Ilustrasi. Foto: grafis Medcom.id.
Ilustrasi. Foto: grafis Medcom.id.

Kiat Jalankan Strategi Digital Marketing Jelang Endemi

Ekonomi marketing Wirausaha Dunia Usaha tips keuangan Ekonomi Digital digital marketing Endemi covid-19
Ade Hapsari Lestarini • 22 April 2022 17:54
Jakarta: Sejak Maret 2020, pandemi menghantam keras semua lini perekonomian nasional, bahkan dunia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada kuartal III-2020 terdapat 66,09 persen bisnis yang mengalami penurunan pendapatan dan 67,77 persen di antaranya masuk dalam kategori UMK (Usaha Mikro Kecil).
 
Sementara itu, pada 2021, sebanyak 28,10 persen UMB (Usaha Menengah Besar) juga mengaku mengalami penurunan harga produk. Hal ini menyusul berkurangnya pelanggan yang berdampak kepada berkurangnya modal dan akhirnya berdampak pula kepada harga jual produk yang menurun.
 
Pelaku usaha mau tidak mau harus bekerja ekstra untuk menutupi kekurangan tersebut. Hal ini tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha kecil (UMK), tetapi juga perusahaan yang masuk dalam kategori UMB yang menghadapi kesulitan dalam hal pemasaran/penjualan produk semasa pandemi hingga mencapai 55,40 persen pada 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Akhirnya, pelaku bisnis pun harus beradaptasi untuk dapat bertahan dan bangkit di tengah terpuruknya perekonomian nasional. Mengubah model pemasaran dengan memanfaatkan teknologi digital dan internet pun menjadi strategi yang dipilih oleh 36,74 persen perusahaan berskala besar untuk dapat bertahan di tengah pandemi.
 
Bagi perusahaan atau brand berskala besar, memperkuat eksistensi di masyarakat menjadi salah satu faktor penting untuk bertahan di tengah pandemi. Hal ini juga diakui oleh CEO Noid+ Carlos F. Sopamena, digital agency yang berbasis di Jakarta Selatan. Carlos mengungkapkan, pandemi telah berdampak besar kepada brand, mulai dari brand kecil hingga besar. Namun, brand tetap harus mempertahankan eksistensi mereka di tengah masyarakat, bahkan saat mereka tidak bisa menjangkau pelanggan secara langsung melalui kegiatan offline.
 
"Pada saat pandemi ada PPKM, brand jadi enggak bisa melakukan aktivasi (secara offline). Di Indonesia, masyarakat Indonesia itu pada dasarnya suka sesuatu yang tangible, real, yang kelihatan langsung dan bisa dipegang. Pada saat pandemi, brand akhirnya mulai beralih ke digital (marketing). Tujuannya, pada saat pandemi yang dijaga oleh brand adalah awareness. Bagaimana caranya supaya walaupun pandemi konsumen enggak bisa keluar rumah, brand tetap bisa keliatan terus," ungkap Carlos, Jumat, 22 April 2022.
 
Carlos menambahkan, setiap brand dari berbagai industri mengalami dampak negatif yang cukup besar dari pandemi. Namun, brand yang telah beralih ke strategi digital marketing akhirnya dapat bertahan dan tetap terlihat di tengah masyarakat.

Manfaatkan momentum untuk memperkuat eksistensi brand

BPS juga mencatatkan peningkatan pencarian kata kunci terkait konsumsi masyarakat pada mesin pencarian Google di masa awal pandemi yang mengindikasikan peningkatan pemanfaatan platform digital untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu, pemanfaatan digital marketing semasa pandemi secara tidak langsung membantu brand untuk dapat bertahan.
 
Managing Director Noid+ Teguh Kristianto menambahkan, peningkatan terbesar ada di penggunaan media sosial. Menurutnya, peningkatan inilah yang seharusnya dilihat sebagai peluang yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan brand awareness.
 
"Pada saat pandemi, digital marketing naik karena penggunaan media sosial jelas meningkat. Layanan Over-the-Top, seperti Netflix, VIU, dan YouTube itu viewers-nya makin banyak. Juga banyak content creator yang baru muncul dan tiba-tiba subscribers-nya naik, viewers-nya tinggi. Jadi, kalau brand yang sudah aware dengan digital marketing, justru pada saat pandemi bisa sustain dan bahkan penjualan online malah meningkat. Contoh, ada beberapa brand fashion dia selama ini jualannya online. Sebelum pandemi dan saat pandemi, itu bisa berkali-kali lipat naiknya lebih tinggi saat pandemi," jelasnya.
 
Senada, Carlos juga mengatakan pandemi justru menjadi titik balik bagi brand karena telah membuat banyak yang beralih dari strategi pemasaran konvensional ke digital marketing. Namun, untuk dapat menjalankan strategi yang sukses, Carlos mengakui hal ini tergantung tujuan brand tersebut karena ada banyak hal yang dapat diraih dengan menggunakan digital marketing. Menurutnya, saat ini masih banyak brand yang belum teredukasi dan menganggap digital marketing adalah jalan pintas untuk mendapatkan konversi penjualan.
 
"Digital marketing itu kalau kita boleh jujur, enggak semua produk bisa dibantu secara langsung penjualannya dengan digital marketing. Journey-nya panjang," ujarnya.
 
 
Halaman Selanjutnya
  Pilih platform yang efektif…
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif