Kolom

Renungan Fan Barca Tobat Jadi Firaun Sepak Bola

Fitra Iskandar 11 April 2018 14:54 WIB
liga champions
Renungan Fan Barca Tobat Jadi Firaun Sepak Bola
Ilustrasi; M Rizal/MTVN)
KITA sering dengar dari mulut teman, orangtua, maupun ulama tentang sebuah nasihat,”Tidak ada yang pantas disombongkan manusia di dunia ini”. Kalau Anda terlihat meremehkan nasihat ini, mungkin  Anda kemudian diyakinkan dengan  cerita tentang  Firaun.

Ya Firaun, yang dalam literasi Islam, disebut sosok yang sangat sombong. Dia terlalu percaya diri sehingga menganggap dirinya Tuhan.  Firaun, orang gila, setan terlalu dalam menguasai jiwa dan otaknya! Begitu gerutu pembenci sifat Firaun.

Sekarang  siapa yang menganggap dirinya adalah Tuhan?  Punya kepercayaan diri setinggi langit dan paling yakin tentang sesuatu yang belum terjadi. Anda tentu menolak bahkan marah bila ada yang menganggap diri Anda seperti itu. Siapa yang mau disebut  gila, dan dianggap otaknya sudah terlalu dalam dikuasai setan?! Kita pasti ngamuk. Minimal dongkol setengah mati.


Tetapi bayangkan dengan sikap kita sehari-hari. Kita sering, ternyata, menyimpan sifat-sifat Firaun. Merasa setara dengan Tuhan. Yakin 100 persen, tak ada keraguan tentang sesatu yang belum terjadi.  Tidak usah jauh-jauh. Banyak contohnya kenapa kita bisa seperti Firaun.  Kalau Anda sebelum kick-off  Barcelona vs Roma, merasa  Messi cs sudah punya tempat di semifinal Liga Champions, ini bisa jadi salah satu bakat Firaun yang kita miliki.

Siapa kita? Berani-beraninya mengantongi masa depan. Prediksi sih oke. Itu adalah optimisme yang  masih aman. Tidak melebihi kapasitas manusia.  Belum masuk dalam kategori ‘Firaun Attitude’.  Begitu kira-kira.

Nah, salah satu kuasa Tuhan adalah mengetahui masa depan. Kalau di dalam diri kita, merasa  Barcelona pasti melaju ke semifinal setelah leg  1 mengandaskan Roma 4-1- Well, di situ masalah serius.  Itu berarti menandingi kualitas Tuhan. Sadar atau tidak sadar.

Anda bahkan sudah lancang melampaui hukum alam sepak bola.  Para pemain, pelatih dan pengamat, ulamanya sepak bola, pasti lebih paham tentang  kalimat bijak yang sering tertulis di kolom-kolom prediksi atau ulasan sepak bola. Bunyinya begini: “Hasil akhir ditentukan dalam 90 menit”.  Pesan moralnya, sebelum peluit berakhir, jangan coba-coba seperti  Firaun: merasa sudah pasti menang, apapun situasinya.

 “The ball is round, the game lasts 90 minutes, everything else is pure theory. Off we go!"

Der Ball ist rund und das Spiel dauert 90 Minuten

Itu kutipan yang ditempelkan di awal film Jerman, Lola Rennt (Run Lola Run). Kalimat ini berasal dari mulut seorang pelatih sepak bola asal Jerman, Joseff Herberger.  Herberger adalah pelatih Jerman yang memenangkan Piala Dunia 1954 bersama Jerman Barat.

Dia saja bisa bilang begitu, padahal dia anggota Partai Nazi lho. Herberger, yang dekat dengan Nazi -- yang dikenal merasa diri paling hebat saja -- punya pikiran realistis.

Kalau sepak bola punya kitab, mungkin kutipan di atas punya kedudukan utama. Sebagai ayat yang memberi  peringatan keras kepada siapapun yang cinta sepak bola, untuk tidak ujub atau takabur dan riya (sombong, terlalu percaya diri, dan pamer). Tiga sifat sungguh tercela yang akan membuat orang merugi. Sakit hati,  atau malu bertemu teman yang suporter klub rival. Fans sepak bola paling sering berdoa untuk dihindari dari dua situasi itu.

