Ilustrasi. Foto: AFP/Christof Stache.
Ilustrasi. Foto: AFP/Christof Stache.

Hantu Inflasi Global: Efek Domino dan Mitigasinya

Media Indonesia • 27 Juni 2022 15:12
TEORI ekonomi tentang boom and bust cycle, yang kita pelajari pada saat mengikuti kuliah ilmu ekonomi, ternyata mulai terlihat lagi saat ini. Ekonomi global telah mengalami fase pertumbuhan positif (boom) di 2019 sebelum pandemi covid-19 menyerang. Kemudian, mengalami fase resesi (bust) di saat semua negara terkena dampak ekonomi akibat pandemi covid yang berkepanjangan pada 2020-2021. Setelah hampir dua tahun berperang melawan covid-19, akhirnya ekonomi global kembali mengalami pertumbuhan positif (boom) menuju arah pemulihan.
 
Perjalanan ekonomi global dalam periode tiga tahun terakhir ini dapat dikatakan telah melalui sebuah lingkaran yang biasa disebut dengan boom-bust-boom cycle. Dari sisi teori ekonomi, boom-bust-boom cycle merupakan fenomena yang lumrah terjadi dan dianggap sebagai bagian dari volatilitas pergerakan kenaikan dan penurunan keadaan ekonomi. Hampir semua negara pernah mengalami fenomena boom-bust-boom cycle tersebut, sehingga bukan merupakan sesuatu yang aneh dan luar biasa. Meski demikian, tren inflasi yang mulai terjadi di mana-mana dikhawatirkan akan menjadikan pemulihan ekonomi kembali ke arah bust economy.

Pemicu inflasi

Booming ekonomi, yang ditandai dengan positifnya pertumbuhan ekonomi global sejak semester II-2021, merupakan fakta yang tidak bisa dihindari lagi. Dengan semakin berkurangnya penularan covid-19, secara simultan tingkat konsumsi masyarakat memperlihatkan tren kenaikan, mesin-mesin pabrik mampu beroperasi kembali, permintaan untuk investasi kembali menggeliat, sehingga roda ekonomi kembali berputar. Walau demikian, lonjakan tingkat konsumsi masyarakat sangat tinggi di awal 2022 ini seiring dengan semakin kecilnya angka penularan covid-19.
 
Di sisi lain, mesin-mesin pabrik belum siap menghadapi lonjakan permintaan yang begitu besar dalam waktu pendek. Kondisi tersebut diperparah dengan belum pulihnya arus supply chain bahan baku dari negara pengekspor menuju negara-negara pengimpor bahan baku, yang berakibat pada terbatasnya pasokan bahan baku untuk proses produksi. Akibatnya mudah sekali ditebak, yakni mulai naiknya tingkat inflasi yang didorong karena naiknya permintaan dan tidak mampunya mesin-mesin pabrik memenuhi permintaan itu. Boleh dikatakan saat ini isu mengenai inflasi ini sudah menjadi masalah global yang sedang dihadapi oleh hampir semua negara di dunia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Berbagai data menunjukkan tingkat inflasi di berbagai negara terus memperlihatkan tren angka yang meningkat. Kita ambil contoh laju inflasi di Amerika Serikat yang merupakan mesin ekonomi terbesar di dunia, pada Januari 2022 inflasi masih di angka 7,5 persen (yoy), tapi di Mei 2022 sudah menjadi 8,6 persen (yoy). Di negara-negara Uni Eropa, inflasi pada Mei 2022 diperkirakan akan menyentuh angka 8,1 persen, padahal di Januari 2022 masih di angka 5,6 persen.
 
Baca juga: Lonjakan Harga Komoditas Global Picu Kenaikan Inflasi 3,55%

Di negara-negara Amerika Latin, angka inflasi juga terus meroket, seperti yang dialami oleh Argentina 58 persen di April 2022 dan Brasil 10,1 persen di Mei 2022. Adapun di negara-negara Asia di luar Tiongkok dan Jepang, angka inflasi juga menunjukkan tren yang terus naik di Mei 2022, seperti di Korea Selatan 5,4 persen, Taiwan 2,7 persen, Indonesia 3,55 persen, dan India 7,5 persen. Meroketnya tingkat inflasi yang hampir terjadi di semua kawasan ekonomi tersebut secara bersama-sama memberikan gambaran perekonomian dunia sedang mengalami inflasi global.
 
Kenaikan inflasi tersebut pada akhirnya diperparah dengan adanya krisis energi dan pangan yang semakin hari semakin memprihatinkan keadaannya. Pada semester II-2021 kemarin, harga energi sudah memperlihatkan tanda-tanda kenaikan, dan di beberapa negara sudah mengalami apa yang disebut dengan krisis energi. Perang Rusia dan Ukraina yang dimulai pada Februari 2022 lalu semakin membuat pasar energi yang sudah berat menjadi semakin parah.
 
Embargo pembelian minyak dan gas alam dari Rusia oleh negara-negara Barat membuat harga emas hitam tersebut semakin melayang tinggi. Harga rata-rata minyak mentah di akhir Desember 2021 masih di kisaran USD78-USD80 per barel, dan di Mei 2022 sudah menyentuh angka USD110-USD115 per barel. Kenaikan harga minyak itu ternyata juga diikuti dengan melonjaknya harga batu bara yang masih banyak digunakan sebagai bahan baku sumber tenaga listrik. Harga batu bara di akhir Desember 2021 sekitar USD159 per ton, dan sekarang telah mencapai USD275 per ton.
 
 
Halaman Selanjutnya
  Efek domino Meroketnya laju…
Read All


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif