Gedung Kementerian BUMN. FOTO: Kementerian BUMN
Gedung Kementerian BUMN. FOTO: Kementerian BUMN

BUMN Mantul

Ekonomi BUMN Analisis Ekonomi Kementerian BUMN
Angga Bratadharma • 29 September 2020 13:19
MANTUL atau mantap betul menjadi kata yang tepat disematkan kepada Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mampu menggerakkan perusahaan BUMN untuk membantu masyarakat terdampak covid-19. Saling bergandengan tangan dan bahu membantu di saat pandemi covid-19 sekarang memang diperlukan guna meringankan beban di pundak.


Adapun dipilihnya Erick Thohir yang merupakan Menteri BUMN sebagai Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional serta Budi Gunadi Sadikin yang merupakan Wamen BUMN sebagai Ketua Gugus Tugas Pemulihan Ekonomi Budi Gunadi Sadikin pun mengartikan BUMN memang memiliki peranan penting.


Mengutip data Kementerian BUMN, Selasa, 29 September 2020, tercatat perusahaan BUMN di Tanah Air berjumlah 107 atau turun jumlahnya ketimbang sebelumnya yang mencapai 142 perusahaan. Berkurangnya jumlah BUMN tidak lain karena lahirnya konsolidasi BUMN, di antaranya adalah sektor farmasi dan asuransi. Jumlahnya pun diharap bisa turun kembali ke angka 80.


Konsolidasi perusahaan BUMN oleh pemerintah bukan tanpa alasan. Langkah itu merupakan tujuan awal pembentukan Kementerian BUMN di era Presiden Soeharto. Latar belakangnya adalah krisis 1998 yang menghantam perekonomian Indonesia dan membuat kinerja ekonomi hancur lebur, dengan sektor keuangan yang paling terdampak signifikan.

Saat itu, ekonomi Indonesia minus 14 persen, inflasi capai level 77 persen, suku bunga sentuh level 60 persen, dan rupiah menembus level Rp17 ribu per USD dari sebelumnya Rp2.400 per USD. Kondisi kian parah karena bank nasional termasuk bank BUMN mengalami kolaps sehingga tidak bisa mengeluarkan Letter of Credit (L/C) atau surat kredit.
 
Surat kredit adalah sebuah cara pembayaran internasional yang memungkinkan eksportir menerima pembayaran tanpa menunggu berita dari luar negeri setelah barang dan berkas dokumen dikirimkan keluar negeri dan akan memudahkan pihak-pihak yang berada didalamnya.

 

L/C merupakan perjanjian yang diterbitkan oleh bank (issuing/opening bank) yang bertindak atas permintaan nasabahnya untuk melakukan pembayaran atas dokumen ekspor impor yang dikirimkan oleh penerima L/C.

Kondisi tersebut yang membuat Presiden Soeharto kala itu memutar otak untuk berupaya meningkatkan produktivitas perusahaan BUMN guna membantu upaya pemulihan ekonomi Indonesia. Hal itu berangkat dari bank BUMN tidak bisa mengeluarkan L/C, sedangkan stimulus sangat dibutuhkan untuk meredakan gejolak ekonomi.
 
BUMN <i>Mantul</i>

Tanri Abeng. FOTO: MI/ROMMY PUJIANTO

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kemudian saya dipanggil oleh Pak Harto. Saat itu Pak Harto mengatakan 'Tanri saya punya 159 perusahaan BUMN tapi tidak produktif. Bagaimana caranya ditingkatkan nilainya sehingga kalau privatisasi nilainya bisa tinggi'," kata Tanri Abeng, saat menceritakan awal mulanya pembentukan Kementerian BUMN, dalam sebuah webinar.

Setelah tiga minggu mempelajari BUMN, Tanri menceritakan, dirinya kembali menghadap Presiden Soeharto dengan mengemukakan beberapa konsep. Konsep pertama perusahaan BUMN harus konsolidasi aset produktif ke dalam National Holding Company atau sekarang dikenal dengan sebutan superholding dengan 10 sektor holding menangani 159 perusahaan BUMN.

Kedua, restrukturisasi manajemen yang artinya manajemen di perusahaan BUMN harus berpola seperti korporasi bukan birokrasi. Kedua konsep ini diajukan dan diterima Presiden Soeharto. Namun, Presiden Soeharto kala itu tidak hanya menerima usulan Tanri Abeng, melainkan meminta Tanri menjadi Menteri Negara Pendayagunaan Negara Kabinet Pembangunan VII.

Pengangkatan Tanri sebagai Menteri Negara Pendayagunaan Negara Kabinet Pembangunan VII diumumkan pada 14 Maret 1998 saat Kabinet Pembangunan VII diumumkan Presiden. Penunjukkan Tanri jadi menteri waktu itu dengan kondisi tidak punya kantor, tidak punya staf, tidak punya organisasi, dan tidak punya anggaran.
 


 
Halaman Selanjutnya
"Tapi saya sudah harus bekerja…
Read All


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif