Eksistensi Tanpa Suara

Dhaifurrakhman Abas 12 Oktober 2018 22:58 WIB
Mendobrak Batas Disabilitas
Eksistensi Tanpa Suara
Deaf Cafe Finger Talk yang terletak di Jalan Cinere Raya No. 26-29, Depok, Jawa Barat, mempekerjakan tunarungu. (Dhaifurrakhman Abas)
ADA yang menarik dari Deaf Cafe Finger Talk yang terletak di Jalan Cinere Raya No. 26-29, Depok, Jawa Barat. Untuk memesan menu makanan dan minuman, pelanggan mesti menggunakan bahasa isyarat.

Seluruh pramusaji dan karyawannya pun merupakan penyandang tunarungu. Menjadikan tempat ini semakin istimewa.

Usut punya usut, pembangunan kafe ini dicanangkan oleh Dissa Syakina Ahdanisa. Seorang perempuan yang memiliki semangat untuk membantu memenuhi hak tunarungu di bidang pekerjaan.

Deaf Cafe Fingertalk sebetulnya lebih dahulu eksis di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan sejak Mei 2015. Sementara cafe yang terletak di Cinere merupakan perpanjangan tangan dari usaha di Pamulang yang mendapatkan respons positif dari masyarakat.

"Alhamdulillah, karena respons masyarakatnya positif dan antusias lalu membuka cabang di sini,” kata Bartender Deaf Cafe Finger Talk, Armansyah Andriana, kepada Medcom Files, Kamis 4 Oktober 2018.



Deaf Cafe Finger Talk di Jalan Cinere Raya No. 26-29, Depok, Jawa Barat. (Dhaifurrakhman Abas)



Tak hanya cafe, di lokasi ini juga menyediakan beberapa fasilitas lainnya. Yaitu tempat pencucian kendaraan bermotor dan kedai kopi. Seperti halnya kafe Fingertalk, seluruh pekerjanya merupakan penyandang tunarungu.

Meski begitu, pelanggan yang tak pandai bahasa isyarat tidak perlu khawatir jika ingin memesan makanan atau menggunakan fasilitas di sini. Sebab, berbagai rangkaian poster berbentuk kode isyarat di tempel di dinding-dinding kafe akan membantu berkomunikasi.

Para pekerja di sini cepat dan tanggap membantu pelanggan yang kebingungan. Mereka akan menyediakan pena dan kertas untuk saling berkomunikasi lewat tulisan.

“Tidak masalah, kita sama-sama belajar,” ujar Armansyah menggunakan bahasa isyarat.  



Bartender Deaf Cafe Finger Talk, Armansyah Andriana, di Jalan Cinere Raya No. 26-29 (Dhaifurrakhman Abas)

 

Ide awal

Ide mencetuskan kafe ini bermula pada 2013, saat sang pelopor, Dissa, menjadi relawan di Nikaragua. Di sana, Dissa menjadi pembimbing anak-anak agar bisa fasih berbahasa inggris. Selain itu, dia juga menjadi relawan untuk membantu warga lokal yang tidak mampu.

Suatu ketika usai melaksanakan kegiatan kesehariannya, Dissa berkunjung ke sebuah kafe bernama Café de las Sonrisas di kawasan Granada. Di dalam kafe itu Dissa menyadari ada sesuatu yang terlihat unik.

Mulanya, Dissa memperhatikan seorang pelayan di Café de las Sonrisas memberikan kartu khusus kepada pelanggan sebagai ucapan selamat menyantap hidangan. Tidak seperti tempat makan yang biasanya disampaikan langsung oleh pramusaji.

Lamat-lamat Dissa menyadari. Semua pramusaji dan juru masak yang bekerja di sana merupakan tunarungu. Dari situ ide untuk mendirikan Deaf Cafe Finger Talk mulai menemukan harapan. Hitung-hitung, bisa dijadikan sarana berkumpul bagi penyandang tuna rungu di Indonesia.

“Mungkin kalau saya buat kafe semacam itu di Indonesia akan bagus,” pikir Dissa.

Namun, saat itu Dissa tidak memiliki cukup modal. Lantas Dissa mencoba peruntungan lain. Bagai mendapat durian runtuh. Selang beberapa waktu, Dissa mendapat pekerjaan di Singapura. Duit dari pekerjaan itu lantas disisihkan untuk mengejar angan membuka kafe seperti di Nikaragua.
 

Banjir dukungan

Suatu hari, ketika musim mudik tiba, Dissa bertemu dengan kawan lamanya, Pat Sulistyowati. Kebetulan Pat pernah menjabat Ketua Gerakan Kesejahteraan Tunarungu Indonesia. Mereka mulai berbincang terkait rencana membangun Deaf Cafe Fingertalk.

Dari perbincangan itu, Dissa mulai menemukan titik cerah. Dia mulai membulatkan tekadnya untuk membangun kafe yang diinginkan. Apalagi, kawan lamanya itu mendukung penuh rencana Dissa.

“Bu Pat mendukung. Sebuah bangunan miliknya di Pamulang diberikan untuk tempat (mendirikan) kafe. sekaligus membantu saya mencari pegawai,” ujar Dissa.

Pekerjaan di negeri Singapura tak lantas ditinggal. Sambil mengumpulkan modal, Dissa melakukan berbagai persiapan, salah satunya belajar bahasa isyarat supaya komunikasi berjalan lancar.

Perjuangan Dissa terbayar. Pada Mei 2015 Deaf Cafe Fingertalk resmi berdiri di Pamulang, Tangerang. Awalnya, Dissa berhasil menggandeng 5 pegawai tunarungu untuk bekerja sebagai koki dan pramusaji.

Setahun kemudian, perkembangan Deaf Cafe Fingertalk meroket. Buktinya, Dissa membuka cabang baru di Cinere, Depok, pada 2016. Dari sini, Dissa membulatkan hati untuk meninggalkan pekerjaannya di Singapura.

“Saya harus membantu teman-teman tunarungu bertahan, membantu mereka belajar, dan memunculkan ide-ide kreatif dalam diri mereka untuk membuat sesuatu yang baru,” tegas Dissa.



Deaf Cafe Finger Talk juga menyediakan tempat pencucian kendaraan bermotor dan kedai kopi. (Dhaifurrakhman Abas).

 

Yang tak diperhatikan

Meski banjir dukungan, tapi Dissa tak menampik banyak orang dekatnya yang terheran-heran. Apalagi ketika Dissa rela meninggalkan pekerjaan di Singapura yang menawarkan gaji serta karir yang baik. Menurut Dissa, semua itu dilakukan mengingat kesempatan kerja untuk penyandang disabilitas masih terbatas.

“Sebagai anak muda saya ingin membuat sesuatu untuk masyarakat yang kurang diperhatikan, salah satunya para tunarungu,” tegas Dissa.

Padahal pemerintah sudah menerapkan UU No.4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat. Dalam hal ini, pemerintah mewajibkan penyedia kerja memberikan kuota satu persen bagi difabel sebagai bagian dari tenaga kerja.

Regulasi itu diperkuat melalui UU Penyandang Disabilitas yang disahkan pada 2016 yang mewajibkan Badan Usaha Milik Negara mempekerjakan difabel paling sedikit 2 persen dari jumlah pekerjanya.

Rubby Emir, CEO Kerjabilitas (sebuah situs pencari lowongan pekerjaan bagi difabel yang berbasis di Yogyakarta) berpendapat serupa. Kata Ruby, ribuan penyandang disabilitas yang mencari pekerjaan melalui situs Kerjabilitas masih belum mendapatkan pekerjaan alias menganggur.

Banyak hal yang melatarbelakanginya. Salah-satunya berkaitan dengan ketidaktahuan perusahaan tentang aturan yang mewajibkan kuota untuk mempekerjakan penyandang disabilitas.

“Persentase tingkat kesadaran perusahaan terhadap aturan undang-undang (kewajiban mempekerjakan difabel) kecil banget. Mungkin kurang dari lima persen,” ungkap Rubby.

Maka mau tak mau tim Rubby harus mengambil fungsi advokasi. Pihaknya lantas memberi informasi bahwa kelompok difabel bisa melakukan pekerjaan yang ditawarkan sembari mendorong perusahaan untuk membuka lowongan tersebut bagi difabel pencari kerja.

“Setiap hari tim akan menghubungi perusahaan-perusahaan yang sedang membuka lowongan. (Kami) akan menanyakan atau mencocokkan, apakah lowongan tersebut bisa menerima pekerja difabel. Jika iya, informasi dicantumkan di situs Kerjabilitas,” katanya.
 

Diskriminasi akses

Sosiolog Universitas Gajah Mada, Sunyoto Usman mengatakan perusahaan yang melakukan pelanggaran terhadap peraturan tersebut sama saja membentuk diskriminasi. Hanya karena memiliki keterbatasan fisik, bukan berarti perusahaan boleh memandang kemampuan orang tersebut dengan sebelah mata.

“Setiap orang memiliki kapasitas, jangan dimatikan kapasitas itu,” kata Sunyoto saat dihubungi Medcom Files, Rabu 10 Oktober 2018.

Menurut Sunyoto, perusahaan justru seharusnya membantu memberikan akses-akses terhadap disabilitas melalui kuota pekerjaan. Setidaknya dengan begitu, perusahaan bisa  membantu mengembangkan potensi serta meningkatkan citra diri disabilitas yang selama ini dipandang sebelah mata.

“Justru dikembangkan. Bukan hanya bermanfaat untuk diri orang itu sendiri, tapi juga untuk orang lain,” lanjut dia.


Sosiolog Universitas Gajah Mada, Sunyoto Usman (UGM.AC.ID)


Masyarakat juga tak boleh tinggal diam. Dalam memandang penyandang disabilitas, sesuatu yang berbeda bukan berarti  aneh, apalagi dianggap remeh. Seharusnya masyarakat melihat penyandang disabilitas sebagai bentuk keragaman, bukan dijadikan golongan yang berbeda.

Sebab ini menyangkut pembentukan identitas seseorang. Jika identitas secara sosial dibangun dalam interaksi yang negatif, maka ada kemungkinan membentuk pribadi yang negatif pula. Sebab dalam kehidupan sehari-hari, tentunya setiap orang ingin dipandang berdasarkan apa yang diharapkan dan bagaimana orang tersebut ingin dirasakan.

“Maka supaya tidak terjadi gap, proteksi sosial harus rata dan juga harus adil,” katanya.

Maka dari itu, Perjuangan Dissa mendirikan Deaf Cafe Fingertalk sebagai bentuk pemenuhan hak-hak disabilitas patut mendapat apresiasi luar biasa. Termasuk dari presiden Amerika saat itu, Barrack Obama yang tengah berpidato konferensi Inisiatif Pemimpin Muda Asia Tenggara.

“(Obama) mengajak dua peserta naik ke panggung, salah satunya saya. Dia mengatakan anak-anak muda harus membuat inovasi dan gagasan besar untuk orang lain. Beliau juga,” kenang Dissa bahagia.

Dari sini bisa dibuktikan bahwa kemampuan setiap orang tidak boleh dipandang sebelah mata. Toh usaha yang dijalankan Dissa terus meroket. Setiap bulannya, omzet  Deaf Cafe Fingertalk bisa mencapai Rp20 juta. Sedangkan tempat cuci motor-mobilnya bisa mencapai Rp25 - Rp30 juta.
 
Alhamdulillah gaji kita kasih UMR dan untuk teman tuli dari daerah kita sediakan tempat tinggal dan makanan,” pungkas Dissa.

 

(WAN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id