Ujub, merasa terlalu bangga dengan klub yang didukung dan meremehkan lawan. Takabur, merasa terlalu percaya diri, sangat yakin menang. Riya, pamer statistik dan merasa dengan statistik itu bisa menertawakan klub lain. Sesungguhnya, tidak. Jangan sekali-kali songong. Ingat lagi kalimat bijak,  sepak bola ditentukan dalam 90 menit. Kemenangan bukan ditentukan dari statistik, skuat mentereng, pelatih top, stadion megah, apalagi desain jersey.
 
Dalam konteks pertandingan hidup mati dengan sistem laga kandang-tandang, hasil di leg 1 bukan segala-galanya. Berapa pun skornya karena masih ada 90 menit yang bisa mengubah  alur cerita. Banyak faktanya.  Coba googling saja kalau tidak percaya. Atau kalau mau tahu klik tautan ini untuk lihat artikelnya.

Yang paling dekat Anda bisa lihat Instagram malayantiger.my. Adminnya menulis sebelum Persija-Johor DT tanding tadi malam, 4-0 untuk  Johor DT. Mereka percaya diri betul mentang-mentang sudah menang 3-0 di pertemuan pertama. Faktanya, Persija di laga yang kedua menang 4-0. “TERBALICK,” akun IG guebobotoh menyindir setelah pertandingan.

Ini sederetan fakta yang membuktikan bahwa sifat Firaun juga harus dihindari. Apa pun bisa terjadi. Selama laga belum usai jangan sekali-kali sombong ampun-ampunan.

Saya fans Barcelona, dan baru sadar tidak ada tempat untuk kesombongan di dalam sepak bola. Sekarang saya agak malu bertemu teman saya yang fans berat AS Roma. Saat leg pertama, saya kirim link berita kemenangan Barcelona, dengan caption yang jemawa. “Bacaan pagi Bang.”  Pesan lewat WA itu saya kirim pukul 05.17 pagi. Tak lupa saya tambah emoticon tersenyum. Entah bagaimana dia, waktu baru bangun kemudian lihat WA itu.

Hari ini, giliran dia yang mengirim pesan lewat WA dengan caption sama “Bacaan pagi Bang.”  Untung saya sudah melakukan refleksi singkat sebelum dia mengirim WA pembalasan itu sehingga saya sudah bisa menerima kenyataan. Saya lapang-lapangkan dada saya.

Pelajaran penting buat saya. Dalam sepak bola pun, jangan sekali-kali merasa menang sebelum pluit akhir berbunyi.  Setelah leg pertama 4-1 untuk Barca, jujur saya sama sekali  tidak resah menunggu leg kedua.

Saya sudah mahfum soal hukum "90 menit" itu, tetapi seperti manusia biasa lainnya, yang mudah lupa, saya terlalu terbuai situasi. Mental saya seperti sudah menganggap tidak ada leg kedua lagi. Tinggal lawan di semi final. Ini mungkin tingkatan sombong yang parah. Dan yang terjadi adalah hasil yang sangat tidak terbayang.  Enggak percaya kalau kisah nyatanya begitu. Ah, tetapi itulah fakta. Saya harus terima meski agak perih-perih sedikit.

Enggak terasa, adzan subuh pun berkumandang. Waktu yang pas untuk bertobat dari segala bentuk kesombongan. Semoga bisa konsisten.

Masalahnya, enggak sombong ke (teman) suporter klub rival itu memang ujian amat berat. Apalagi kalau sudah di atas angin. Kalaupun enggak mengeluarkan kata ledekan,  mata suka refleks menatap dengan sorot mata dan sedikit senyuman.. yah Anda pasti tahu maknanya.  

Akhir kata, selamat untuk Roma dan para fansnya. Tersenyumlah sepanjang hari. Kalian memang layak menikmati kemenangan.



(FIT)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id