita undang dan kita berikan kepada pemegang polis tradisional," ucapnya.
 
Sementara untuk pemegang polis saving plan, ia menuturkan terdapat beberapa opsi seperti cicilan nominal secara bertahap dan jangka panjang. Lalu opsi lainnya ditawarkannya haircut, yaitu pengurangan nilai pokok jika ingin menerima dalam waktu cepat.
 
"Namun kembali kita mengoptimalkan negosiasi one on one," ungkapnya.

 
Sementara jika pemegang polis menolak upaya restrukturisasi tersebut, Kartika menyebutkan, mereka akan mendapat hasil dari penjualan aset Jiwasraya.
 
"Tapi seandainya mereka tidak menyetujui, mereka akan tetap di Jiwasraya dan akan mendapatkan dari penjualan aset sisa di Jiwasraya," tukasnya.
 
Praktik manipulasi laporan keuangan atau window dressing telah dilakukan Jiwasraya, pada 2008-2017. Akibatnya, Jiwasraya memiliki ekuitas negatif hingga Rp37,6 triliun per Juli 2020.
 
Selain itu, hancurnya kondisi keuangan Jiwasraya juga dilatarbelakangi oleh adanya produk-produk asuransi dengan bunga pasti yang tinggi, seperti produk JS Proteksi Plan yang diketahui memiliki bunga pasti mulai dari tujuh persen hingga 10 persen net per tahun.
 
Masalah pun semakin runyam ketika manajemen lama menempatkan portofolio investasi Jiwasraya pada saham-saham berkualitas rendah, baik secara langsung atau dibungkus dengan reksadana milik terdakwa lainnya yakni Benny Tjokrosaputro dan Heru Hidayat.
 
Akibatnya, pada saat nasabah ingin mencairkan dananya manajemen Jiwasraya sudah tidak memiliki aset yang likuid untuk menutup klaim yang mulai membesar sejak 2017.
 
Ketika mengetahui ada yang tidak beres dengan Jiwasraya jajaran Kementerian BUMN telah melakukan pergantian direksi sebanyak tiga kali. Mulai dari Muhammad Zamkhani pada Januari 2018. Disusul, Asmawi Syam pada Mei 2018 yang mulai berlaku efektif pada Agustus 2018. Terakhir, Hexana Tri Sasongko pada November 2018 yang baru efektif pada Januari 2019.
 
(AHL)
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif