Mendobrak Jeruji Lapas Anak

Sri Yanti Nainggolan 19 November 2018 20:50 WIB
Mendobrak Jeruji Lapas Anak
Mendobrak Jeruji Lapas Anak
Ilustrasi: Medcom
WAKTU menunjukkan pukul 10.00 WIB, suasana Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Klas II Bengkulu, di Bentiring, Muara Bangkahulu, terlihat mulai hidup. Jam bebas kegiatan bagi para tahanan alias anak didik (andik) telah tiba. 

LPKA di Bentiring ini adalah satu-satunya penjara anak yang dimiliki Provinsi Bengkulu. Itupun tidak berdiri sendiri; masih berada dalam satu area yang sama dengan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dewasa, juga Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP).

Pagi itu, Kamis, 8 November 2018, setelah mengisi data pengunjung di meja registrasi, saya langsung menuju blok LPKA. Lokasinya tak jauh dari pintu masuk utama.

Sedikit jalan kaki dari ruang registrasi tadi, bangunan blok LPKA sudah terlihat, diapit gedung LPP dan masjid. Tepat di depannya ada lapangan kecil yang biasa digunakan untuk senam pagi bersama.

Areanya dikelilingi pagar kawat harmonika dengan tinggi sekitar 3 meter. Tampak pula kawat berduri yang melingkar di atasnya.





Saat memasuki bangunan utama, terlihat sebuah papan keterangan yang tergantung di dinding. Tertulis, penghuni LPKA berjumlah 54 orang; terdiri dari 13 tahanan dan 41 andik.

Tepat di sebelah papan tersebut ada sebuah etalase kaca berisi makanan ringan siap jual.

"Andik bisa membelinya dengan uang yang dititipkan orang tua ke petugas. Mereka tak boleh pegang uang," celetuk salah satu petugas LPKA saat kami mendekat ke arah etalase tadi.

Pandangan kami juga tertuju ke sebuah tembok berwarna biru muda di sebuah ruangan. Tembok itu dipenuhi poster-poster berisi puisi. Ternyata, semua puisi itu adalah karya para andik di LPKA Klas II Bengkulu ini.





Suara gitar pun sayup terdengar. Arahnya dari sekitar tempat wudhu, tak jauh dari masjid. Saat kami hampiri, terlihat beberapa andik sedang asyik bernyanyi. Inilah salah satu sudut favorit andik saat jam bebas kegiatan tiba.

Dalam blok LPKA ini terdapat 8 kamar, baik untuk andik maupun yang berstatus tahanan. Jika diperbandingkan dengan jumlah seluruh penghuninya, satu kamar ditempati 6 sampai 7 orang.

Penasaran, saya pun menghampiri salah satu kamarnya. Ruangan berukuran sekitar 3 x 7 meter itu cukup gelap. Maklum, lampu hanya menyala di malam hari.

Udaranya juga agak pengap, karena sirkulasinya hanya mengandalkan pintu kamar. Sementara di ujung ruangan terdapat kamar mandi yang ditutupi dengan dua helai sarung.





Di sisi ruangan terlihat tempat tidur yang terbuat dari semen; siap dilapisi kasur busa jika penghuninya ingin tidur.

Setiap kamar andik juga dilengkapi sebuah lemari gantung untuk menyimpan bantal, selimut, juga barang-barang pribadi andik. Jika tak cukup, ada kontainer yang diletakkan di kolong tempat tidur. Semua cukup rapi.
 
"Kami merapikannya secara bergantian, Mbak," ujar DW (19), salah satu andik yang saya temui di kamar tersebut.

Usai berbincang dengan DW, saya keluar kamar dan melihat dua orang andik sedang membaca puisi. Mereka didampingi dua orang petugas. Ternyata kegiatan ini adalah salah satu aktivitas pembinaan LPKA.





Sementara rombongan yang sebelumnya asyik bermain gitar terlihat sudah pindah tempat. Mereka mengungsi ke tempat menjemur pakaian.

Sesekali perhatian saya tertuju ke dua ruangan kecil berjeruji di salah satu sisi blok. Di dalamnya terlihat ada kamar dengan pintu besi.

"Itu untuk andik yang bandel (membuat masalah), dimasukkan situ," lagi-lagi celetuk seorang petugas setelah beberapa kali saya melirik ke ruangan tersebut.

Kata dia, ruangannya berukuran 1,5 x 2 meter. Andik yang kedapatan membuat onar akan dikurung di sana selama tiga hari, sekaligus untuk menenangkannya.





 

Numpang sana-sini

Awalnya kondisi tahanan anak di Bengkulu tidak sebaik gambaran di atas. Sebelumnya para narapidana (napi) anak menjadi satu dengan napi dewasa di LP Klas IIA Bengkulu, Malabero. 

Malah, Kepala Sub Seksi (Kasubsi) Penilaian dan Pengklasifikasian LPKA Bengkulu, Deram Rahmaya, sempat bercerita kepada saya ihwal seringnya perpindahan lokasi untuk napi anak di Bengkulu.

"Saat itu (di LP Klas IIA Bengkulu, Malabero) anak diperlakukan sama dengan dewasa. Mereka mendapat satu kamar dengan blok yang berdekatan dengan dewasa," ujar pria itu saat dihubungi, Jumat, 9 November 2018. 

Jadi, sambung Deram, para napi yang berusia tanggung, yaitu usia 19-20 tahun, masih bebas mendatangi napi anak-anak. "Sebetulnya itu dilarang. Tapi karena keterbatasan jumlah petugas, masih kecolongan."

Dari segi fasilitas, satu kamar diisi 25-30 orang, melebihi standar kapasitas. Bahkan, beberapa anak digabung dengan orang dewasa. "Saat itu, kapasitas di LP Malabero memang sudah penuh, sekitar 600-700 orang di dalamnya."

Setelah ada Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 18 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja LPKA, barulah blok LPKA didirikan. Lokasinya dibuatkan di dalam area LP Bentiring.

Pada 16 Desember 2016, secara resmi semua napi anak dipindahkan ke LPKA Klas II Bengkulu, Bentiring. Ya, meski masih dalam satu area dengan LP dan LPP, setidaknya ada jarak alias tidak menyatu.
 

Tapi, saat itu, karena jumlah petugas lapangannya hanya satu orang, diam-diam napi dewasa sering menerobos masuk kawasan LPKA. Akibatnya, beberapa kasur busa hilang diambil para napi dewasa.


Tak lama, Kepala LPKA Klas II Bengkulu Hari Winarca mengajukan penambahan personel. Sebulan kemudian petugasnya bertambah menjadi 17 orang, dengan jumlah andik saat itu berjumlah 110 orang. 

Kegiatan andik lebih kondusif. Malah, banyak pihak yang melibatkan diri dalam pembinaan andik di LPKA ini. Salah satunya LSM Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI). Tak jarang pula dijadikan tempat praktek mahasiswa untuk pengembangan keterampilan para andik. 

Sayangnya, pada Maret 2017, andik terpaksa pindah lokasi lagi. Mereka kembali ke Rumah Tahanan (Rutan) Malabero (sebelumnya LP Malabero). Alasannya, LP di Bentiring kelebihan kapasitas.

"Di Bentiring penuh. Hampir 900 orang, padahal seharusnya 400 orang," ujar Hari saat saya temui di ruang kerjanya, Kamis, 8 November 2018.

Kejadian serupa kembali terjadi di Rutan Malabero. Kapasitasnya melebihi standar, dan tentu semakin tidak kondusif bagi pembinaan andik.

Akhirnya pada September 2017 para andik dikembalikan ke LPKA di Bentiring, hingga saat ini. "Tapi napi dewasa terpaksa dipindah ke LP Curup, supaya anak-anak bisa berkegiatan," jelas Hari.





Lalu, bagaimana dengan anggaran LPKA? Sejak Hari dilantik hingga awal 2017, LPKA tidak mendapatkan anggaran.

Selama itu LPKA hanya mengandalkan bantuan pembinaan dari LSM-LSM. Malah sesekali lembaga ini berswadaya agar kegiatan bisa tetap berjalan.

Untuk kebutuhan konsumsi andik, anggarannya menjadi satu dengan konsumsi napi LP dan LPP. Perkepala dijatah Rp14 ribu untuk sekali makan -- di luar nasi.

Akhirnya pada April 2017 Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM (Kehenkumham) menggelontorkan anggaran untuk LPKA Bengkulu, nilainya Rp247 juta. Dana itu untuk pemeliharaan, perawatan, kesehatan, dan pembinaan. Belum termasuk konsumsi.

Tapi, angka tersebut dirasa kurang. Untuk beberapa kegiatan LPKA masih berswadaya.

"Misalnya, untuk pertunjukan musik yang berada di luar kawasan LPKA, seharusnya penyelenggara yang membiayai. Ini malah LPKA," keluhnya.
 

Pindah permanen di 2019

Sejatinya, sejak 2017 Dirjen Pemasyarakatan Kemenkumham memiliki rencana khusus membangun empat gedung LPKA, salah satunya untuk LPKA Bengkulu. Dengan begitu LPKA tidak lagi satu area dengan LP dan LPP.

Anggaran yang disiapkan dikutip dari APBN, sebesar Rp21 miliar. Tapi, mengapa eksekusinya molor hingga 2 tahun?

Hari mengatakan, kendalanya adalah penentuan lahan. Alasan itu juga diamini Kepada Divisi (Kadiv) Administrasi Kemenkumham Kanwil Bengkulu, Ida Asep Somara. 

"(Proses) lama karena mencari lokasi yang pas untuk anak. Akses ke rumah sakit, sekolah, dan dekat polisi," ujarnya saat ditemui di Kantor Kemenkumham Kanwil Bengkulu, Jumat, 9 November 2018.

Tapi, kini persoalan lahan sudah selesai. "Ada hibah dari Walikota, yaitu di daerah Tanjung Gemilang seluas 1,5 hektar, tak jauh dari Kantor Walikota Bengkulu," kata Hari.

Target Kemenkumham sendiri LPKA Bengkulu sudah jadi dan bisa dioperasikan 2019 mendatang. Saat ini statusnya sedang di tahap lelang proyek pembangunannya.

Hari berharap, saat LPKA terpisah dari LP dan LPP, kondisi ramah anak dan pembinaan bisa maksimal. Andik diharapkan tidak merasa seperti di dalam penjara; tanpa jeruji atau kawat berduri.

Selain itu, pendidikan formal bagi andik bisa dijalankan secara baik. Sebab, andik yang ada di LPKA Bengkulu ini mengandalakan sistem kejar paket. Ujiannya di dalam LPKA.

Sambil menjelaskan, Hari pun menunjukkan sketsa rencana bangunan LPKA kepada saya. Terlihat beberapa paviliun, masing-masing memiliki beberapa kamar, dan ada ruang belajarnya.

Untuk kapasitas, dia menargetkan maksimal 100 andik. "Satu kamar maksimal dihuni 3 andik," harapnya.

Dalam sketsa tersebut, terlihat pula berbagai fasilitas seperti ruang kelas, Balai Latihan Kerja (BLK), klinik, lapangan, masjid, dan aula. 

"Awal Maret (2019) mulai bangun, September (2019) pindah," katanya mantap.

Saat ini, selain LPKA Klas II Bengkulu di Bentiring, berdasarkan Sistem Database Pemasyarakatan Ditjen PAS, tahanan anak dan andik tersebar di 3 LP, yaitu, Curup (22 orang), Argamakmur (24 orang), dan Manna (21 orang). Nantinya, semua akan dipindahkan ke Tanjung Gemilang.

(COK)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id