Ilustrasi. FOTO: MI/ATET DWI PRAMADIA
Ilustrasi. FOTO: MI/ATET DWI PRAMADIA

Menyambut New Normal

Ekonomi Virus Korona analisa ekonomi New Normal
Angga Bratadharma • 08 Mei 2020 12:55
EXIT strategi jadi opsi pemerintah dalam rangka menghentikan perlambatan ekonomi yang tengah terjadi akibat pandemi covid-19. Gerak cepat menjadi pilihan usai Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2020 hanya mencapai 2,97 persen atau lebih rendah dari target yang dibuat Kementerian Keuangan (Kemenkeu) di kisaran 4,5-4,6 persen.
 
Jika menilik data sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I-2020 terkoreksi minus 2,41 persen dibandingkan dengan kuartal IV-2019. Persoalan pandemi covid-19 tidak dipungkiri memberikan pukulan cukup besar, tidak hanya dari segi kesehatan melainkan juga memukul sosial dan ekonomi. Imbasnya, perekonomian nasional tertahan laju kecepatannya.
 
Sejak virus mematikan yang awal mulanya berasal dari Wuhan, Tiongkok, itu masuk ke Tanah Air, aktivitas ekonomi mulai terganggu. Bahkan, kebijakan yang diambil pemerintah di awal masuknya covid-19 pada Maret 2020 tidak dipatuhi masyarakat sepenuhnya. Alhasil, penyebaran virus tersebut bergerak seperti 'angin' ke seluruh penjuru Tanah Air.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lantaran jumlah orang yang terinfeksi virus korona kian bertambah, jurus pamungkas dikeluarkan yakni Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kebijakan tersebut tidak ditampik mampu memberikan hasil cukup positif yakni pertumbuhan jumlah yang terpapar virus mematikan itu mulai melambat. Terbaru, pemerintah melarang masyarakat melakukan mudik.
 
Meski muncul perdebatan terkait makna mudik dan pulang kampung, namun kebijakan itu diharapkan memutus mata rantai penyebaran covid-19 di seluruh wilayah Indonesia. Adapun pemerintah mencatat data terbaru kasus positif covid-19 pada Kamis, 7 Mei 2020 bertambah 338 orang.
 
Baca: Exit Strategy Covid-19 yang Viral, Ternyata Masih Kajian
 
Sementara pasien sembuh bertambah 64 orang menjadi total 2.381 dan pasien meninggal dunia bertambah 35 menjadi total 930 orang. Penambahan itu membuat secara akumulatif ada 12.776 kasus covid-19 di Indonesia, sejak kasus pertama diumumkan pada 2 Maret 2020.
 
Menyambut New Normal
 
Untuk memutus mata rantai penyebaran virus korona -dengan vaksin dan obatnya belum ditemukan- hanya bisa terjadi jika masyarakat disiplin, mulai dari beraktivitas di rumah, menggunakan masker, dan mencuci tangan dengan sabun. Seluruh elemen dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, Rukun Tetangga (RT), dan Rukun Warga (RW) pun tetap harus semangat.
 
"Hanya itu caranya. Kita masih mampu gotong-royong dan tanpa terputus melawan covid-19. Sehingga pada Agustus kita betul-betul merasakan kemerdekaan dari covid-19. Ini perjuangan kita," kata Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Korona Achmad Yurianto.
 
Normal Baru
 
Normal baru atau new normal sedang hangat diperbincangkan sekarang ini, baik di tingkat global maupun di dalam negeri. New normal perlu disambut lantaran pandemi covid-19 sudah mengubah masyarakat dalam bersosialisasi, menjalankan aktivitas bisnis, berdagang atau jual beli, dari segi kesehatan, hingga aktivitas perekonomian secara keseluruhan.
 
Baca: Kenormalan Baru di Sektor Ekonomi Usai Pandemi Covid-19
 
Contoh kecilnya yakni jika dulu melakukan jual beli harus bertatap muka maka sekarang ini jual beli terjadi secara online. Bahkan, perkembangan teknologi informasi membuat silaturahmi bisa dilakukan melalui telepon genggam atau gadget yaitu melalui video call. Selain itu, konsultasi kesehatan bisa melalui aplikasi yang disediakan oleh platform kesehatan.
 
Tidak hanya itu, mungkin setelah pandemi covid-19 berakhir, orang akan tetap menghindari keramaian, banyak orang tetap mengisolasi diri, menghindari dari perkumpulan banyak orang, dan tetap melaksanakan physical distancing atau memberikan jarak di tempat kerja dengan pekerja akan diminta untuk tetap mengikuti aturan physical distancing.
 
Bahkan, video conferencediperkirakan terus berjalan, masyarakat di banyak negara dianjurkan menggunakan masker dan hal tersebut menjadi hal biasa. Selain itu, banyak orang memilih opsi untuk berjalan kaki, menggunakan sepeda atau kendaraan pribadi daripada kendaraan umum untuk berangkat kerja atau melaksanakan perjalanan yang singkat.
 
Aktivitas higienis akan meningkat. Mencuci tangan dan menggunakan hand sanitizer menjadi hal biasa. Kegiatan sanitasi dan bersih-bersih menjadi hal wajib di lingkungan rumah maupun pekerjaan. Selain itu, aktivitas digital akan bertumbuh. E-commerce diyakini tumbuh tinggi karena semakin banyak toko dan restoran menyediakan jasa pengiriman tanpa kontak fisik.
 
Baca: Peluang RI Hadapi 'New Normal' Usai Covid-19
 
Kemudian, meningkatnya penggunaan media online/aplikasi dan video online, banyak orang akan menjaga kesehatan, menjaga makanan, dan olahraga rutin untuk meningkatkan sistem imun. Dari sisi pembelajaran akan ada penerapan belajar jarak jauh. Banyak sekolah akan menggunakan sistem online untuk melanjutkan pembelajaran dan home schooling menjadi tren.
 
Metode Selamatkan Perekonomian
 
Sementara dari sisi pemerintah, new normal menjadi metode yang diambil guna menyelamatkan perekonomian yang sedang menukik akibat covid-19. Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam sebuah kesempatan menjelaskan normal baru yang dimaksudkan yakni berjalannya operasional produksi dengan menaati protokol kesehatan.
 
Pemerintah terus menjaga agar produksi industri bisa terus berjalan dengan harapan roda perekonomian terus berputar. Airlangga, misalnya, mengatakan pabrik-pabrik yang sebagian besar saat ini operasionalnya dibatasi maka ke depan dimungkinkan berproduksi dengan menjalankan protokol kesehatan secara ketat.
 
"Tingkat konsumsi rumah tangga menurun, kegiatan ekspor impor juga menurun karena memang banyak negara yang dalam tanda petik, shut down. Ini tentu kita mengharapkan ada program exit strategy dengan metode normal baru di mana untuk pabrik, misalnya, harus menjalankan protokol covid-19," ucapnya.
 
Baca: Sektor yang Berpotensi Cuan di Kondisi New Normal
 
Pemerintah memiliki penjelasan terkait melemahnya konsumsi rumah tangga yang imbasnya terhadap perlambatan pertumbuhan. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan penerapan PSBB di Jabodetabek berdampak besar terhadap konsumsi masyarakat, mengingat konsumsi Indonesia kontribusi besarnya ada di Pulau Jawa, secara khusus Jabodetabek.
Menyambut New Normal
 
Perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia terutama disebabkan oleh konsumsi rumah tangga yang merosot ke 2,84 persen dan investasi yang hanya tumbuh 1,70 persen. Sementara itu, konsumsi pemerintah masih tumbuh walau tipis yakni 3,74 persen, ekspor 0,24 persen, sedangkan impor kontraksi 2,19 persen.
 
"Jadi kalau orang di rumah saja, makan saja, tidak keluar transport-nya ya memang akan begitu. Tahun lalu konsumsi Rp9.000 triliun kalau Jabodetabek lebih Rp5.000 triliun. Kalau Rp5.000 triliun hanya di rumah enggak sampai Rp5.000 triliun memang dampaknya berat sekali," kata Ani, sapaan akrabnya.
 
Bergantung PSBB
 
Jika melihat PSBB memengaruhi secara signifikan aktivitas perekonomian maka pertumbuhan ekonomi ke depan akan bergantung dari perluasan kebijakan PSBB di berbagai daerah. Merujuk pada penerapan PSBB di Jabodetabek pada Maret terlihat berdampak pada turunnya pertumbuhan ekonomi kuartal I-2020 yaitu di level 2,97 persen.
 
Penerapan PSBB membuat konsumsi masyarakat turun ke level 2,84 persen pada triwulan I-2020 atau jauh dari pertumbuhan biasanya yang mampu mencapai lima persen. Konsumsi masyarakat memiliki kontribusi sangat besar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yaitu mencapai 57 persen.
 
Baca: Pemerintah Bersiap Hadapi New Normal
 
Tak hanya itu, konsumsi masyarakat di Jakarta dan Jawa berkontribusi sekitar 50 persen hingga 55 persen terhadap keseluruhan konsumsi di Indonesia. "Kontribusi dari Jakarta dan Jawa itu lebih dari 50 persen sampai 55 persen. Artinya kalau sekarang Jakarta dan Jawa yang sudah PSBB pasti konsumsi tidak akan tumbuh," jelas Ani.
 
Dengan dasar itu, Ani berani mengatakan, jika kondisi pandemi covid-19 masih berlanjut di triwulan II dan III maka diprediksikan perekonomian Indonesia akan masuk dalam skenario sangat berat yaitu minus 0,4 persen.
 
"Jika kuartal II dan III tidak mampu memperbaiki dan pandemi menimbulkan dampak lebih panjang di kuartal II dan III, PSBB belum ada pengurangan maka kita akan memasuki skenario sangat berat," tegasnya.
 
