Ilustrasi AI
Ilustrasi AI

Mengenal Cara Sistem AI Generatif dalam Pembuatan Gambar

Medcom • 31 Mei 2024 16:07
Jakarta: Secara mendasar, teknologi kecerdasan buatan ini diciptakan untuk memudahkan para penggunannya. Bahkan, secara natural komputer ini memang akan selalu mengarah ke teknologi AI, sehingga nantinya semua komputer  akan ditenagai oleh kekuatan Artificial Intelligence.
 
Alan Turing sebagai orang yang pertama kali menciptakan sistem komputer mempunyai tujuan untuk menciptakan sebuah mesin yang cerdas. Pertama Alan membuat sistem komputer, awalnya sistemnya masih sangat sama seperti teknologi kalkulator, sehingga mesin tersebut hanya bisa berfungsi sebagai alat untuk melakukan validasi saja.
 
Kemudian, untuk AI yang modern seperti sekarang ini merupakan sebuah teknologi yang selalu mengikuti beberapa arus atau fase yang sudah ditetapkan oleh penciptanya. AI sendiri akan selalu mendapatkan fase atau proses Learning, jika sistem Learning tidak ada, maka teknologi tersebut tidak bisa disebut sebagai AI.

“AI modern seperti sekarang ini adalah sebuah teknologi yang selalu mengikuti proses yang dinamakan Learning, kalau tidak ada sistem Learning, maka tidak bisa disebut sebagai Artificial Intelligence. Secara singkat, Learning itu dasarnya muncul dari Neural Network. Jadi, sistem yang tidak menggunakan Neural Network maka sistem tersebut tidak bisa disebut sebagai sistem atau teknologi AI,” jelas Riandanu Madi Utomo, Country Technical Public Relation Asus Indonesia.
 
Baca Juga: AI, Teknologi yang Perlu Regulasi Komprehensif
 
Salah satu alasan adanya AI adalah karena kebutuhan komputasi manusia memang membutuhkan asisten mesin yang lebih cerdas, sehingga komputasi yang memang digunakan bisa membantu para penggunanya melalui hadirnya teknologi AI.
 
“Pada dasarnya komputer atau komputasi kita memerlukan asisten mesin yang lebih cerdas, alasannya adalah agar bisa membantu kebutuhan para penggunanya sehari-hari secara lebih baik, ya, karena sifat dasar manusia itu greedy, sehingga kita ingin kehidupan menjadi lebih mudah,” jelas Riandanu mengenai alasan AI diciptakan di dunia.
 
Riandanu juga mengeaskan bawha sebagian besar orang di dunia ini memang sudah memanfaatkan teknologi AI. Sederhananya adalah AI sendiri sudah cukup lama ada, dan salah satu yang sering ditemukan adalah pada kamera smartphone.
 
Memang pada dasarnya kamera dari smartphone yang digunakan memang sudah menerapkan teknologi AI. salah satu fiturnya adalah image recognition, fitur tersebut akan memudahkan kamu untuk mengetahui objek yang ada dalam foto tersebut.
 
Sebagai contoh, biasanya kamera smartphone akan mengelompokkan beberapa foto yang berkaitan seperti foto di pantai, foto hewan, foto saat berada di pesta. Maka dari itu, hadirnya AI dalam kamera smartphone memang akan lebih mudah agar pengguna menemukan beberapa foto yang dicari.
 
Namun, bagaimana dalam dunia seni? Dalam dunia seni yang sudah terlambat pada teknologi AI sendiri memang sudah tidak dipungkiri bahwa Stable Diffusion dan MidJourney menjadi dua jawara yang cukup sering diandalkan oleh para pengguna. Riandanu juga memaparkan beberapa alasannya mengapa Stable Diffusion merupakan sebuah software AI yang sering digunakan adalah karena Stable Diffusion merupakan produk AI yang cukup praktis.
 
Sebenarnya dalam Stable Diffusion sendiri memudahkan dalam berkomunikasi. Contoh, gua merupakan seorang fotografer yang hobi untuk motret cosplayer, sehingga gw bisa generate puluhan hingga ratusan gambar sebelum event dimulai, dan beberapa pose yang gua buat dari Stable Diffusion untuk memudahkan dalam mengarahkan model untuk berpose,” jelas Riandanu.
 
Jadi, secara singkat Stable Diffusion ini hadir untuk memudahkan pengguna dalam menghasilkan gambar dengan cara yang instan. Itu menjadi salah satu alasan mengapa gambar AI menimbulkan beberapa konflik, dan pastinya para seniman yang menyuarakan bahwa gambar AI bukan merupakan sebuah seni.
 
Namun, sebuah istilah bernama Prompting muncul agar bisa menciptakan sebuah gambar yang didasarkan dari sebuah teks. Maka dari itu, pengguna cukup mengetik sebuah kalimat yang bersifat deskriptif, dan kemudian secara hitungan menit maupun detik gambar yang kita inginkan bisa tercipta.
 
Riandanu sendiri menjelaskan mengapa Prompting ini bisa menciptakan sebuah gambar secara instan. Ia mengatakan bahwa proses Training yang sudah dijelaskan muncul dan menjadi sebuah elemen utama mengapa pengguna bisa menciptakan gambar melalui prompting based.
 
Baca Juga: Penerapan AI dalam Ranah Pendidikan di Indonesia
 
“Pertama adanya proses training terdapat sebuah algoritma khusus, dan algoritma yang ada dalam proses ini bermacam-macam.  Pada proses training algoritma akan mencari secara cerdas mengenai gambar yang dipilih, misalnya Naruto, maka proses Training akan mencari semua gambar yang berkaitan dengan Naruto,” ucap Riandanu.
 
“Kemudian, secara cerdas teknologi atau algoritma ini bisa mendeteksi warna rambut dari Naruto, baju yang digunakan, warna baju yang digunakan, dan lain-lain. Setelah itu, ada proses yang dinamakan sebagai Inference. Pada proses kedua ini, biasanya AI akan melakukan tindakan generated pada gambar yang diminta, sehingga AI ini mampu menggambarkan Naruto dalam beberapa pose.
 
Sebagai pengguna bisa melakukan training dengan menampilkan beberapa gambar yang berkaitan dengan aktivitas yang diinginkan oleh objek gambar. Pada proses tersebut biasanya dinamakan sebagai Checkpoints, kemudian pada data yang masuk dalam checkpoint biasanya beberapa data gambar yang mendukung agar pada data checkpoint bisa menangkap hasil gambar yang maksimal, biasanya disebut sebagai Lora,” lanjutnya.
 
Secara singkat, Lora yang dimaksud adalah sebuah plug in yang memungkinkan para pengguna untuk menambahkan sebuah data dalam menciptakan sebuah gambar. Pada hasil data yang masuk ke Checkpoint dan data yang dimasukkan oleh Lora ini akan masuk ke proses Training dan secara instan masuk ke proses Inference. Kemudian, terdapat running data berdasarkan Lora dan Checkpoints tersebut, kemudian gambar akan tercipta selama beberapa menit atau bahkan detik.
 
Kemudian, secara singkat prompt tersebut adalah sebuah teks, sehingga komputer tidak hanya men-generate image, melainkan men-generate teks. Jadi, teknologi AI yang digunakan akan melakukan sebuah proses recognition, sehingga bisa memahami makna dari teks yang ditulis oleh pengguna. (Christopher Louis)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA