Kemudahan memang dirasakan oleh para orang-orang yang awam terkait dunia seni, karena mereka bisa menghasilkan sebuah karya dengan instan tanpa harus bersusah-payah mengumpulkan ide dan keterampilan dalam setiap goresan tinta pada medium yang digunakan. Mereka yang awam hanya tinggal menuliskan kata atau kalimat sebagai prompt pada kolom yang sudah disediakan, dan menekan tombol ‘Enter’, sehingga karya dengan cepat sudah selesai.
| Baca Juga: AI, Teknologi yang Perlu Regulasi Komprehensif |
Sedangkan untuk para seniman profesional, terdapat berbagai tahapan untuk membuat karya tertentu. Dalam proses produksi karya juga memakan waktu yang cukup lama, sehingga ini menjadi sebuah perdebatan yang disuarakan oleh para seniman terkait munculnya teknologi AI.
Vedran Morelio, seniman muda asal Indonesia ini juga merasakan dampak dari hadirnya AI dalam dunia seni, mengingat dirinya sudah berkecimpung dalam dunia seni sejak duduk dalam bangku Sekolah Dasar (SD), dan tepat pada usia tersebut Vedran sudah mulai menekuni hobinya dalam melukis atau menggambar.
Walau usianya masih 22 tahun, pengalaman Vedran memang sudah cukup banyak, karena ia sudah berhasil mengikuti berbagai perlombaan gambar atau lukis, dan berpartisipasi dalam berbagai pameran. Salah satu yang cukup berkesan bagi seorang Vedran Morelio adalah dirinya sempat menjadi seorang narasumber di acara Citra Pariwara. Kemudian, Vedran juga sempat menjadi artist pada gelaran acara Comic-Con Indonesia sebagai bagian dari Tokome.id.
Namun, Vedran justru melihat hadirnya AI dalam dunia seni ini menjadi sebuah fenomena yang cukup menarik. Pandangan ini justru sangat berbeda jika dibandingkan dengan seniman-seniman yang memang menolak AI untuk masuk ke ekosistem seni. Vedran mengungkapkan bahwa teknologi AI dalam bidang Art cukup menarik karena dengan waktu yang singkat mampu menghadirkan berbagai jenis karya lukis atau digital art yang memang menghadirkan nilai estetika yang maksimal.
“Kalau saya sendiri lihat AI ini menjadi salah satu yang menarik. Kenapa? Karena dalam waktu yang singkat bisa nge-produce berbagai macam artwork, dan pastinya perkembangan AI dalam dunia art ini juga cepat, sehingga bisa menghadirkan sebuah karya yang tidak blenyek-blenyek doang, tetapi jadi satu kesatuan, jadi objek, lah,” jelas Vedran terkait pandangannya dalam teknologi AI yang memang sudah merambat masuk ke ekosistem seni.
| Baca Juga: Mengenal Cara Sistem AI Generatif dalam Pembuatan Gambar |
Masuknya AI bisa menghadirkan berbagai macam perspektif. Bahkan, setiap seniman memang memiliki sudut pandang yang berbeda. Untuk Vedran? Teknologi AI adalah sebuah teknologi yang cukup menarik dan pastinya menjadi sebuah teknologi yang mempunyai laju perkembangan yang cepat.
Pastinya jika melihat dari segi durasi karya konvensional akan tergolong jauh lebih lama jika dibandingkan dengan karya yang dibuat oleh AI. Seperti yang sudah dijelaskan oleh Vedran, AI sendiri memang mampu menciptakan gambar dengan sangat singkat, sedangkan dirinya memang wajib untuk melakukan persiapan yang jauh lebih banyak dibanding melakukan penulisan prompt. Jadi, bisa disimpulkan dari segi waktu memang dalam membuat karya konvensional memerlukan lebih banyak waktu dan pastinya energi untuk menciptakan sebuah karya tertentu.
Kemudian, Vedran juga mengatakan bahwa sebaiknya jangan ditolak mentah-mentah, karena ini merupakan teknologi, dan mau bagaimana-pun teknologi akan terus berkemmbang dan bisa menjadi alat bantu yang bermanfaat buat diri sendiri. Kemudian, dirinya memang merasa takjub dengan teknologi ini, dan sama sekali tidak menyuarakan bahwa AI merupakan teknologi yang mematikan.
“Kalau menurut saya, nolak perkembangan teknologi justru malah bikin ketinggalan. Contoh singkatnya, lu bisa minta bantu AI dalam bikin Storyboard, karena memang untuk bikin storyboard sendiri juga gak mudah, bahkan pengeluaran biaya untuk hire orang dan nunggu juga sampai dia kelar gambar, belum lagi harus revisi. Nah, masuknya AI lu bisa dapat banyak alternatif untuk bikin satu adegan doang, udah gitu lu juga bisa bikin itu dalam jangka waktu yang cepat, bahkan sudah diwarnai sama si AI,” tutup Vedran terkait orang yang memang menolak perkembangan AI.
Sementara itu, pada dunia Visual Effect yang juga menghadirkan campuran antara karya lukis atau gambar dan jua pengambilan video juga terkena imbas atau dampak dari perkembangan AI di dunia, terkhusus di Indonesia.
Bahkan, jika dengan menggunakan AI terdapat beberapa elemen editing menjadi lebih praktis dibanding biasanya. Bahkan, hadirnya AI sendiri pada akhirnya mampu merubah sistem kerja para seniman atau para kreator. Bani Adil, seorang pemuda yang juga sudah lama terjun ke dunia video editing dan seni, yakni pada saat dirinya duduk di bangku SMP.
Merasakan video editing dengan cara konvensional, hingga masuknya teknologi baru seperti AI. Bani sendiri juga mengaku sudah menggeluti dan belajar semua aspek yang ada dalam dunia Visual Effect dan seni digital cukup lama, dan perlu bertahun-tahun untuk mencapai apa yang sudah dicapai sampai saat ini.
Masuknya AI juga turut menarik perhatian Bani, dan dirinya juga berpendapat bahwa teknologi baru ini merupakan sebuah teknologi yang cukup menarik. Ia juga mengatakan bahwa teknologi ini cukup mampu menghadirkan sebuah kepraktisan yang memang dicari. Maka dari itu, bisa dikatakan karya yang dihasilkan belakangan ini juga cukup terbantu dengan adanya AI, walau tidak 100% karya yang dihasilkan itu menggunakan teknologi AI.
| Baca Juga: Mengenal Soft Regulation Kominfo untuk Pengembangan AI di Indonesia |
“Jujur, aku emang sudah cukup lama belajar video editing atau visual effect cukup lama, dan pastinya perlu beberapa keterampilan gambar untuk menciptakan karya atau effect yang maksimal. Kebetulan aku termasuk orang yang tidak terlalu bisa gambar, sehingga dengan bantuan AI bisa membantu sedikit karya yang aku buat,” jelas Bani Adil, Seniman Visual Effect.
“Terkhusus pada struktur muka, aku bisa bikin struktur muka jadi lebih berkharisma layaknya karakter di anime, dulu aku cukup kesulitan untuk buat struktur muka jadi lebih maksimal. Namun, dengan adanya AI, maka teknologi itu bisa cukup membantu aku,” lanjutnya terkait penggunaan AI dalam pembuatan karyanya.
Walau dirinya menghasilkan karya sebagian besar tidak menggunakan AI, hanya saja sentuhan sedikit dari teknologi AI mampu membuat karya yang diciptakan oleh Bani bisa menjadi lebih maksimal, dan sesuai dengan ekspektasi yang diinginkan. Maka dari itu, hadirnya AI memang cukup membantu Bani dalam membuat karya, terkhusus pada sisi struktur muka.
Dalam penggunaan AI yang digunakan Bani adalah Stable Diffusion. Secara singkat, teknologi tersebut juga memerlukan kemampuan Bani dalam mendeskripsikan sesuatu, sehingga hasil yang dibuat tidak terlalu ‘blenyek’ dan masih tergolong natural. Maka dari itu, AI mampu hadir sebagai teknologi yang membantu dalam membuat karya, dan itu menjadi sebuah sudut pandang Bani terkait masuknya AI di dunia seni.
Bani sendiri memandang bahwa teknologi AI ini masih tergolong teknologi baru, dan masih tergolong teknologi Grey Area. Secara singkat, Grey Area merupakan sebuah hal baru yang masih mengundang banyak polemik dan kontroversi, sehingga banyak orang yang mendukung dan juga banyak orang yang menentang.
“Sebenarnya teknologi ini masih tergolong salah satu teknologi yang memiliki Grey Area yang sangat besar, sehingga banyak orang yang mendukung dan juga yang tidak mendukung. Ada satu sisi di mana ada platform yang banyak membagikan banyak konten AI, aku lihat komentar netizen itu sangat positif, tetapi ada juga satu platform yang di mana kreator membagikan karya AI tapi karya tersebut malah diserang, dihujat dan segala macam,” ungkap Bani terkait penerapan AI dalam dunia karya
“Namun, di sini kan aku sebagai pengguna, jadi aku ikutin pasar aja. Aku juga mau tegaskan bahwa kita juga harus belajar juga, karena memang ini teknologi baru, sehingga sangat disarankan untuk belajar dan memahami terlebih dahulu,” lanjut Bani.
Kemudian, Vedran juga mengatakan bahwa sebaiknya jangan ditolak mentah-mentah, karena ini merupakan teknologi, dan mau bagaimana-pun teknologi akan terus berkemmbang dan bisa menjadi alat bantu yang bermanfaat buat diri sendiri. Kemudian, dirinya memang merasa takjub dengan teknologi ini, dan sama sekali tidak menyuarakan bahwa AI merupakan teknologi yang mematikan.
“Aku ngerti banget, karena memang ada banyak seniman idealis yang sudah belajar sangat lama dalam menekuni bidang ini, dan tiba-tiba ada teknologi yang bisa buat orang gak bisa gambar malah bisa gambar. Tapi, gak menutup kemungkinan untuk belajar dan cari tau dulu sebelum tolak, karena dengan tau dulu dan memahami sedikit aja, pasti wawasan bisa semakin luas dan juga punya perspektif baru terkait AI,” tutup Bani. (Christopher Louis)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News