Gaya Hidup Baru
 
Di sisi lain, virus korona kini memaksa sejumlah konsumen di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia, beradaptasi dengan gaya hidup baru, yang dikenal dengan istilah The New Normal. Kebijakan social distancing dan karantina mandiri membuat masyarakat membiasakan diri dengan rutinitas yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
 
Perusahaan Analisis Data & AI ADA menganalisis lebih dari 400 ribu aplikasi di Asia dan satu juta situs dikunjungi masyarakat selama pandemi berlangsung. Dari hal tersebut terjadi perubahan drastis pada rutinitas harian masyarakat menghasilkan perilaku konsumen baru yang disebut sebagai crisis persona.
 
Berdasarkan data dari ADA, pada akhir Februari 2020 hingga minggu ketiga Maret, aktivitas di kawasan pusat bisnis Jakarta mengalami penurunan 53 persen. Masyarakat mulai beralih berbelanja dan melakukan aktivitas secara online.
 
Baca: Tantangan Sektor Pariwisata Hadapi New Normal Usai Covid-19
 
ADA juga mencatat peningkatan penggunaan aplikasi produktivitas meningkat lebih dari 150 persen pada pertengahan Maret dengan screen record dan aplikasi anti-virus sebagai yang paling banyak digunakan serta aplikasi produktivitas lain yang digemari oleh pengguna adalah aplikasi yang dapat menggantikan pertemuan fisik dan mempertahankan interaksi.
 
Terkait The New Normal, Kirill juga mengatakan sejak diberlakukannya social distancing penggunaan aplikasi belanja oleh kelompok penyuka belanja juga meningkat hingga 300 persen. Diprediksi aplikasi belanja yang tengah banyak digunakan adalah aplikasi yang dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
 
Selain itu, bagi sebagian besar pekerja profesional Indonesia juga sudah biasa melakukan perubahan pola bekerja. Mereka berkoordinasi dari rumah masing-masing. ADA menemukan bahwa setiap orang bereaksi dengan cara yang berbeda terhadap keadaan baru selama pandemi ini.
 
"Melalui analisis penggunaan beberapa aplikasi, serta perubahan gerakan fisik, kami mengidentifikasi berbagai karakter berdasarkan reaksi mereka terhadap krisis," jelas Managing Director ADA Indonesia Kirill Mankovski.
 
Normal Baru Munculkan Peluang
 
Sementara itu, new normal memunculkan peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saing di sektor industri manufaktur. Sektor industri manufaktur domestik bisa menjadi bagian dalam rantai pasok industri global. Apalagi saat ini banyak negara masih bergantung pada ketersediaan barang dari Tiongkok.
 
Baca: Cara Mengelola Emosi di Masa Pandemi
 
Akibat ketergantungan tersebut, banyak negara akan memindahkan supplier bahan baku atau barang setengah jadi mereka ke negara lain yang selama ini merupakan input dari proses produksi sektor manufaktur Tiongkok. Di sini lah peluang Indonesia untuk masuk dalam rantai pasok industri global.
 
"Ketergantungan yang tinggi terhadap Tiongkok sebagai supplier bahan baku bagi industri manufaktur global tentu berisiko. Merupakan peluang besar di new normal bagi industri manufaktur domestik untuk bangkit dan berdaya saing di pasar internasional dalam rangka mengambil potensi porsi dari Tiongkok," kata Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede.
 
Baca: Istana: Berdamai dengan Covid-19 Bukan Berarti Menyerah
 
Sementara itu, Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan salah satu sektor yang diprediksi kurang beruntung saat new normal adalah industri pariwisata. Sebab pemulihan industri yang didalamnya menyangkut banyak segmen seperti penerbangan, perhotelan, dan restoran ini tidak bisa dilakukan dalam waktu cepat.
 
Menyambut New Normal
 
Apalagi setelah keputusan CEO Berkshire Hathway Warren Buffet untuk keluar dari saham-saham maskapai. Ia menilai akibat pandemi covid-19 industri tersebut tak lagi ciamik. Keputusan ini menjadi pertimbangan banyak pihak untuk melakukan investasi pada industri tersebut.
 
"Sektor wisatawan, kita harus melihat penerbangan ada masalah. Jadi industri ini menghadapi hal-hal yang baru yaitu teknologi akan menggerus mereka," kata Hans.
 
Baca: New Normal, Industri Asuransi Perlu Maksimalkan Teknologi Digital
 
Kemudian sektor yang diprediksi akan mengalami pergeseran kebiasaan adalah basic industry. Diperkirakan kedepannya sektor tersebut akan lebih banyak menggunakan sistem digital, robot, dan mesin sehingga penggunaan tenaga kerja akan semakin berkurang.
 
Di sisi lain, ia meramal, masyarakat akan mulai beralih mencari properti yang jauh dari titik pusat kota guna mengurangi interaksi dan penyebaran virus. Kemudian, yang jelang diuntungkan adalah sektor telekomunikasi, perdagangan, dan logistik.
 
Dengan kebijakan PSBB yang sudah diterapkan pemerintah selama ini membuat masyarakat terbiasa untuk menggunakan komunikasi dan berbelanja secara digital. "Telekomunikasi akan bagus. Karena orang akan lebih mengandalkan telekomunikasi. Kemudian perdagangan juga menarik, perdagangan akan meningkat dan akan banyak orang belanja online," pungkasnya.
 
(ABD)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif