Koperasi Produsen Anugerah Bumi Hijau (Koprabuh) (Ilustrasi/Foto: Istimewa)
Koperasi Produsen Anugerah Bumi Hijau (Koprabuh) (Ilustrasi/Foto: Istimewa)

Disifektan Berbahan Baku Limbah Kayu

Rona disinfektan
K. Yudha Wirakusuma • 03 Juli 2020 19:06
Jakarta: Di masa kenormalan baru disinfektan menjadi salah satu barang yang wajib digunakan sehari-hari. Koperasi Produsen Anugerah Bumi Hijau (Koprabuh) memberi dukungan penuh kepada Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan (P3H2) untuk menciptakan formula disinfektan yang sangat ramah lingkungan.
 
Berupa asam kayu yang terbuat dari limbah kayu di hutan. Jadi ada manfaat ganda dari terobosan ini. Selain menghasilkan produk disinfektan yang sangat dibutuhkan guna memerangi Covid-19, juga menjaga kelestarian hutan lewat pemanfaatan limbahnya.  
 
Kepala Bidang Pengembangan Data dan Tindak Lanjut Penelitian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Adison mengatakan, produk tersebut telah diujicoba di salah satu laboratorium KLHK. 
 
“Ibu Menteri Siti Nurbaya sejak dulu mendorong agar bisa ditemukan produk alami seperti ini,” katanya. 
 
Sementara itu, pihak Koprabuh melalui CEO-nya, Johanes Walean, mengatakan pihaknya telah memprogramkan sosialisasi termasuk juga penyediaan 1.000.000 liter cairan disifektan alami ini untuk penyemprotan gratis di fasilitas-fasilitas publik.  
 
Beliau mengatakan, inilah salah satu terobosan membanggakan yang mampu dibuat anak negeri. Bukan hanya mampu mendukung kebutuhan kita pada persediaan disinfektan aman, tapi juga punya dampak manfaat ekonomi luar biasa pada masyarakat bawah.  
 
"Kita berharap karena diproduksi rakyat menambah penghasilan petani yang ada di daerah tinggal di dekat hutan," terangnya.
 
Program 1,000,000 liter disinfektan ini dibuat sebagai bentuk kepedulian pengusaha mengalahkan Covid?19, sambil memberi pekerjaan pada Petani pemilik lahan di lingkungan Kehutanan. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Ini menjadi bukti bahwa tekanan pandemi semestinya tidak lantas membuat kita pesimis. Justru situasi seperti inilah momentum untuk bertindak dan berpikir lebih kreatif. Kuncinya adalah tetap semangat,” kata Saleh Pattola, putra daerah Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulsel.
 
Sebagai sosok yang punya latar belakang militer, Saleh mengatakan bahwa dengan semangatlah Indonesia berkali-kali bisa bangkit dari situasi sulit. Pengalamannya yang selalu dipercaya untuk bertugas di wilayah-wilayah konflik membuktikan kalau kita memang bisa bertahan dan bangkit.  
 
Dari pengalamannya di militer maupun keterlibatannya di Koprabuh, Saleh setuju, salah satu faktor terpenting untuk bangkit adalah ekonomi rakyat harus tetap menggeliat. Rakyat yang terjamin secara ekonomi, tentunya juga akan tanpa berat hati mendukung bangkitnya negeri ini.  
 
“Dan, semua itu berawal dari desa, lingkungan terkecil dari suatu negara. Bagaimana caranya kita meningkatkan harkat kehidupan masyarakat desa melalui potensi-potensi lokalnya. Contohnya seperti pemanfaatan hutan-hutan yang dilakukan petani untuk produk disinfektan ini” katanya.
 
Saleh yang sebenarnya sudah cukup nyaman sebagai pengusaha nasional ini punya keresahan sendiri untuk kembali turun ke desa-desa, membuat pendampingan dan pelatihan bagi warga lokal. Salah satunya adalah yang dilakukan bersama Koprabuh ini, melalui pemanfaatan limbah hutan oleh petani setempat. Petani diajarkan dan didampingi cara memproduksinya, untuk kemudian dijual dan memiliki manfaat ekonomi guna menunjang kehidupan mereka.  
 
Penyediaan 1.000.000 liter disinfektan dan penyemprotan gratis yang dicanangkan Koprabuh, bukanlah sekadar program. 
 
“Bagi saya ini merupakan gerakan membangun desa, dengan memberdayakan masyarakat sekitar. Ini merupakan langkah nyata yang harus segera dilakukan di tengah situasi sulit seperti ini,” katanya.
 

 
(YDH)


social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif