(Foto: Kontributor Metrotvnews.com/ Pythag Kurniati)
(Foto: Kontributor Metrotvnews.com/ Pythag Kurniati)

Roti Kecik, Simbol Harmoni Budaya Jawa-Tionghoa

Rona kuliner
Pythag Kurniati • 08 Februari 2016 18:29
medcom.id, Solo: Pada zaman raja kasunanan Surakarta, Paku Buwono X, ada sebuah makanan yang menjadi camilan para bangsawan Jawa. Pembuatnya, adalah seorang keturunan Tionghoa bernama Auw Liek Nio. 
Roti kecik, demikian tersebut dikenal. Makanan tersebut kini telah berusia  135 tahun. 
 
Oh Lioe Nio atau yang akrab disapa Oeke, merupakan generasi kelima pembuat roti kecik. Dia menjelaskan, nama roti kecik diambil dari kata sawo kecik. 
 
“Pada masa itu, Auw Liek Nio yang menjadi generasi pertama memang sudah kerap keluar masuk keraton Solo. Di sana ada pohon yang disebut pohon sawo kecik. Buahnya kecil, bulat dan mengilap sama seperti bentuk roti yang ia buat. Dari situ,  kemudian dia beri nama roti kecik,” kisah Oeke saat ditemui di toko rotinya, Senin (08/07/2016).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Awalnya roti kecik berbentuk bulat menyerupai buah sawo kecik. Namun, seiring berkembang waktu, bentuk roti ini lama kelamaan menyerupai jari. 
 
Roti kecik dibuat sejak 1881. Hingga kini, Oeke terus mempertahankan resep original  tanpa menggunakan bahan campuran tambahan. 
 
“Kami menggunakan beras ketan dan mempertahankan bahan yang telah lama dipakai oleh generasi pertama,” kata dia.
 
Paku Buwono X sangat menggemari roti kecik sebagai camilan. Hidangan ini kerap disajikan sebagai jamuan pertemuan bangsawan pada masa itu. Saking sukanya pada roti buatannya, Paku Buwono X secara langsung memberi julukan  ‘Nyah Ganep’ kepada Auw Liek Nio.
 
“Diberi julukan ‘Nyah Ganep’ karena jumlah anak Auw Like Nio genap. Dalam bahasa Jawa, ganep diartikan sebagai waras, utuh,” tambah Oeke. 
 
Oeke memiliki setidaknya 90 karyawan yang setiap harinya meneruskan pembuatan roti kecik Auw Liek Nio, di Jalan Sutan Syahrir 176 Tambaksegaran, Banjarsari, Solo.
 
Salah seorang kerabat keraton Solo, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Puger turut membenarkan, roti kecik seringkali digunakan sebagi sajian pada pertemuan-pertemuan bangsawan. 
 
“Raja, bagaimanapun juga harus bersikap halus dan sopan, termasuk saat di meja makan. Ukuran roti yang kecil memudahkan raja untuk makan dengan halus tanpa harus banyak gerakan,” terang KGPH Puger.
 
Puger menambahkan, toleransi antar etnis memang telah terasa sejak zaman dahulu. “Bahkan, ketika rapat membahas mengenai nagari Surakarta semua perwakilan (etnis) bisa berkumpul, sangat rukun,” kata dia. 
 
Rasa roti kecik yang manis mewakili manisnya kerukunan kebudayaan Jawa dan Tionghoa. Roti kecik juga berhasil menjadi saksi bisu diplomasi dua etnis pada masa lampau
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

(DEV)


social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif