Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Poso ekstensi tahap 2 berkapasitas 4x50 Mega Watt (MW) siap beroperasi. FOTO: PLN
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Poso ekstensi tahap 2 berkapasitas 4x50 Mega Watt (MW) siap beroperasi. FOTO: PLN

Menyuburkan Energi Hijau di Indonesia Lewat Air

Ekonomi Pembangkit Listrik PLN Kementerian ESDM Analisis Ekonomi perubahan iklim Energi Terbarukan Energi Hijau Emisi Karbon Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)
Angga Bratadharma • 17 Desember 2021 10:30
ANCAMAN perubahan iklim menghantui negara-negara di dunia termasuk Indonesia sehingga perlu ada langkah nyata dan strategis untuk bersama-sama menekan emisi karbon demi keberlanjutan kehidupan dan perekonomian. Salah satu yang perlu dilakukan adalah bertransformasi ke energi terbarukan dan meninggalkan energi yang bersumber dari fosil.
 
Pemerintah Indonesia menargetkan target bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) pada 2025 sebesar 23 persen, gas bumi sebesar 22 persen, minyak bumi sebesar 25 persen, dan batu bara 30 persen. Sementara, pada 2020, bauran energi baru terbarukan tercapai 11,20 persen, gas bumi sebesar 19,16 persen, minyak bumi 31,60 persen, dan batu bara 38,04 persen.
 
Untuk mencapai target tersebut, pemerintah dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menyiapkan peta jalan untuk beralih dari energi fosil ke EBT. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan ESDM Rida Mulyana mengungkapkan pemerintah tengah menyusun draft Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


RUPTL PLN itu diarahkan untuk tercapainya bauran energi 23 persen pada empat tahun lagi. Upaya tersebut dengan harapan penggunaan energi di Tanah Air bisa lebih ramah karena berorientasi pada green energy. "Ini sudah menjadi komitmen bangsa. Kami pun optimistis dan berupaya ini bisa terwujud," kata Rida.
 
Dalam hal ini, pemerintah akan meningkatkan porsi pembangkit listrik berbasis EBT menjadi 48 persen atau 19.899 MW. Hal ini dituangkan dalam draft RUPTL PLN 2021-2030. Angka ini akan meningkat dibandingkan dengan RUPTL 2019-2028 yang masih di kisaran 30 persen. Ditargetkan penambahan pembangkit mencapai 40.967 megawatt (MW) atau 41 gigawatt (GW).
 
Tak hanya itu, pemerintah juga telah menyusun peta jalan untuk beralih dari energi fosil ke EBT untuk mencapai penggunaan pembangkit listrik berbasis energi bersih zero emisi karbon pada 2060. Upaya tersebut dengan mempensiunkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) hingga 2056.
 
Direktur Jenderal (Dirjen) Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Laksmi Dhewanthi mengatakan dengan disiapkannya peta jalan tersebut, pihaknya optimistis target bauran energi bisa diraih.
 
"Peta jalan dengan transformasi menuju energi lebih bersih ini diupayakan lebih rinci. Kami optimis dengan berkomitmen kuat," tuturnya.
 
Guna mendukung target tersebut, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Persero) Unit Induk Pembangunan Sulawesi bersama PT Poso Energy berhasil merampungkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Poso ekstensi tahap 2 berkapasitas 4x50 Mega Watt (MW).
 
Hebatnya, pencapaian itu membuat sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel) memiliki bauran energi baru terbarukan tertinggi di Indonesia. Selesainya pembangunan PLTA Poso ekstensi tahap 2 ini ditandai dengan keluarnya Sertifikat Laik Operasi (SLO) untuk unit 3 dan 4 pada 10 Desember 2021. Sedangkan SLO unit 1 dan 2 telah keluar pada September 2021.
 
"Pada masa transisi energi ini PLN dan Poso Energy berhasil merampungkan pembangunan PLTA Poso ekstensi tahap 2 berkapasitas 4x50 MW atau 200 MW," kata General Manager PLN UIP Sulawesi Defiar Anis.
 
 
Read All


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif