Sang Penembus Batas

Dhaifurrakhman Abas 12 Oktober 2018 23:34 WIB
Mendobrak Batas Disabilitas
Sang Penembus Batas
Pendaki puncak tertinggi dunia berkebutuhan khusus Sabar Gorky asal Solo, Jawa Tengah. (Dhaifurrakhman Abas)
SENYUM pria plontos itu akhirnya pecah di tengah sesi wawancara dengan Medcom Files di Slipi, Jakarta Barat, Rabu 3 Oktober 2018. Sambil memamerkan kruk (tongkat ketiak) untuk membantunya berjalan elok, lamat-lamat wajahnya mulai serius.

Ya. Dia adalah Sabar Gorky. Pendaki puncak tertinggi dunia berkebutuhan khusus asal Solo, Jawa Tengah.

Bagi para pencinta alam, barangkali namanya sudah tak asing di telinga. Dia menjadi sorotan karena merupakan salah satu tunadaksa yang berhasil menaklukan puncak Kilimanjaro, Aconcagua, Carstensz dan Elbrus.
Pendaki puncak tertinggi dunia berkebutuhan khusus Sabar Gorky asal Solo, Jawa Tengah. (Dhaifurrakhman Abas)


Teranyar, pria berkaki satu itu beraksi memanjat kapal miniatur dalam opening ceremony Asian Para Games 2018. Aksi yang membuat sebagian orang gamang. Walaupun decak kagum tersorak-sorai saat Sabar berhasil mengibarkan bendera Asian Paralympic Committee dari pucuk tiang kapal.

“Jiwa pengembara memang sudah tertanam sejak usia muda,” kata Sabar.

Meski sudah mendapat segudang prestasti, namun semua itu didapatkan dengan perjuangan berat. Mulai dari tekanan dari lingkungan terdekat, hingga ketidakadilan yang diperoleh karena kondisi fisiknya. Seolah, orang dengan keterbatasan tidak punya hak untuk mengeruk prestasi.
 

Jatuh bangun

Mulanya, Sabar tidak pernah terpikir untuk bisa menjinakkan ketinggian. Dekade 80-an, Sabar hanya seorang remaja yang menggilai olahraga ekstrem penyulut adrenalin. Mafhum, gelora usia muda seringkali membara, pantang diajak kompromi.

Beruntung Sabar bisa mengalirkannya pada kegiatan positif. Satu per satu gunung di Indonesia mulai dicicipi. Pula, olahraga yang dulu dianggap anti-maintsream, seperti wall climbing (panjang dinding) dan arung jeram, dia tekuni.

Tak terbendung. Untuk memenuhi hasrat berpetualang, Sabar juga seringkali melampiaskannya dengan cara melancong ke kota-kota besar. Termasuk Jakarta, kota yang mengubah kehidupannya sedemikian rupa.

“Saya berpetualang saja ke Jakarta,” ucap Sabar sembari tersenyum.

Sore itu pada April 1990, Sabar yang masih duduk di kelas dua Sekolah Menengah Atas (SMA) kembali bertualang melepas rasa penat. Dari tanah kelahirannya di Solo Jawa Tengah, Dia memutuskan melancong ke Jawa Barat untuk mendaki gunung Gede-Pangrango.

Nahas. Dalam perjalanan kembali ke tanah kelahiran, Sabar mendapat derita. Dia terjungkal dari kereta api yang seharusnya mengantarkannya pulang ke Solo.

“Waktu itu kereta berhenti di Stasiun Karawang, dan kereta bersiap jalan lagi. Saya sempatkan beli minum. Pas mau naik, kepeleset,” kisahnya.

Sabar mencoba bangkit. Dalam situasi remang, kedua tangannya meraih tanah untuk membantunya duduk dan mencerna kejadian yang baru saja terjadi. Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Akibat terjatuh dari kereta api, kaki kanan yang biasa menemaninya berpetualang hilang dari pelupuk mata.

“Lalu kaki sudah lepas. Lalu saya dilarikan ke rumah sakit, dan merelakan kaki kanan diamputasi,” kisahnya.
 

Frustrasi

Kehilangan kaki kanan sempat membuat Sabar goyah. Bagaimana tidak, Impian menjadi tentara sirna sudah. Apalagi sebagai remaja, kondisi fisik Sabar tengah gagah-gagahnya.

Meski begitu, semangat untuk terus bergerak tetap tak bisa dibohongi. Sabar merasa jengah jika harus berbaring di tilam Rumah Sakit setiap hari. Lantas setiap pagi, dia selalu rutin berolahraga ringan dari pembaringan.

Tak hanya itu, ketika sudah diperbolehkan menggunakan kursi roda, Sabar mengelilingi lorong-lorong Rumah Sakit untuk meregangkan otot tangannya. Sembari berteriak lantang dan membuat gaduh ala remaja bangor.

“Saya teriak-teriak setiap pagi. Dengan maksud biar mereka yang dirawat juga bangun setiap pagi, dan (ikut) bersemangat,” ungkapnya.

Rasa percaya diri juga semakin tumbuh tatkala keluarga dekatnya selalu memberikan sokongan. Lebih-lebih, sosok almarhum ibu yang selalu memberikannya semangat untuk selalu mantap menjalani hidup.



Sabar Gorky, Pendaki puncak tertinggi dunia berkebutuhan khusus berbincang dengan Medcom Files. (Dhaifurrakhman Abas)


Singkat cerita, perjuangan dan kegigian Sabar membuahkan hasil. Jeri payahnya dihargai ketika dirinya mendapat tempat dalam pertandingan wall climbing dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) pada 1996. Sayangnya, tidak semua penyandang disabilitas mengetahui adanya kompetisi olahraga khusus disabilitas.

“Enggak ada lawan (penyandang disabilitas). Karena dulu (sampai sekarang) olahraga panjat tebing khusus disabilitas belum ada sosialisasinnya secara besar-besaran. Jadi bisa dikatakan temen-temen disabilitas enggak tahu dan enggak paham kalau ternyata ada olahraga panjat tebing untuk kita,” terang dia.

Tidak putus asa. Sabar yang sudah ada di lokasi ikut dalam pertandingan melawan atlet yang tidak berkebutuhan khusus. Meski  tidak masuk dalam urutan tercepat, tapi perjuangan Sabar membuahkah hasil. Setidaknya, memupuk kepercayaan diri.

Modal itu dia manfaatkan baik-baik. Dia lantas mencoba peruntungan dengan bertanding ke Korea Selatan dalam pertandingan wall climbing Asia di Chuncheon, Korea Selatan pada 2009. Benar saja, medali emas berhasil diraih.   

“Ini yang membanggakan. Selain dapat medali emas, dan bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya,” kata Sabar.

Dari situ, Sabar mulai menemukan intuisi dalam dunia ketinggian. Bermula dari olahraga, kini Sabar mulai membuka usaha pada bidang ketinggian. Dari usaha maintenence gedung-gedung perkantoran, hingga membuka usaha mancakrida (outbond).   
 

Bukan untuk dikasihani

Terlepas dari segudang prestasi yang diraih, Sabar masih menyayangkan perspektif masyarakat dalam memandang penyandang disabilitas. Selain dipandang sebelah mata, masyarakat di Indonesia dinilai seringkali “mengasihani” dirinya.

Misalnya, saat pertama kali mencoba bangkit dari keterpurukan, pihak keluarga pernah melarang Dia untuk melakukan olahraga bersepeda. Pula, ditemuinya ketika menjalani kehidupan keseharian.

Menurut Sabar, orang dengan kebutuhan khusus hanya membutuhkan hak serta akses yang sama pada setiap orang. Dengan begitu rasa kesetaraan akan muncul.

“Bukan dengan memperlakukan seolah-olah kita anak kecil,” ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan Pejuang hak perempuan Sinta Nuriyah Wahid. Dia mengatakan, penyandang disabilitas tidak perlu dikasihani tapi diberikan hak-haknya agar bisa mandiri.

"Orang disabilitas itu bukan orang yang harus dikasihani, mereka tidak minta dikasihani tapi diberikan fasilitas yang memudahkan mereka berbuat sesuatu," kata istri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid tersebut, di sebuah diskusi tentang penyandang disabilitas yang digelar Australian Volunteers International (AVI), Jakarta, 4 September 2016.



Pejuang Hak Perempuan Sinta Nuriyah Wahid (MI/BRONTO)


Dia mengatakan, penyandang disabilitas sebenarnya punya potensi yang sama dengan orang lain, namun karena tidak difasilitasi maka potensi tersebut sulit dikembangkan. Untuk itu, dia mendorong pemerintah agar memenuhi kewajibannya sebagaimana amanat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.

UU tersebut, menurut dia, sudah memenuhi kebutuhan para penyandang disabilitas. Meski begitu, Dia mengimbau agar implementasi undang-undang tersebut harus sesuai dengan yang dicanangkan.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang PS Brodjonegoro menegaskan, penyetaraan terhadap disabilitas harus diterapkan melalui pembangunan infrastruktur di daerah. Dia ingin setiap kota menerapkan konsep liveable city.

Lebih lanjut Bambang menjelaskan, kota yang nyaman ditinggali haruslah memberikan kemudahan akses bagi para seluruh penduduknya. “Kami ingin kota-kota di Indonesia jadi yang namanya liveable city (kota yang nyaman didiami),” kata Bambang di Jakarta, Oktober 2017.



Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro menghadiri acara seminar Low Carbon Development and Green Economy di Hotel Inaya Putri, Nusa Dua, Bali, Kamis (ANTARA/Afriadi Hikmal).


Tidak cuma itu, Bambang juga meminta kesetaraan perlakuan kerja bagi para disabilitas. Menurutnya, hal ini sejalan dengan tujuan butir delapan yang tertuang dalam Sustainable Goal Development (SDG) untuk meningkatkan pembangunan berkelanjutan.

Bambang juga mengaku masih menemukan banyaknya penyandang disabilitas yang mengalami perlakuan diskriminatif dalam mencari pekerjaan. Hal ini dikhawatirkan meningkatkan jumlah pengangguran.

Sejalan, hasil temuan International Labor Organisation (ILO) menyebut bahwa tingkat pengangguran penyandang disabilitas lebih tinggi dua hingga tiga kali dibandingkan dengan penduduk nondisabilitas.

“Penyandang disabilitas masih diperlakukan diskiriminatif. Mereka susah mendapatkan kerja,” pungkasnya.

 



(WAN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id