Masyarakat acap kali harus menempuh jarak yang sangat jauh bahkan hingga puluhan kilometer (km) untuk mendapatkan BBM. Seperti yang dirasakan Budi, warga Banyumas, Jawa Tengah yang sehari-hari berprofesi sebagai pedangang.
Jarak tempuh yang jauh untuk menjangkau sarana Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU) tentu amat sangat tidak ekonomis bagi Budi. Bahkan, setelah mengisi bensin di SPBU, belum sampai rumah bisa jadi bensinnya sudah habis lagi.
Maka ia terpaksa membeli bensin di pengecer yang harganya jauh lebih mahal. Namun hal ini tidak lagi dirasakan Budi, sebab kini BBM telah menjangkau Budi dan juga masyarakat di daerah tersebut dengan hadirnya Pertamina Shop (Pertashop) di Desa Karang Salam, Kecamatan Baturraden.
Budi kini bisa menggunakan sisa uangnya untuk kegiatan yang lebih produktif. "Di samping jarak lebih dekat, harganya lebih murah dari pengecer," kata Budi.
Head of Center of Food, Energy and Sustainable Development Indef Abra Talattov pun menilai Pertashop merupakan inovasi yang dihadirkan PT Pertamina (Persero) untuk menjangkau pelosok dan menciptakan distribusi yang lebih merata dan ramah di kantong. Apalagi, di masa pandemi seperti saat ini, pemenuhan energi yang murah bisa membantu masyarakat dalam menekan beban dan biaya hidup.
"Yang saya pahami membuat ongkos untuk mengakses dan mendaatkan energi lebih terjangkau dan murah. Kita tahu masih banyak dari satu desa ke SPBU butuh berkilo-kilo meter, itu juga jadi ngabisin bensin kan," kata Abra pada Medcom.id, Senin, 12 Oktober 2020.
Geliat Ekonomi
Abra menilai kehadiran Pertashop di tingkat desa menjadi kesempatan bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) ataupun Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk memainkan peran dalam menggerakkan roda perekonomian di wilayahnya."Dalam konteks mendorong pemerataan ekonomi ke desa-desa saya pikir dengan adanya Pertashop bisa jadi pintu masuk buat komoditas lainnya," ujar Abra.
Hal ini pun sesuai dengan rencana Pertamina melalui Subholding Commercial & Trading (PT Pertamina Patra Niaga) yang memetakan ke depannya Pertashop juga akan menjual LPG nonsubsidi serta pelumas, bukan hanya bertumpu pada distribusi BBM.
Berdasarkan data Pertamina, hingga September telah terbangun 692 outlet Pertashop. Hingga akhir tahun ditargetkan akan ada 4.558 outlet dan di 2021-2024 ditargetkan akan ada penambahan outlet 10 ribu per tahun.
Demi mencapai target tersebut perseroan telah menggandeng Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi untuk mendorong program kemitraan dengan pemerintah desa. Mendagri Tito Karnavian mengatakan Pertashop berperan penting dalam mewujudkan Nawacita Presiden Joko Widodo dalam membangun desa melalui energi.
"Karena Pertashop hadir tidak hanya memberikan layanan BBM dan LPG yang lebih dekat dengan masyarakat di desa, tapi juga mendorong inovasi desa melalui kemitraan serta turut berperan dalam meningkatkan kapasitas pemerintah desa,” tutur Tito.
Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memiliki tugas untuk melayani, Pertamina menyatakan bakal memfokuskan pembangunan Pertashop ke seluruh wilayah yang belum memiliki lembaga penyalur BBM dan LPG. Perseroan memprioritaskan lembaga desa dan UMKM sebagai pengelola Pertashop, sejalan dengan Program Pertamina One Village One Outlet (OVOO) sehingga nantinya pemerintahan desa memiliki pusat ekonomi baru.
Bila dirata-rata, transaksi Pertashop baru berdiri sekitar 200-400 liter per hari. Namun, untuk yang telah lama berdiri omzet yang didapat antara 700-900 liter penjualan per hari.
"Pertashop di Desa Karanglo, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah pernah mencapai 1.000 liter per hari atau sekitar 300 kendaraan per hari. Dengan asumsi pembelian dengan Pertamax maksimal Rp30 ribu untuk kendaraan roda dua," ujar Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman.
Transisi ke Energi Bersih
Di sisi lain, kehadiran Pertashop juga menjadi jalan untuk mengenalkan masyarakat desa pada BBM yang ramah lingkungan, salah satunya pertamax. Menurut Abra, hal ini tentu baik untuk mendorong transisi energi yang tengah digaungkan pemerintah menuju energi bersih.Hal ini telah dibuktikan dari penyaluran BBM jenis pertamax di Pertashop Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkring, Kabupaten Sleman menjadi sorotan. Sebab Pertashop ini mampu menyalurkan BBM berkualitas yang tertinggi di seluruh Pertashop yang ada di Indonesia. Pertashop yang beroperasi sejak Juni 2020 ini menyalurkan BBM sebanyak 600 liter per hari. Sementara pada saat akhir pekan bisa mencapai 1-1,2 kiloliter.
Abra beranggapan penggunaan BBM kualitas tinggi tidak hanya berdampak positif pada lingkungan, namun juga akan menghasilkan kinerja mesin kendaraan yang lebih bersih dari kerak yang tentunya membuat kantong masyarakat lebih irit dalam urusan perawatan.
Di tambah lagi dengan adanya pandemi covid-19, menjadi momentum untuk mendorong penggunaan BBM ramah lingkungan. Apalagi ia bilang didukung dengan disparitas harga yang relatif tidak terlalu jauh antarproduk. Selain mengurangi penggunaan BBM kualitas rendah, pengenalan dan peralihan ke BBM kualitas tinggi juga membantu menekan subsidi BBM solar maupun penggunaan premium.
"Momentumnya lagi dapat, disparitas harganya enggak jauh. Jadi supaya masyarakat bisa beralih ke kualitas yang lebih tinggi ke pertamax. Jadi nantinya juga enggak shock ketika suatu saat premium mau dikurangi atau dihilangkan," jelas Abra.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News