Kisah Puji dan Cela di LPKA

Sri Yanti Nainggolan 19 November 2018 20:19 WIB
Mendobrak Jeruji Lapas Anak
Kisah Puji dan Cela di LPKA
Gerbang utama LPKA Klas II Bengkulu. (Medcom/Yanti)
BERITA itu menggemparkan Kota Bengkulu; seorang mahasiswa ditemukan tak bernyawa di Jalan Vinus Atap, sekitar Danau Dendam Tak Sudah, Kelurahan Dusun Besar, Kecamatan Singaran Pati.

Saat itu, awal 2017, kepolisian menetapkan bahwa korban yang bernama Doni Tarnando (22) dibunuh. Pelakunya empat orang dan langsung ditangkap. Tiga di antaranya masih di bawah umur.

DA (18), yang kini masih mendekam di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Klas II Bengkulu, adalah otak dari pembunuhan itu.

Dia divonis 10 tahun penjara dengan empat pelanggaran pasal Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP); pasal 365 tentang perampokan, pasal 338 tentang pembunuhan, pasal 339 tentang pembunuhan yang didahului tindak pidana, dan pasal 340 tentang pembunuhan berencana.

Kamis pagi, 8 November 2018, saat mengunjungi LPKA Klas II Bengkulu, kami mencuri kesempatan untuk berbincang dengan DA. 

Saat itu DA tidak sendiri. Beberapa narapidana alias anak didik (andik) lainnya ikut nimbrung. Sambil duduk melingkar di depan jejeran kamar, obrolan santai dimulai. 

"Di sini, (saat jam bebas kegiatan) kami menonton TV, mendengarkan musik, dan ada pembinaan juga," kata DA memulai percakapan.

Televisi itu merupakan sumbangan dari istri Gubernur Bengkulu saat berkunjung pada 2017. Pula beberapa alat hiburan lain, seperti pemutar musik, speaker, gitar, juga sumbangan dari pihak lain yang peduli pada andik di LPKA ini.



LPKA Klas II Bengkulu. (Medcom/Yanti)


Sambil bercerita tentang keseharian di dalam LPKA, sesekali canda tawa kami lepaskan bersama. Aktivitas yang menjadi kegemaran masing-masing andik juga dibeberkan dalam percakapan ringan ini.

Bagi DA, usai salat magrib dan kembali ke kamar masing-masing, adalah waktu favoritnya. Dia selalu menunggu saat tersebut untuk membaca buku atau membuat puisi di kamarnya yang sedikit pengap.

Tapi itu hanya salah satu kegiatan favoritnya, bukan satu-satunya. Karena, remaja berkepala plontos itu mengaku menikmati hampir semua kegiatan LPKA. Tidak membosankan, sambil menunggu masa bebas.

"Saya merasa lebih baik di sini dari di luar dulu. Di sini lebih bisa mengembangkan diri, lebih percaya diri lagi, bisa ngobrol sama orang," bebernya penuh yakin. 

Sebelum ditetapkan sebagai terdakwa dalam kasus pembunuhan, DA mengaku takut dengan momok penjara. Hal ini kerap menganggu pikirannya.

Apalagi saat itu dia baru berusia 17 tahun. Bayangan perlakuan buruk penjara terhadap dirinya sering menghantui.

"Awal masuk saya takut, soalnya kan kalau dengar kata penjara, kesannya kejam. Jadi takut," akunya.

Tapi, setelah menjalani pembinaan, perlahan-lahan percaya dirinya terbangun. Teman satu kamarnya pun mau bercakap-cakap dan tidak ada kekerasan yang dirasakan.

Kini, DA merasa menjadi orang yang siap melangkah kedepan dengan sosok yang baru.

"Ternyata penilaian saya (tentang Lapas) salah."



DA duduk di kamar selnya. (Medcom/Yanti)

 

Tak hanya LPKA

Dari mulai sumbangan hingga bantuan program sering diterima LPKA Klas II Bengkulu ini dari pihak luar. Maklum, anggaran LPKA terhitung minim. Malah sebelumnya pernah tidak memiliki anggaran.

Salah satu pihak yang memberikan bantuan pembinaan dan konseling adalah Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI).

Bagi DA, konseling yang rutin diadakan seminggu sekali itu bermanfaat. Dari situ, momok menakutkan hidup di penjara terpatahkan. Rasa tidak percaya diri sebagai napi pudar. Ketakutan akan diasingkan sebagai sampah masyarakat perlahan menghilang.

"Dia (DA) pas masuk sini seperti orang ketakutan, karena ingat masa hukuman yang lama dan musuh yang banyak. Ada ketakutuan sendiri," timpal Manajer PKBI Bengkulu Antoni, yang saat itu ikut mendampingi DA kala berbincang dengan kami.

Bagi banyak andik, Antoni bersama rekannya Bebril bak teman untuk mencurahkan isi hati alias curhat. Keduanya memang sering berkunjung ke LPKA. 

"Dia (DA) mulai bangkit dan termotivasi. Sekarang dia dapat menjadi contoh," ujar Anton sambil menepuk bangga bahu DA.



Project Manager PKBI Bengkulu, Antoni, dalam sebuah sesi pembinaan andik di LPKA Bengkulu. (Medcom/Yanti)


Banyak keterampilan yang kini dikuasai DA, mulai dari melukis, membuat puisi, bermain alat musik dol, dan olahraga futsal.

Ternyata, lukisan yang kami lihat di tembok sebelah pintu kamar para andik, adalah karya DA dan kawan-kawan. Hal ini diamini Kepala Sub Seksi (Kasubsi) Penilaian dan Pengklasifikasian LPKA Bengkulu Deram Rahmaya.

Malah, kata Deram, hasil karya para andik laku dijual. Salah satunya sebuah lukisan yang kini terpajang di Kantor Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di Bengkulu.

"Harganya sekitar Rp 600 ribuan. Jika ada yang laku, nanti kita belikan mereka makanan seharga itu. Karena di sini anak tak boleh pegang uang," terang Deram pada kesempatan yang sama.

Sementara untuk aktivitas di luar LPKA, DA dan beberapa andik lain diperbolehkan untuk mengikuti pelatihan di bidang elektronika di Balai Latihan Kerja (BLK) Bengkulu sejak September tahun ini. Izin belajarnya dari pukul 7.30 WIB hingga 14.00 WIB. 
 

Dukungan keluarga

Meski terpisah, dukungan keluarga untuk DA selalu ada. Ibunya rutin berkunjung ke LPKA.

"Mama hampir tiap hari jenguk ke sini, seminggu bisa tiga kali. Kadang sama papa, sama pacar juga," kata DA sambil sedikit tersenyum.

Tapi, tiba-tiba DA hanyut sejenak dalam haru. Diakui, kunjungan sang ibu telah menguatkan dirinya selama menjalani masa hukuman.

"Jalani, nak. Tidak lama ini. Waktu ko di dalam tak selama waktu ko di luar," DA menirukan nasihat ibunya. 

Penasaran dengan sosok sang pahlawan bagi DA, kami pun menyambangi kediamannya. Kebetulan ibu yang dibanggakan oleh anaknya itu ada di rumah. Dia adalah Desi Yuniarti.

Di rumah yang dijadikan tempat usaha servis jok itu, Desi bersama dua anak perempuannya -- adik-adik DA, menyambut kami dengan ramah.  

Dari percakapan kami, ternyata keluarga ini tak hanya sering menjenguk DA ke LPKA. Desi dan suaminya juga rutin menyambangi BLK tempat DA mengikuti pelatihan elektronik.

"Kami mengunjungi ke sana (BLK Bengkulu) sekitar jam 9.30, sambil bawa bekal untuk dia. Sementara papa dia yang mengantar," ujar Desi, menceritakan bagaimana perubahan kecil saat menjenguk anaknya. 

Desi mengaku terkejut saat pertama kali mendengar kasus pembunuhan yang menjerat anaknya. Padahal, di mata sang ibu, DA adalah pribadi yang manja, aktif, dan senang membantu.

Termasuk teman-teman DA yang terlibat dalam kasus tersebut, perilakunya baik di mata Desi. Mereka sangat akrab dengan keluarga DA.

"Syok semua. Papa juga sampai kena stroke. Pas polisi datang itu. Alhamdulillah ga terlalu berat. Dibawa ke rumah sakit, diurut, diobati, dan sembuh," terang Desi yang ternyata saat itu baru menjalani operasi di kepalanya.



Desi Yuniarti. (Medcom/Yanti)

 

Tak mau terlihat pilu

Desi bercerita kepada kami, di malam tahun baru 2017, DA dan tiga karibnya itu datang ke rumahnya dengan pakaian yang sudah kotor.

Saat itu sekitar pukul 01.00 WIB dini hari, DA mengaku kondisi berantakan itu karena asyik bermain di pantai. 

Sejak itulah Desi menemukan perubahan sikap sang anak.

"Dia tiba-tiba peluk saya lama, bilang kalau gak bisa kayak gini lagi dalam waktu lama. Saat ngobrol, (tiba-tiba) nangis. Ternyata tanggal 2 (Januari 2017) dijemput polisi. Jam 3 subuh."

Desi mengaku pilu melihat anaknya masuk penjara. Namun, dia tak mau menunjukkan perasaan itu di depan DA. Dia khawatir anaknya semakin sedih dan ketakutan.
 

Pada masa awal di dalam bui, DA selalu menangis ketika dijenguk, setiap hari. Meski Desi juga sedih, dia bertahan untuk tidak meneteskan air mata di depan anak pertamanya itu.


"Begitu keluar LPKA, baru nangis. Kesedihan jangan dilihatin ke anak, nanti mereka (jadi) lemah," ucapnya.

Dibanding orangtua andik lainnya, Desi paling rajin datang membesuk ke LPKA. Sampai-sampai dirinya akrab dengan andik lain -- teman-teman DA, karena senang membawakan makanan.

Pekerjaan sebagai wiraswasta membuat Desi memiliki waktu yang fleksibel. Setiap hari bisa mengunjungi DA barang 15 menit saja.

Rutinitas itulah yang akhirnya membuat Desi dipilih sebagai koordinator perkumpulan orangtua andik. Perkumpulan ini sering mengikuti kegiatan yang diadakan LPKA maupun PKBI.

Selain itu, jarak LPKA dan rumah keluarga DA tak terlalu jauh. Jika mengendarai sepeda motor, hanya memakan waktu 20 menit. 

"Saya mau menunjukkan, sesibuk apapun orangtua, bisa kok mengunjungi," tukasnya.
 

Bolak-balik masuk LPKA

Jika DA harus mendekam lama di LPKA, RW (17) justru sudah bolak-balik di LPKA dengan masalah yang berbeda. Ini adalah kali keempat dia mendekam.

Kasus pertama adalah pengeroyokan, saat dia berusia 15 tahun. Aksi itu dipicu kemarahannya kepada seorang bapak. Pengeroyokan itu dilakukan bersama kakaknya. Dan, hakim menjatuhkan hukuman tiga bulan di LPKA. 

Di usia 16 tahun, RW kembali berurusan dengan hukum. Kali ini kasusnya penjambretan. RW beraksi bersama temannya, dan berujung hukuman 9 bulan di LPKA.

Selang beberapa bulan setelah dinyatakan bebas, dia kembali terjerat masalah hukum. RW kedapatan membawa senjata tajam jenis badik (senjata tradisional) saat sedang kongko bersama teman. Pengadilan Bengkulu menghukumnya 5 bulan LPKA.

Terakhir, RW tersangkut kasus yang cukup serius dengan masa tahanan 4 tahun.

"Masalah cewek, Mbak," ujarnya singkat sambil tersipu malu dan membuang tatapannya.

Meski sudah bolak-balik masuk LPKA, tapi kali ini adalah hukuman terlama yang pernah didapat. Keputusan itu sempat membuat perasaan RW guncang. 

Saat ini adalah bulan kesembilan RW dalam menjalani hukuman 4 tahunnya di LPKA. Sama seperti DA, dia merasa dirinya sudah lebih baik. Selain konseling rutin, RW kerap mengaji, menyablon, melukis, membuat puisi, hingga bermain musik dol.

"Tapi saya lebih memilih di luar (bebas)," bisiknya pelan.




 

Bersama napi dewasa

Saat pertama kali terjerat hukum, RW ditempatkan di LP Malabero. Kala itu LPKA di Bentiring belum ada.

"Masih digabung sama dewasa. Ada beberapa teman yang disuruh-suruh (oleh napi dewasa)."

Beruntung, RW tak mengalami hal itu. Sebab dia masuk LP bersama kakak pertamanya, jadi ada yang melindungi.

RW sadar, nanti ketika usianya menginjak 19 tahun, dirinya akan dipindah ke LP. Saat itu dia sudah masuk dalam kategori usia dewasa. Ketika ditanya, apakah dirinya takut? Dengan mantap RW mengatakan tidak.

"Soalnya ada kakak di sana," jawabnya pendek.

Belakangan, dari Antoni kami tahu bahwa kakaknya kembali masuk bui karena kasus narkotika.

Pada akhirnya, bolak-balik RW ke LPKA tak bisa dipandang sebagai cerita semata. Justru laik dipandang sebagai persoalan dalam pembinaan.

Inilah cerita di balik jeruji LPKA. Dari kisah DA, ada puji bagi orangtua. Dari lakon RW, tampak cela dalam bina.
 

(COK)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id