Mamong berasal dari bahasa Madura, artinya ‘bingung’. Disebut bingung karena nasi bakar mamong adalah nasi yang dicampur-campur bahan lain di dalamnya, seperti daun singkong, teri, ayam dengan rempah kemangi, daun salam, sereh dan daun jeruk. Rasanya gurih, butir nasinya saling melekat.
Dua jam untuk membuat nasi bakar mamong ini. Sehari semalaman disimpan tidak masalah karena prosesnya panjang. “Kalau bikin pagi dikukus kemudian pagi dikukus lagi enggak apa-apa. Awet,” kata Rifka Jannatin, pemilik resto ODL yang menyediakan nasi bakar mamong.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Menurut Rifka, panganan ini berasal dari tradisi di pedesaan di mana orang yang mau berpergian jauh suka bawa bekal.
“Orang desa membuat nasi gulung. Itu nasi panas dianginkan sampai dingin dibungkus daun lalu dikukus lagi agak lama supaya awet dan bisa dibawa keluar kota. Bentuknya lonjong, digulung daun dan diikat pakai bambu tipis atau serat daun pisang,” kata Rifka.

Inspirasi membuat nasi mamong dari situ. Nasi yang diisi lauk. Isiannya tergantung selera. Bahkan pare juga bisa dipakai sebagai isian. Tetapi, ciri khasnya nasi bakar mamong ini memang pedas karena orang Bondowoso suka pedas.
“Kadang isiannya di sini pakai daun buncis, daun singkong. Ada yang isi pakai keong sesuai potensi kekayaan yang ada di daerah setempat. Menyesuaikan saja,“ imbuh perempuan berjilbab dan berkacamata ini. Di kedainya, Rifka menjual nasi bakar mamong Rp9 ribu per porsi.
Nasi bakar mamong sempat menyabet juara pertama lomba memasak makanan khas tingkat Jawa Timur pada 2014. Kebetulan Rifka yang menjadi wakil Bondowoso dalam ajang ini.Saat mampir di kedainya di ODL Resto & Cake di Jalan Santawi No11 Bondowoso, Rifka memperkenalkan juga minuman tradisional tapai ngambeng sebagai teman menyantap nasi mamong.
Minuman ini berbahan tapai matang, air gula dan air kapur. Menurut Rifka tapai ngambeng cukup legendaris di Bondowoso. Namun, setelah banyak jenis minuman masuk, minuman ini mulai tersingkir.
“Jadi tapai ngambeng akhirnya skarang ini ada di acara tertentu. Kalau dulu ada yang jual biasanya penjualnya sepuh. Yang jual biasanya sambil teriak teriak ‘tapai ngambeng tapai ngambeng’. Tetapi sekarang enggak ada lagi. Kalau di Bondowoso sekarang yang ada penjual yang mangkal.”
Tapai ngambeng sepertinya menggunakan tapai yang tidak terlalu manis, tidak seperti tapai dari Jawa Barat. Mulanya minuman ini biasa disajikan dingin, namun berkembang penyajiannya karena banyak tamu yang naik ke daerah atas yang udaranya dingin ingin menikmati suguhan yang panas, sehingga ditambah jahe. Tetapi ini hanya sesuai selera, karena tidak semua daerah menambahkan jahe. Bagaimana harganya? Cukup murah segelas tapai ngambeng hanya Rp5 ribu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(FIT)
