Ilustrasi produk bahan turunan yang menggunakan plywood. Foto: AFP.
Ilustrasi produk bahan turunan yang menggunakan plywood. Foto: AFP.

Gandeng Swasta, BUMN Indah Karya Operasikan Kembali Pabrik Plywood

Ade Hapsari Lestarini • 28 Agustus 2020 14:51
Jakarta: Pabrik Bondowoso Indah Plywood (BIP) milik BUMN PT Indah Karya (Persero) mulai berproduksi sejak pertengahan Agustus 2020 lalu, setelah empat bulan berhenti beroperasi akibat terdampak pandemi covid-19.
 
Menggandeng perusahaan swasta PT Buana Kassiti Group untuk pendanaannya, pabrik plywood BIP bakal melakukan ekspor perdana ke beberapa negara pada awal September 2020 ini.
 
"Bagi Buana Kassiti ini adalah peluang dan sekaligus tantangan. Peluangnya adalah masuk ke sektor yang bukan koor bisnisnya dan tantanganya adalah swasta ternyata bisa atau mampu memberikan dukungan bagi BUMN untuk berkinerja kembali," ujar CEO Buana Kassiti Group Joko Suranto, dalam keterangan resminya, Jumat, 28 Agustus 2020.

Ketua Umum REI Jawa Barat tersebut menuturkan kerja sama antara Indah Karya dan Buana Kassiti dilakukan sebagai bentuk implementasi program yang dicanangkan Presiden Joko Widodo yang dalam beberapa kesempatan selalu mendorong dan mengajak peran swasta yang lebih besar dalam pembangunan nasional.
 
Indah Karya telah merasakan dampak pandemi covid-19 lebih awal, yakni sejak Januari 2020. Hal itu ditandai dengan ditutupnya operasional pabrik plywood BIP milik BUMN tersebut. Penutupan dilakukan setelah evaluasi bisnis perusahaan sejak Januari hingga April 2020 yang menunjukkan kelesuan.
 
 

Kondisi keuangan yang terbatas serta ekspor plywood ke beberapa negara (Jerman, Singapura, dan Taiwan) yang tidak bisa dilakukan akibat ditutupnya pelabuhan negara tujuan ekspor, membuat tak ada pilihan lain selain menutup pabrik.
 
Selama proses penutupan operasional sementara pabrik itulah, pihak manajemen menggandeng swasta, yakni Buana Kassiti, untuk berinvestasi di pabrik plywood BIP di Bondowoso tersebut.
 
"Kami merespons positif ajakan tersebut karena tergerak ingin bersama-sama Indah Karya membangun bangsa, terlebih kawasan industri yang dikembangkan Indah Karya di Bondowoso sangat sejalan dengan program pemerintah di bidang penyerapan tenaga kerja, ekspor, serta energi baru dan terbarukan," papar Joko.
 
MoU Kerja sama Operasional (KSO) pabrik BIP 1 dengan Buana Kassiti Group mulai dilakukan pada 7 Agusutus 2020. Kemudian pada 14 Agustus 2020 pabrik secara resmi telah memulai kegiatan produksinya. Adapun sejak 24 Agustus 2020 operasional pabrik dilakukan dua shift (operasi penuh) dengan tetap melaksanakan protokol covid-19.
 
Secara keseluruhan, pembiayaan yang dibutuhkan sesuai MoU sebesar Rp45 miliar. Tahap pertama sudah direalisasikan sebesar Rp5 miliar untuk mengaktifkan kembali kegiatan proses produksi.
 
Setelah operasional pabrik kembali berjalan, ekspor perdana pascapenutupan pabrik pun siap dilakukan awal September. Kegiatan ekspor plywood tersebut diharapkan dapat berperan serta untuk membangkitkan Kembali operasional perusahaan, menyerap tenaga kerja, mendorong pertumbuhan sektor lainnya, juga memberikan tambahan nilai ekspor bagi neraca perekonomian Indonesia.
 
"Selain itu, dengan beroperasinya pabrik ini, pada tahap pertama bisa kembali menyerap tenaga kerja yang selama ini dirumahkan. Pada tahap kedua, diharapkan akan membuka lapangan kerja yang semakin besar. Lalu, yang ketiga, setelah pabrik beroperasi maka akan mendapatkan keuntungan yang nantinya akan digunakan untuk menyelesaikan kewajiban-kewajiban yang tertunda kepada beberapa pihak ketiga," jelas dia.
 
Pada tahap awal kebutuhan tenaga kerja masih 400 karyawan. Namun pada minggu selanjutnya secara bertahap akan bertambah dan diperkirakan mampu menyerap 750 lebih tenaga kerja.
 
Bila seluruh investasi yang dilakukan Indah Karya dapat diselesaikan bersama mitra strategis dengan Buana Kassiti Group, maka total tenaga kerja yang dibutuhkan sebanyak lebih kurang 2.000 karyawan produksi.
 
Dia berharap dengan kembali beroperasinya pabrik plywood BIP milik BUMN Indah Karya ini, akan berdampak pada bergeliatnya kembali kegiatan ekonomi di sekitar pabrik khususnya, dan Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.
 
 
 

Ekspor Plywood

Di sisi lain untuk ekspor perdana (setelah pandemi covid-19) diperkirakan bernilai total Rp12 miliar. Setelah itu, selama enam bulan ke depan ditargetkan nilai ekspor bisa menjadi sebesar Rp72 miliar.
 
Peluang ekspor produk plywood masih sangat besar karena permintaan yang tetap tinggi. "Buktinya, begitu dikonfirmasikan kembali bahwa pabrik plywood BIP beroperasi, PO (permintaan) tetap bisa dilakukan, bahkan muncul pasar baru dari Taiwan dan Jerman," sambung Joko.
 
Peluang lainnya adalah mengekspor produk baru berupa produk secondary processing (plywood lapis melamin dan film) untuk kebutuhan konstruksi dan interior. Peluang tersebut sangat terbuka lebar mengingat kualitas plywood BIP berstandar internasional.
 
Pada akhir tahun ini perseroan berencana mengekspor wood pellet ke Korea Selatan dan Jepang, yang memanfaatkan limbah industri plywood dan limbah kayu olahan masyarakat. Sehingga kawasan industri Bondowoso bisa menjadi salah satu kawasan yang menerapkan konsep zero waste dan green energy (wind turbine).
 
Sejauh ini, BIP telah memiliki sertifikasi produk untuk negara tujuan ekspor di Asia (Malaysia, Singapura, Taiwan), Eropa (Jerman), dan Amerika Serikat. "Kami optimistis ini akan mendatangkan keuntungan bersama. Beroperasionalnya kembali usaha plywood juga meningkatkan nilai kualitas barang ekspor berupa barang jadi, yaitu produk dari bahan baku berupa log kayu menjadi plywood. Serta bisa meningkatkan pendapatan masyarakat/petani dari budi daya pohon Sengon," pungkasnya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(AHL)
Read All


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan