Pesan yang tak Terucap

Dhaifurrakhman Abas 12 Oktober 2018 21:49 WIB
Mendobrak Batas Disabilitas
Pesan yang tak Terucap
AKTIFIS PENYANDANG DISABILITAS: Aktifis penyandang disabilitas, Surya Sahetapy, (MI/RAMDANI)
UPACARA pembukaan Asian Para Games 2018 resmi dibuka. Diawali atraksi dua puluh lelaki penggebuk drum beserta tarian cambuk bercahaya merah merakah, mewarnai panggung berbentuk panorama laut.

Tak ketinggalan, Presiden Joko Widodo turut ambil aksi pada acara yang digelar di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu 6 Oktober 2018.  Malam itu, ada yang menarik, Presiden menggunakan bahasa isyarat saat membuka ajang pesta olahraga khusus kaum disabilitas.

“Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim. Saya nyatakan dengan resmi Asian (Para) games dibuka. Selamat berjuang, sukses,” ucap Jokowi sembari memeragakan bahasa isyarat dengan mengacungkan dua jempolnya, lalu mengangkat tangannya ke sisi kanan dan kiri.
Presiden Joko Widodo menggunakan bahasa isyarat dalam upacara pembukaan Asian Para Games 2018. (Metro TV). 


Suasana sontak bergemuruh. Sorak-sorai ribuan penonton memekakkan seisi area stadion. Rupanya, aksi Jokowi mendapat sambutan meriah. Dia juga mendapatkan lambaian tangan; cara teman-teman tuli bertepuk tangan.

Di antara ribuan penonton yang hadir, senyum seorang pria muda tetiba pecah. Dia adalah Surya Sahetapy, sosok di balik penampilan Jokowi yang menggunakan bahasa isyarat pada pidato pembukaan acara Asian Para Games tempo hari. Dia ikut berdecak kagum, sampai merinding.

Surya aktivis di komunitas Tuli yang getol memperkenalkan bahasa isyarat ke ruang publik. Dia pula rajin menyosialisasikan penggunaan kata tuli untuk mereka yang memiliki keterbatasan dalam berucap dan mendengar. Bagi mereka, kata tuli lebih disukai dan dirasa lebih sopan.

Awalnya, Jokowi hanya belajar bahasa isyarat melalui video yang Surya kirimkan. Namun, Jokowi tak puas, dia tertarik bertemu dan belajar langsung dengan sang empu. Lantas Putra penyanyi senior Dewi Yull dan aktor kawakan Ray Sahetapy ini, diminta untuk mendampingi Jokowi berbahasa isyarat sampai hafal.

“Rasanya Bapak Presiden mengeluarkan kami dari tempat yang 'tersiksa' karena bahasa isyarat dianggap aneh. Alhamdulillah," kata Surya melalui keterangan resminya, Selasa Oktober 2018.



Presiden Jokowi Widodo membuat vlog bersama Surya Sahetapy, (Dok Instagram)

 

Lika-liku

Menjadi tuli memang tak mudah. Hambatan itu tak menjadi penghalang bagi Surya meraih prestasi. Bahkan, dia punya impian besar, dia ingin semua orang mengenal dan tertarik belajar bahasa isyarat, sama seperti belajar bahasa asing lainnya. Tapi, dia sadar betul, butuh perjuangan ekstra untuk meraih cita-citanya.

Surya sempat mendapat lingkungan yang kurang elok saat mulai bersekolah di SLB B (Sekolah Luar Biasa untuk yang memiliki keterbatasan indra pendengaran). Di sana, Surya dididik agar berperilaku bak “orang dengar”; sebutan untuk mereka yang bisa berbicara dan mendengar dengan baik.

Selama delapan tahun, Surya mendapatkan materi seperti terapi bicara dan latihan baca bibir. Kerja kerasnya memang terbayar. Dia berhasil masuk ke sekolah umum ketika menempuh pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Namun, tekanan justru menghampiri.

Di sekolah tersebut, dia menjadi satu-satunya orang yang tidak bisa mendengar. Dia juga merasa kesulitan karena teman-temannya saling berkomunikasi dengan gerakan bibir yang terlalu cepat. Tak terelak, sering terjadi miskomunikasi yang berakhir dengan tertawaan, hanya karena salah pelafalan.



Aktivis penyandang disabilitas Tunarungu, Surya Sahitapy,(MI/RAMDANI)


Saat itu, Surya mulai menyadari ada perbedaan perspektif. Mulai dari sistem pendidikan, hingga hambatan interaksi dengan teman-temannya. Surya merasa mendapatkan tekanan selama masa bersekolah.

“Saya harus tertekan agar berpura-pura menjadi bagian (dari) mereka.  Juga kerjakeras agar bisa mengakses sekolah dengan menyesuaikan beberapa guru serta teman-teman,” ungkap dia.

Harapan baru semakin mendekat pada Surya ketika memasuki sekolah menengah atas (SMA). Dia memilih Homeschooling, di mana Surya hanya belajar di rumah. Dari situ Surya memiliki waktu banyak untuk mencari "dunia baru" dan bergabung dalam salah satu komunitas Tuli dan Disabilitas di Jakarta.

Di sana wawasan Surya mulai terbuka luas. Dia belajar banyak tentang bahasa isyarat dan isu kehidupan sosial orang-orang tuli. Dia menyadari bahwa banyak teman-temannya yang ternyata mendapat tekanan dari masyarakat. Mulai dari tekanan dari orang tua hingga ketakutan menghadapi dunia pekerjaan.  

“Apalagi perspektif saat itu di mana anak-anak tuli itu tidak dapat verbal maka mereka sulit bekerja bahkan memiliki masa depan,” ucap Surya.

Dari situ, Surya bertekad untuk melakukan perubahan besar. Dia ingin semua orang bisa berbahasa isyarat. Dia pula rutin melakukan sosialisasi pentingnya berbahasa isyarat dengan membuka kelas Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo), sosialisasi melalui film dan juga vlog (video blog).

Surya juga kerap diundang menjadi pembicara di berbagai acara internasional. Dari berbagai mimbar pidato, Surya selalu menggalakkan pentingnya bahasa isyarat.



Selain itu, pria berusia 25 tahun ini juga aktif memperjuangkan kesejahteraan orang tuli yang tertuang dalam perjanjian multilateral, Convension on the Rights of Persons with Disabilities. Dia ingin mendobrak perspektif negatif terhadap orang tuli.

“Dalam perspektif komunitas, tuli merupakan terminologi sosial budaya di mana mereka pengguna bahasa isyarat yang memiliki identitas, budaya dan komunitas. (Sedangkan) Tunarungu merupakan istilah medis di mana kehilangan pendengaran merupakan masalah sehingga harus diperbaiki supaya bisa mendengar,” tandasnya.
 

Diskriminasi Akses

Sosiolog Universitas Gajah Mada, Sunyoto Usman mengatakan, masyarakat juga harus ambil bagian dalam melakukan perubahan. Mulai dari hal kecil. Misalnya dengan merubah paradigma dalam memandang kemampuan penyandang disabilitas.

Menurut Sunyoto, masyarakaat saat ini masih memandang kaum disabilitas sebagai orang-orang yang tidak memiliki kemampuan dan hanya menjadi beban bagi masyarakat. Konstruksi sosial yang sudah berkembang selama ini sudah tersistemik dan membentuk diskriminasi akses.

Sehingga seolah-olah seluruh akses yang tersedia hanya diperuntukkan kepada orang-orang non-disabilitas. Termasuk akses untuk mendapat pekerjaan dan pendidikan.

“Sehingga membentuk diskriminasi akses,” kata Sunyoto saat dihubungi Medcom Files, Rabu 10 Oktober 2018.



SUNYOTO USMAN: Sosiolog Universitas Gadjah Mada (DOK UGM..AC.ID)


Untuk itu, harus ada sikap dan tindakan yang mendukung serta memfasilitasi pengembangan keahlian para penyandang difabilitas. Mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat dan dunia usaha. Semua harus  bahu-membahu menyediakan layanan bagi berkembangnya segala potensi dan keahlian para penyandang difabilitas.

“Justru dikembangkan. Bukan hanya bermanfaat untuk diri orang itu sendiri, tapi juga untuk orang lain,” Pungkas Sunyoto.

 



(WAN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id